SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Penyakit Lama


__ADS_3

...****************...


Sesampainya di rumah, Senja mendapati ibunya yang tengah menangis pilu. Sampai-sampai hiasan dan rambut yang biasanya rapi, kini terlihat sangat berantakan. Senja sedikit bingung melihatnya. Karena di sana ada Brigadir J yang tengah berdiri lesu, Senja pun mendekat.


"Kenapa dengan ibu, Om?" tanyanya.


"Entahlah, tanyakan sendiri pada ibumu," kata J tidak mau ikut campur. Sebenarnya sudah lama J mengetahui hubungan gelap antara Shela dan Boy. Tapi dia menutup mulutnya rapat.


"Ibu! Ibu kenapa?" Senja mendekati ibunya. Berjongkok di depan ibunya yang terduduk bersimpuh di lantai.


"Kamu!! Kamu pulang diantarkan om Boy kan?" tuding ibunya tiba-tiba.


Senja menelan ludahnya kepayahan. Ibunya telah menuduh dirinya. Senja memejamkan matanya sebentar, menarik nafas dalam guna memenangkan dirinya sesaat. "Iya, memang benar Bu. Tapi aku turun di tengah jalan," jawab Senja. Dia mengikuti instruksi yang Daren berikan tadi. Demi dia dan ibunya selamat.


"Bohong! Ibu akan cari tahu soal dirimu. Kalau kau ketahuan orang yang terakhir bersama om Boy, ibu tidak akan segan-segan menjebloskanmu ke penjara!" teriak Shela dan Senja menatap ibunya dengan tidak yakin. Matanya berkaca-kaca. Ibunya lebih perduli dengan orang ketimbang dirinya yang hampir saja jadi korban pemerkosaan oleh orang yang bernama Samboy itu.


'Apa benar kalau ibu punya hubungan spesial dengan om Boy? Kenapa dia sangat membenciku, padahal aku ingin dibela olehnya,' batin Senja meratapi nasibnya. Bahkan dia tidak bisa bercerita, kalau dirinya sudah bertemu dengan Daren. Juga tentang dirinya yang harus rela menjadi teman ranjang Daren demi nyawa ibunya.


"Persiapkan dirimu Senja, karena statusmu saat ini adalah sebagai saksi," ucap Brigadir J sambil menepuk pundak Senja.


Lalu J mendekat ke arah Shela. Dia membawa Shela keluar, untuk menyaksikan jasad Boy di rumah sakit. Karena jasad Boy sedang diotopsi guna mencari keakuratan tentang kematiannya.


Senja melihat kepergian ibunya dan brigadir J dengan tatapan penuh tanda tanya. "Sebenarnya orang seperti apa ibuku?" gumam Senja.


Senja heran, bahkan ibunya tak bertanya apapun tentang dirinya. Pakaian yang dikenakan Senja berbeda warna pun ibunya tak menanyakannya. Apa ibunya lupa dengan balas dendamnya dengan Daren hanya gara-gara kematian Boy?

__ADS_1


Semua pertanyaan itu hanya bersarang di kepala Senja tanpa tahu jawabannya. Sementara ini, Senja harus terjebak ke lembah hitam bersama Daren, musuhnya. Ini karena tidak ada pilihan lain. Ibunya saja tidak perduli, apalagi orang lain?


...****************...


Kasus pertama.


Sedari kematian Boy, televisi isinya berita mengenai kematiannya. Daren rasa itu tidak bermutu. Tapi Daren tidak ingin bertindak. Dia hanya ingin di sidang perdananya, Senja mampu melakukan apa yang ia katakan. Agar semua pengacaranya segera menutup kasus kematian Samboy tanpa bukti apapun. Cukup Senja kuncinya.


"Bos! Hari ini Senja ijin tidak masuk. Dia ada urusan di persidangan," kata salah seorang ajudannya Daren.


"Biarkan saja. Kita lihat seberapa hebatnya penguasa hukum dari kantor kita saat menangani kasus kematian Boy ini," ucap Daren sambil tersenyum miring. Asal uang, semua hukum di negeri ini bisa dibeli. Seperti lagunya Dayus Tambunan kala itu.


"Baik Bos. Oh iya, Miss Shasa sedang menunggu Anda!"


Daren langsung memutarkan kursinya dengan malas. "Bilang saja aku sibuk," ucap Daren sambil menyuruh pengawalnya pergi.


"Re, ikutlah di persidangan!" perintah Daren via chat telegram.


Daren seperti tengah berpikir. Tiba-tiba dia merasakan gelisah yang tak biasa. Candu akan bau anyir dan amis membuatnya ingin melakukan sesuatu.


Daren berdiri dari tempat duduknya. Dia berlari tergesa dan berdiri di depan lemari besar. Daren menekan sebuah tombol rahasia, dan ruangan pun berganti. Daren segera berlari dan duduk di sebuah ruangan itu. Sejak pulang dari London, Daren jadi seperti orang sayko. Dia tidak kecanduan dengan barang haram yang ia perdagangkan. Melainkan darah saat ia membunuh seseorang. Ya, saat ini Daren menginginkan itu, tapi sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak melakukannya. Entahlah, bersama Senja membuat Daren ingin berkorban sesuatu.


Sementara itu...


Senja tengah bersiap untuk menuju ke gedung pengadilan. Menjadi saksi yang membuatnya tremor, sampai dia lupa makan dan lupa segalanya. Yang ia takutkan hanya satu, masuk penjara. Sementara tugasnya masih banyak. Balas dendam dan memata-matai ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Cepatlah sedikit, sidang akan dimulai beberapa menit lagi!" perintah Shela.


Senja mengangguk. Wajahnya yang putih itu terlihat semakin pucat. Bahkan Shela tak menyadari itu, yang ia inginkan hanya sebuah bukti kematian Boy. Bahwa Senja terlibat di dalamnya.


"Cepat sedikit!" perintah Shela lagi. Baru beberapa langkah ke depan. Senja terjatuh, dia kembali pingsan untuk kesekian kalinya gara-gara tak diberi makan oleh ibunya.


"Anak *****. Kenapa bisanya hanya nyusahin aku aja?" Setelah membawa Senja ke kamarnya, Shela langsung menuju ke pengadilan. Itupun dia tidak memikirkan soal makanan dan minuman Senja di rumah. Shela adalah tipe ibu yang egois, memikirkan kebutuhannya sendiri.


...****************...


"Bos, Senja tidak datang hari ini. Jadi bukti kematian Boy masih mengambang, hakim belum bisa mengambil keputusan. Hanya Senja kunci jawabannya Bos. Kalau dia buka mulut, kita juga akan ikut terseret," ucap Rehan bercerita soal kejadian waktu di pengadilan.


"Ada apa dengannya?" Daren langsung menatap ke arah Boy dengan tajam. Soalnya sedari tadi Daren sibuk akan urusannya sendiri. Dan sekarang dia baru menormalkan otaknya, yang ia dapat justru Senja tidak hadir. Daren takut Senja kelayapan, atau bahkan nekad mengakhiri hidupnya.


"Saya dengar, dia pingsan."


"APA?? KENAPA KAU BARU MEMBERITAHUKU SEKARANG??" Daren murka. Emosinya tiba-tiba muncul begitu saja.


"Maaf Bos, Anda telah mematikan ponsel Anda!" jawab Boy lirih sambil menunduk.


Oiya...


Daren baru sadar akan hal itu. Gara-gara kecanduannya dengan darah, dia hampir melupakan segalanya.


"Sepertinya ini belum terlambat. Segera antarkan aku ke rumahnya. Dia adalah kunci utama kita, hanya dia yang menentukan nasib kita," kata Daren tiba-tiba. Padahal tuduhan sebesar apapun yang menuju kepadanya, pasti akan mudah terselesaikan. Ntah kenapa tidak dengan kasus ini, rasanya agak sedikit berbeda bagi Daren.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2