
...****************...
'Gila, anak pembunuh itu lebih sukses dari Senja.' Shela berjalan ragu saat pengawal Daren mengantarkannya ke ruangan Daren.
"Bos! Tamu ingin menemui Anda. Ini saya, Salo!" Si pengawal wajib menyebutkan namanya sebelum masuk ke ruangan Daren. Jadi di ruangannya tak boleh sembarang orang yang masuk.
Pintu terbuka sempurna. Jantung Shela berdemo tak karuan.
"Silahkan masuk! Bos sudah menunggu Anda." Salo membungkukkan badannya dan mempersilahkan Shela masuk. Shela begitu takjub luar biasa. Seorang anak mafia bisa tumbuh menjadi orang terkaya di negeri ini. Meskipun tidak ingin memuji, faktanya hati Shela terkagum-kagum dan terus memujinya.
"Ma-makasih," jawab Shela gemetaran. Niatnya ingin memarahi Daren. Tapi niat itu menciut tanpa Shela inginkan. Derajat martabat Daren benar-benar membuat hatinya lupa. Bahwa Daren anak mafia, tapi yang terlintas Daren seorang direktur perusahaan hukum.
Shela berjalan mendekat. Yang ia lihat, Daren memutar kursinya mengarah ke dinding kaca. Ingin menyapa, rasanya agak gengsi buat Shela untuk melakukan itu.
Tiba-tiba Daren memutar kursinya.
Deg... Deg deg deg deg deg deg.
Jantung Shela bagai di pompa. Kakinya lemas. Rasanya dia setengah melayang dan ingin pingsan di tempat.
"Apa yang Anda inginkan nyonya Shela Sudrajat?" tanya Daren sambil menyunggingkan senyuman mengerikan di sana. Sambutan dengan suara mematikan untuk lawannya.
'Si*l. Kenapa anak penjahat itu mempunyai rupa setampan dan segagah ini? Kuatkan hatimu Shela. Kau harus menanyakan keberadaan anakmu!'
"Aku tidak punya banyak waktu. Kalau ada yang ingin disampaikan, silahkan sebelum waktu ku habis," ucap Daren setengah arogan. Biar Shela tahu, bahwa orang yang dihadapinya sekarang bukanlah orang sembarangan.
"Kau!! Kau yang telah menculik Senja, anakku kan?" tuding Shela dengan tangan dan mulut yang bergetar.
__ADS_1
'Punya nyali juga,' batin Daren setengah tersenyum.
"Jangan asal menuduh Nyonya Shela. Pikirkan tentang dirimu. Siapa anak yang kau maksud itu?" Shela mengepalkan tangannya. Ucapan Daren memang manis, tapi semua maksudnya begitu menusuk jantungnya sampai Shela megap-megap. Bingung mau menjawab apa.
"Ku rasa Anda tidak butuh bicara denganku. Silahkan keluar, karena waktuku begitu berharga!" usir Daren tiba-tiba. Padahal Shela masih ingin bicara. Tapi Daren... rupanya dia tidak mau berbasa-basi.
"Selo, bawa tamuku keluar!" perintah Daren.
"Daren! Aku belum selesai bicara denganmu! Kau harus bayar semua sikapmu ini padaku Daren! Kau harus membayar semuanya!" ancam Shela saat tangannya ditarik paksa oleh Selo.
"Lepas!! Lepas!!" Shela menarik tangannya dari genggaman tangan Selo. Dan usai keluar dari ruangan Daren, barulah Selo melepaskan tangan Shela.
"Bilang sama Bosmu! Jadi orang jangan sombong!" Shela emosi sendiri. Dia segera keluar dari kantor itu. Mulutnya terus mengomel tak karuan. Daren sangat kejam, pantas Senja tak pernah mengijinkan Shela untuk menemuinya.
"Kurang ajar anak itu! Tapi dia kaya raya. Jadi dia bebas mau berbuat apa saja, termasuk menindasku! Tapi Jhon, gimana ini? Jika Senja belum ketemu, Jhon tidak akan menghabisi Daren! Sedangkan Daren sendiri tidak mau mengakui kalau Senja ada bersamanya," gumam Shela kebingungan saat dia sudah keluar dari gedung itu.
...****************...
"Ada apa dengan diriku?" gumam Senja. Dia menatap dirinya ke cermin. Wajahnya kembali pucat. Dia butuh sesuatu, tapi sedari tadi semua apa yang ia cari tak memuaskan kebutuhannya.
Makan sudah, minum sudah. Ngemil sudah. Bahkan tidur juga sudah. Tapi semua itu tak bisa menghilangkan dahaganya.
"Argh!! Aku kenapa?" Senja menjambaki rambutnya. Dia sudah seperti orang yang stress. Pengaruh obat-obatan terlarang itu sangat buruk buat psikologisnya.
Semakin malam, Senja semakin menjadi. Ditambah lagi Daren pulang larut malam ini. Karena dia harus meninjau lokasi kematian seseorang. Daren turun tangan atas kasus pembunuhan baru. Jadi dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya dengan seenaknya. Kepercayaan dari perusahaannya begitu besar. Dan Daren harus tetap menjaga kepercayaan semua orang.
Senja semakin menggila. Seprei yang sangat kuat itu ia robek dengan tangannya sendiri tanpa bantuan alat apapun. Ini reaksi obat itu dalam sehari. Tapi Senja sudah seperti pecandu senior. Dia mencabik-cabik tubuhnya, bajunya, bahkan seprei itu.
__ADS_1
Daren baru pulang. Wajahnya terlihat begitu kelelahan. Dia membuka pintu apartemennya. Lagi-lagi gelap. Namun dia sudah tidak mau ambil pusing soal Senja. Karena Daren sangat yakin, Senja tidak akan pernah bisa keluar dari rumahnya tanpa persetujuan dari Daren.
Daren menyalakan seluruh lampunya. Dia mengambil alkohol dari dalam lacinya. Alkohol adalah obat di saat dia stres seperti ini.
BRAK!!!
Bunyi lemari dipukul terdengar sangat nyaring. "Apa lagi yang dia lakukan? Fiuh!" Daren menyudahi acara minumnya. Dia segera menuju ke kamarnya. Matanya melotot melihat Senja tampil layaknya orang gila.
"Senja!" panggil Daren tiba-tiba.
Senja menoleh ke arah Daren. "Daren! Daren bantu aku!" Senja menggigit lidahnya sendiri. Dia tak bisa mengontrol emosinya sendiri. Dan entah kenapa, Senja yakin Daren bisa menolongnya.
Daren mendekat ke arah Senja. Terkejut dengan perbuatannya sendiri. Padahal dosis yang diberikan Daren untuk Senja begitu rendah. Tapi tubuh Senja tak bisa menerima semua itu.
"Senja, kau melukai tubuhmu!" Daren menatap tangan dan perut Senja yang terluka bekas cakaran.
"Daren bantu aku!" pinta Senja lagi.
Daren mengangguk. "Diamlah, aku akan mengambilkan obat untukmu," ucap Daren. Di saat Senja tak melihatnya, Daren segera mengambil sebuah serbuk putih. Lalu ia masukkan ke dalam jarum suntik.
Daren mendekat ke arah Senja. Harusnya ini tidak boleh terulang. Tapi Daren terpaksa. "Ini sedikit menyakitkan. Tolong diamlah!" Daren menyuntikkan obat itu ke dalam tubuh Senja. Tak berapa lama, Senja terdiam. Lalu tidur. Ini hanya obat penenang. Bukan obat haram yang biasa Daren gunakan.
"Sepertinya kau tidak cocok dengan obat itu. Lebih baik kau beristirahat. Dan kau akan direhab beberapa hari demi pemulihan. Setelah itu, kita bersenang-senang sampai kau hamil Senja," ucap Daren. Dia membenarkan rambut Senja dengan sayang.
Malam itu Daren begitu perhatian pada Senja. Dia sampai tak tega dan bahkan mengobati luka cakaran akibat ulah Senja sendiri. Semua ini salahnya, sampai Senja kecanduan dengan barang haram itu.
'Maafkan aku Senja," ucap Daren. Dia meraih jemari Senja, lalu menciumnya. Ciuman itu bergetar hebat ke seluruh denyut nadinya. Hatinya terasa sesak, saat mengingat status dendam mereka. Andai mereka tak diperkenalkan dengan dendam masing-masing, mungkin Daren tidak akan menjadi seorang mafia. Dan mereka berdua akan hidup bersama tanpa adanya rasa benci.
__ADS_1
'Maafkan aku Senja. Takdir yang membuat kita jadi begini,' batin Daren. Lalu dia merebahkan diri di samping Senja. Tak lama kemudian, Daren pun tertidur.
Bersambung...