SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Bertemu Secara Formal


__ADS_3

...****************...


Sepulang dari makam ayahnya bersama sang ibu. Senja terburu-buru untuk berangkat ke tempat kuliah. Setelah absen dan mengumpulkan tugasnya. Senja langsung menuju ke kantor.


Hari ini Senja bekerja dengan tenang. Tidak ada satu orangpun yang mengganggunya. Dia mengerjakan pekerjaannya sambil mengorek informasi mengenai kematian ayahnya.


Mengingat ucapan penelitian kasus forensik beberapa waktu yang lalu. Senja jadi semakin yakin, kalau ayahnya memang dibunuh oleh ketua mafia. Dan mafia itu juga meninggal di tempat yang sama. Jika itu ayah Daren, maka Daren tidak akan masuk bekerja hari ini.


Usai mengumpulkan pekerjaannya kepada jabatan yang lebih tinggi darinya. Senja segera menuju ke kantin kantor. Dia duduk sendirian, tiba-tiba si resepsionis juga ikutan duduk di sebelahnya.


"Hari ini Tuan Daren tidak masuk ke kantor," ucapnya tiba-tiba.


Senja hanya menatapnya biasa. Memangnya ada urusan apa jika Daren tidak masuk? Pikirnya.


"Karena hari ini semua orang sibuk. Aku minta tolong padamu Senja," lanjutnya lagi.


Senja menaikkan satu alisnya. "Minta tolong apa?" tanyanya sambil berhenti mengunyah dan meletakkan sendok dan garpunya.


"Sepulang bekerja, aku minta tolong antarkan surat kontrak dari England untuk Tuan Daren," katanya dan Senja menelan salivanya.


Dia tidak ingin berurusan dengan Daren saat ini. "Tapi..." Senja ingin menolaknya.


"Ini perintah Senja. Ku mohon kali ini aja, antarkan ke penthousenya," kata si resepsionis tadi yang bernama Meta.


"Aku tidak tahu, di mana itu?"


...****************...


Pukul 18.00 WIB.


Senja turun dari sebuah gocar sambil menatap gedung pencakar langit dengan 100 tingkat. Senja tahu, gedung ini hanya dimiliki oleh orang-orang kaya se-Indonesia. Pakaian necis, mobil mewah. Isinya hanya sultan dan sultinnya Indonesia. Hendak melangkah, tiba-tiba rasa ketidakpercayaan diri menghantamnya. Dia memegang tali tas selempangnya dengan erat.


Memasuki apartemen itu dengan kikuk. Tapi dia beranikan diri. Sejenak dia berpikir, apakah dia salah telah menemui Daren seorang diri? Semoga saja Daren tidak terlalu kepedean dengan kedatangannya ini.


"Permisi, apa saya bisa bertemu dengan tuan Daren? Saya staffnya di kantor," kata Senja dengan merasakan grogi setengah mati.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, dengan siapa ya?" Resepsionis itu tersenyum dengan ramah kepadanya. Tidak seperti Meta yang acuh tak acuh pada staff karyawan.


"Saya Senja."


Terlihat resepsionis itu menelepon seseorang. "Mari ikuti saya," ajaknya pada Senja. Dia mengantarkan Senja ke arah lift dan menekankan sebuah tombol.


"Lift ini mengantarkan Anda ke penthousenya Tuan Daren. Beliau sudah menunggu Anda," ucapnya dan jantung Senja bergemuruh tidak karuan. Dia merutuki dirinya karena telah menerima perintah dari Meta yang membuatnya terkesan lebih murahan. Senja berharap otak Daren waras hari ini.


...****************...


"Jadi kau ingin aku menghabisi kepala polisi itu?" Seorang pria bertubuh gempal penuh tato sedang duduk berhadapan dengan Shela.


"Aku tidak menyukainya," jawab Shela.


Dan si pria ini tersenyum meremehkan. "Kau seorang pelac*r. Tugasmu hanya melayani pria-pria seperti kami, gak usahlah kamu jual mahal?" ucap pria itu. Tapi Shela langsung bersimpuh.


"Please, bantu aku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu," katanya.


Pria ini seperti tengah berpikir. "Apa yang aku dapatkan?" tanyanya.


"Bagaimana kalau putrimu?" tawarnya.


"Terserah, yang penting aku ingin kepala polisi itu mati," pinta Shela.


"Dan satu hal, aku juga ingin putrimu menjauhi Daren di manapun dia berada. Karena mulai detik ini, dia adalah milikku," ucap pria itu dan Shela seperti cemburu.


Namun dia tidak ingin dihantui bayang-bayang akan dipaksa oleh kepol itu terus-terusan. Shela sudah tidak kuat rasanya. Apalagi istri kepol sudah tahu kalau Shela adalah pelakor. Jadi dia tidak mau diancam dan dilabrak setiap hari. Lebih baik dia menghabisi nyawa atasannya, biar dia tidak dalam bayang-bayang kelam.


"Aku pastikan dia tidak akan dekat dengan pria manapun. Aku baru tahu kalau anak itu membohongiku. Bed*bah anak itu, aku akan menghukumnya," ucap Shela emosi.


"Jangan kau lukai bidadariku. Cukup kasih peringatan saja!" ucap si pria ini sambil tertawa penuh kemenangan.


Shela terdiam. Tidak masalah Senja dijual pada pria ini. Dari pada setiap hari menyusahkan hidupnya.


...****************...

__ADS_1


Semakin Senja dekat dengan ruangan Daren. Semakin cepat pula jantungnya berdetak.


Ting!!


Pintu lift terbuka dan menampilkan ruang tamu mewah di depannya. Di tengah-tengah ruang tamu itu sudah ada Daren yang tengah terduduk sambil mengenakan kaos oblong dan celana pendek.


"Halo Senja," ucapnya menyapa Senja.


Senja menatap Daren. Entah kenapa, berduaan dengan Daren membuat oksigennya menipis. Senja susah bernafas. Tangannya berkeringat akibat menahan rasa takut terhadap Daren.


Senja menundukkan kepalanya sambil berjalan ke depan. Semua gerak-gerik itu tak luput dari pandangan Daren yang seperti ingin mengulitinya.


Entah kenapa, rasanya Daren ingin membunuh Senja sekarang juga. Mengingat kalau hari ini adalah kematian ayahnya, jadi rasanya Daren ingin Senja meregang di tangannya.


Namun dia tidak bisa. Dia tidak boleh melanggar peraturan yang ada. Dia tidak akan membunuh seseorang dalam keadaan darurat, apalagi di rumah atau di kantornya. Itu adalah pelanggaran besar yang tidak pernah boleh dilanggar olehnya.


Senja ingin menangis. Dia salah telah menerima perintah dari Meta. Ruangan Daren begitu menyeramkan di matanya. Padahal Senja ingin membunuh Daren, tapi tiba-tiba dia tidak mampu untuk melakukan itu.


"Apa yang membuatmu datang kesini Senja? Apa kau menginginkan sentuhan dariku?" tanya Daren.


Senja menelan ludahnya. Glek! Suara Daren mengalun begitu menyenangkan di telinganya. Seperti ajakan pada orang yang dicintai. Namun Senja sangat tahu, itu sebenarnya bukan ajakan. Namun pelecehan. Senja ingin segera keluar dari tempat ini.


"Tuan Daren," panggilnya.


"Saya datang, emm.. untuk mengantarkan surat penting untuk Anda. Dari Inggris," lanjutnya dengan sedikit ketakutan. Sudah pernah berhubungan intens 2 kali, namun nyatanya Senja tetap ketakutan setiap berduaan dengan Daren. Senja mengambil amplop berwarna coklat dari dalam tasnya.


Daren tersenyum begitu manis. Andai itu Justin, Senja pasti menaruh hati padanya. "Ah, akhirnya datang juga. Terimakasih." Daren menerima amplop itu dan meletakkannya di atas meja.


Karena bertamu. Akhirnya Senja berjalan mundur. Sedari tadi dia hanya berdiri karena tidak disuruh duduk oleh Daren. "Kalau begitu, saya undur diri Tuan," ucap Senja secara formal. Dia hanya bawahan, jadi dia sadar diri dan tidak ingin menuntut apapun. Meskipun Daren telah menodainya, bukan berarti Senja tidak mempermasalahkannya. Dia ingin memperhitungkan semua perbuatan Daren, tapi nanti tidak sekarang.


"Kenapa terburu-buru Senja? Apa kau tidak ingin aku puaskan lebih dulu?" tawar Daren sambil menyeringai.


Senja mengepalkan tangannya dan menatap Daren penuh amarah. Daren tersenyum tipis. "Aku hanya bergurau. Setidaknya makan malamlah sebelum kamu pergi," ajak Daren kemudian.


Bersambung...

__ADS_1


Apa Senja bakalan mau diajak makan malam oleh Daren?


__ADS_2