SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Akal-Akalan Daren


__ADS_3

...****************...


Mungkin sudah nasibnya Senja yang selalu apes tanpa dia minta. Saat dia tengah mengambil laporan dari para pengacara senior, di situlah Daren dan ajudannya hendak lewat di sampingnya.


'Apes,' batin Senja. Dia segera memiringkan tubuhnya. Menghadap ke arah Daren dan membungkuk. Senja enggan berucap selamat siang. Pasti ujungnya tidak dijawab.


Namun Daren berhenti secara tiba-tiba. "Karyawan bagian apa dia? Kenapa dia tidak tahu aturan di kantor ini?" tanya Daren pada Ferdi. Daren hanya pura-pura saja. Padahal dari tadi dia ingin Senja menyapanya duluan.


Ferdi langsung menoleh dan menegur Senja. "Ucapkan salam jika masih mau bekerja di sini," kata Ferdi. Ferdi sendiri sebenarnya heran dengan tingkah laku Daren yang mendadak aneh. Kadang bersikap baik kepada Senja, tapi kadang juga menindasnya.


"Selamat siang Tuan," ucap Senja dengan sedikit terpaksa. Dia melirik ke arah Daren yang menatapnya. Namun wajahnya terlihat angkuh.


"Langsung ke atas!" perintahnya kemudian pada anak buahnya.


Senja menatap tajam ke arah Daren yang terus berjalan tanpa menoleh itu. 'Sial*n banget. Mentang-mentang dia Bos, jadi dengan mudahnya dia menindas karyawan kecil sepertiku,' gerutu Senja dalam hati. Ini kalau tidak demi balas dendam atau punya hutang dengan Daren, pasti Senja sudah mengundurkan diri dari kemarin-kemarin.


Saat Senja hendak melanjutkan aktivitasnya, di koridor sebelum berbelok ke arah lain Daren menoleh ke arahnya. Senja yang masih menatapnya, sontak memalingkan muka. Pura-pura merapikan map-map yang ia bawa.


"Fiuh, ternyata dia tidak tahan juga. Aku akan buat kamu tidak tahan menyapa, awas aja kau Daren!" Senja mengepalkan tangannya. Rasanya dia sudah tidak tahan dan ingin membuat Daren kalah darinya.


"Sangat lucu sekali tingkah lakunya. Ini masih awal Senja. Nanti kamu pasti tidak sanggup buat menyapaku duluan," gumam Daren yang sekarang sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Fer!" panggilnya pada Ferdi.


"Iya Bos!"


"Bilang pada resepsionis, Senja harus lembur hari ini!" perintah Daren dan Ferdi langsung melaksanakan tugasnya.


"Maaf Bos," kata Ferdi sambil menghentikan ucapannya.


"Hm." Daren berada di depan laptopnya, sedikit fokus pada urusan kerjanya.

__ADS_1


"Jam kerja karyawan magang atas nama Senja Sudrajat hanya sampai jam tiga sore. Dia ada kuliah malam hari ini," ucap Ferdi. Mendadak dia takut pada respon Daren yang sempat membanting mouse yang sempat berada di tangannya tadi.


"Tidak ada bantahan atas perintahku," jawab Daren. Entah kenapa, Senja selalu berusaha menolak dengan apa yang ia inginkan.


"Ba-baik Bos!" Ferdi kalang kabut. Pasalnya kalau sudah begini, tandanya akan ada badai bila dilanggar.


"APA??? KENAPA SEENAKNYA SENDIRI?" Senja syok mendapat perintah dari si resepsionis. Padahal dia ada jam kuliah sore sampai malam. Tapi mendadak tidak bisa.


"Duh gimana nih. Bener-bener ya si Daren. Apa iya aku harus memohon-mohon padanya agar diijinin pulang cepat. Ih, jangan! Kalau aku ngelakuin itu, pasti Daren akan besar kepala. Dia akan merasa menang, dan aku harus terus melayaninya. Argh! Balas dendam macam apa ini? Kenapa malah aku yang celaka?" omel Senja saat berada di kamar mandi. Dia mondar mandir kayak setrikaan kusut hanya mikirin ulah Daren.


"Dia sengaja banget sih ngelakuin ini. Biar apa coba? Biar aku menyapanya dalam urusan lain apa?" Senja menggigit jari tangannya. Dia mikirin cara agar bisa selamat dari kelakuan Daren yang keterlaluan ini. Tapi dia bisa apa, selain hanya mengiyakan.


"Oke baiklah, aku terima tantangan dari dia. Bener-bener pria curang." Akhirnya Senja pasrah. Menjalankan permintaan Daren agar lembur malam ini.


Tepat pukul 17.00 waktu setempat. Para karyawan menyiapkan diri untuk pulang. Senja yang melihatnya kaget.


"Loh kok mereka boleh pulang? Kenapa aku tidak boleh? Wah, tidak adil ini namanya. Memang ya, si Daren minta dilabrak!" ucap Senja sambil berkacak pinggang.


Senja mencoba mencari tugas yang harus ia lakukan. Namun dia terkejut saat mendapati tugas yang tak biasa dari si resepsionis.


"Loh inikan...? Bukankah ini tugas OB, kenapa sekarang jadi tugasku? Perasaan aku tidak melamar jadi OB. Oh Tuhan please, harus gimana aku? Rasanya malas kalau bertemu sama dia lagi dan lagi." Kembali Senja mondar-mandir. Tapi kali ini dia tidak mengelak. Apapun keinginan Daren akan dia turuti.


"Oke baiklah. Kalau ini caramu, aku akan mengikuti alur yang sama," kata Senja yang kini langsung bersiap menuju ke pantry.


Dia menyiapkan kopi yang diinginkan oleh Daren dan mencari makanan saji yang ada di kulkas. Namun nihil, di kulkas isinya hanya bahan-bahan mentah. Dan ini membuat Senja harus memasakkan makanan untuk Daren.


"Ah apa? Masak? Aku tidak pernah sekolah memasak, dan aku tidak tahu cara memasak," gumam Senja. Dengan santainya dia mengambil bahan-bahan mentah itu ke sebuah piring.


"Dah siap! Begini kan mudah. Kalau mau makanan matang, harusnya beli makanan yang siap saji." Denda membawakan kopi dan sayur mayur serta buah-buahan di atas baki. Dengan wajah sumringah, Senja berjalan di koridor menuju ke ruangan Daren.


"Ketuk apa tidak ya?" Senja bertanya pada dirinya sendiri. Dan sangat kebetulan, masuk ke ruangan Daren pun harus ada prosedurnya.

__ADS_1


"Tekan tombol dan katakan siapa namamu. Tidak boleh mengganggu apapun tugas dari Bos. Tidak menerima tamu kecuali mendapat perintah." Senja membaca kalimat-kalimat itu sambil setengah mencibir heran.


Karena kesusahan memegang bakinya dengan tangan satu, akhirnya Senja putuskan untuk diletakkan di atas lantai.


Tut!! Tombol itu tertekan dengan pasti. "Maaf permisi. Senja Sudrajat di sini!" ucap Senja dan Daren segera merapikan dasinya.


"Bukakan!" perintahnya kemudian.


"Ini permintaan dari Tuan Daren," ucap Senja sambil menyodorkan sebuah baki di depan Ferdi. Ferdi mengerutkan keningnya. Bingung dengan sayur mayur mentah yang dibawa Senja untuk Daren.


"Kenapa dengan sayur?" tanya Ferdi curiga.


"Karena Bos kurus, jadi makan sayur akan membuatnya lebih berisi. Tentunya sehat," jawab Senja sekenanya.


Dan dengan bodohnya Ferdi menuruti permintaan tadi. "Bos, dia mengantarkan ini untuk Anda!" kata Ferdi sambil meletakkan sebuah baki di atas mejanya Daren.


Senja masih berdiri di ambang pintu. Dia tertegun melihat perabotan yang ada di ruangan Daren. Seorang mafia, namun tidak menggambarkan dirinya sebagai mafia. 'Sebenarnya dia orang yang seperti apa? Manusia berkepala 1000 kah?' batin Senja sambil menelisik ruangan itu dari inchi demi inchi. Tak ada barang misterius yang ia dapati. Semuanya terlihat legal dan biasa.


Saat melihat makanan apa yang disajikan Senja untuknya, Daren hampir saja berteriak dan memanggil Senja. Untung kewarasannya masih 90%, jadi dia memilih menyuruh Ferdi untuk menjadi perantaranya.


"Bilang padanya, siapa yang menyuruh dia menyiapkan makanan kambing di sini?" perintah Daren dan Ferdi langsung berjalan menuju ke arah Senja.


Senja terbelalak lebar mendengar penuturan yang Ferdi katakan. "Ck, Bosmu bener-bener ya? Emang mau makanan yang seperti apa? Di kulkas tidak ada makanan apapun!"


Belum juga Senja melanjutkan ucapannya, Ferdi langsung berlari dan memberitahukan ucapan Senja ke Daren.


"Bilang padanya, ruangan ini tidak sempit. Masa mencari makanan saja tidak bisa."


Ferdi pun langsung berjalan lagi ke arah Senja. Benar-benar Ferdi seperti setrikaan. Kenapa mereka tidak ngobrol berdua saja? Kenapa harus melewati ku? Ferdi merasa pusing sendiri.


"Bilang pada Bosmu! Aku bukan office girl, yang tahu menahu soal stok makanan dan minuman di kantor ini!" teriak Senja yang membuat Daren membalikkan kursi putarnya.

__ADS_1


Daren menatap tajam ke arah Senja. Dia jadi geram dan ingin membawa Senja ke kasur. Lama-lama kalau didiamin, Senja makin berulah. Baru bisa diam kalau diajak di atas kasur. Pasti mulutnya akan diam. 'Argh!! Kenapa dia belum menyerah juga?' batin Daren yang sudah tak sabar ingin mengakhiri tantangan yang baru di mulai ini.


Bersambung...


__ADS_2