
...****************...
"Siapa yang telah membunuhnya paman? Orang Nigeria apa orang lain?" tanya Daren. Dia tidak mau menyindir Jhon. Biarkan semua ketahuan secara perlahan-lahan.
Jhon menggeleng. "Gadis tadi adalah pembunuh Alina yang sebenarnya. Entah apa yang dia inginkan, sepertinya dia punya niat terselubung padamu Daren. Jadi lebih baik kamu jauhi gadis seperti dia. Atau biarkan paman yang akan membalaskan kematian ayahmu," ucap Jhon. Dia setengah mempengaruhi Daren, agar Daren menjauhi Senja selamanya.
Jhon sangat yakin, setelah ini Daren pasti akan membenci Senja seperti yang dia inginkan.
"Kau menuduh Senja yang membunuh Alina? Bagaimana mungkin gadis seperti dia mengirim komplotan orang berkulit hitam untuk menyerang Alina? Dia bahkan tidak tahu komunitas apapun. Atau jangan-jangan ini ulahmu. Kau yang telah menyuruh mereka untuk membunuh anak buahmu sendiri dan juga Alina. Kau melibatkan Senja agar aku percaya kalau pembunuhan yang terjadi pada Alina adalah ulah Senja. Bukankah begitu paman?"
Jhon menarik nafas berat. Dia memutar otaknya dan berhasil. "Kau lihat pesan ini Daren. Senja tahu kalau Alina akan dijodohkan denganmu. Jadi dia menggunakan Alina agar kau menyerah. Ingat, Senja juga ingin membunuhmu secara perlahan," ucap Jhon yang terus berusaha mempengaruhi otak Daren.
Daren melirik ke dalam restoran itu. Matanya menatap tajam ke arah Senja yang masih menangis di samping mayat Alina. Daren mengepalkan tangannya kuat. Senja ternyata ingin main api dengannya.
"Dia anak pembunuh ayahku," gumam Daren lirih.
"Mari bermain pintar Daren. Hari ini gadis itu membunuh calon istrimu, bisa jadi besok dia membunuhmu. Apa kau tidak ingin menghabisinya lebih dulu?" tanya Jhon memancing amarah Daren.
"Membunuhnya? Hahaha." Tawa Daren terdengar menggelar nan menyeramkan seketika.
"Aku tidak suka bersetu**h dengan mayat paman. Aku lebih suka melihat tubuhnya mati perlahan-lahan dalam balutan nikmat juga lara yang bersamaan," ucap Daren dengan sorot mata penuh membunuh ke arah Senja.
Senyum kemenangan terlukis jelas di bibir Jhon. Umpannya telah berhasil ia serahkan pada Daren, dan sebentar lagi dram yang sesungguhnya akan terjadi.
"Senja!"
Senja menoleh ke belakang dan menatap Daren yang berdiri tegap.
"Daren, a-aku minta maaf. Kau bisa menjebloskanku ke penjara sekarang. A-aku tidak se...."
Daren berjongkok di depan Senja. Sejenak hati Daren berdesir hebat. Beberapa hari tidak bertemu, tentu Daren merindukan Senja. Tapi Daren harus membunuh rasa itu. Dia tidak boleh kalah dengan perasaannya.
"Ayo ikutlah denganku. Kau harus membersihkan dirimu sebelum orang lain melihatnya," ucap Daren dan Senja menurut saja.
Senja bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa Daren tidak marah saat melihat calon istrinya mati terkapar dengan sebuah peluru menancap di kepalanya? Ada apa ini?
__ADS_1
...****************...
Senja tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Dia sangat ingat sekali, kalau dia telah melumpuhkan kepala plontos di depannya. Namun peluru dari mana, hingga Alina terjatuh dan meninggal di depan matanya.
Tuk!
Daren meletakkan sebuah minuman kaleng di atas meja tepat di depan Senja.
"Minumlah. Kau pasti syok gara-gara tadi," suruh Daren sambil duduk di samping Senja.
"Aku tahu... kau pasti merasa bersalah karena telah membunuh calon istriku, kan? Jangan khawatir, aku tidak akan menaruh dendam padamu hanya gara-gara hal sekecil ini." Daren tersenyum devil.
Senja menunduk ketakutan. Daren bisa bersikap mengerikan dan manis dalam waktu yang bersamaan. Apalagi jantung Senja meletup-meletup sedari melihat Alina tewas di depan kepalanya sendiri.
"Daren. A...aku ti-tidak tahu. Dia... A..."
"Ssssst, tenanglah Senja. Kau pasti sangat cemburu pada Alina, hingga kau berani membunuhnya di tempat umum seperti tadi." Daren begitu dingin. Di saat seperti ini dia masih begitu percaya diri. Dari mana Senja cemburu, kalau calon Alina saja dia tidak tahu?
"Mungkin kau akan aman dariku Senja. Tapi dengan papanya Alina? Aku tidak menjamin. Mungkin hidupmu tidak akan panjang."
Daren menakut-nakutinya. Senja semakin merinding ketakutan. Dendam pada Daren belum juga ia lakukan. Tapi justru dia sendiri yang kejebak pada dendam Daren dan masalah-masalah yang lain.
"Jangan terlalu cemas dengan kematian Alina, sayang," bisik Daren. Tangannya terulur dan meremas bahu Senja penuh dengan emosi bercampur nafsu.
"Sudah ku duga, kau tidak akan tahan dengan sentuhanku," bisik Daren setengah mengejek.
Senja mengusap air matanya. Desiran darahnya terasa aneh saat mendengar bisikan menggoda nan indah di telinganya.
"Jangan kurang ajar Tuan Daren. Lebih baik aku dipenjara seumur hidup dari pada menuruti permintaan konyolmu." Senja berdiri dan menatap kesal ke arah Daren.
"Sudahlah Senja, kau tak perlu berbohong. Lagian kalau kau menolak, aku punya bukti yang kuat atas kematian Alina dan hari pertama kita..."
"CUKUP!" teriak Senja menghentikan ucapan Daren, gara-gara Daren mengingatkan tentang video mereka. Bagaimana Senja begitu menjijikkan saat itu akibat obat dari almarhum Boy?
"Jadi?" Daren bertanya tanpa Senja tahu apa jawabannya.
__ADS_1
"Harusnya kau berduka atas kematian Alina Tuan Daren. Bukan seperti ini!" teriak Senja emosi. Dia berjalan keluar dari gedung itu sambil menutupi wajahnya dengan rambutnya.
"Ingat Senja, papanya Alina akan menuntutmu suatu saat nanti!" ucap Daren.
Senja tidak mau menoleh. Daren bukannya menolongnya, tapi dia malah ingin merusak mentalnya kembali.
Senja sudah berada di luar gedung. Tangannya terlihat begitu pucat tidak seperti tadi.
"Nona Senja Sudrajat!"
"Hah!" Senja terkejut dan hampir berteriak.
Belum juga ketakutannya sirna saat bertemu dengan Daren tadi. Kini ditambah lagi dengan suara berat pria tua yang tadi menemuinya saat di restoran.
"Jangan pernah memberikan pernyataan apapun di depan polisi kalau kau masih ingin melihat ibumu selamat," ucap pria itu yang tak lain adalah Jhon.
"Apa maksudmu?" Mulut Senja bergetar hebat. Daren dan pamannya sama-sama memanfaatkan dirinya dengan embel-embel ibu.
Jhon mendekat sambil menunjukkan video tentang ibunya dan Jhon yang tengah bercinta.
Senja menoleh sambil menutup matanya. Dia tidak sanggup melihat ibunya yang teraniaya seperti dirinya.
"Cukup Tuan! Kenapa Anda dan Daren sama-sama licik. Memperalat orang lain demi keuntungan kalian!" teriak Senja sambil menatap tajam ke arah Jhon.
"Aku tidak mencari untung. Tapi aku ingin anak buah Mr. Louis tidak memburu nyawamu. Termasuk Daren. Jadi ku harap kau tetap bungkam," kata Jhon lagi.
"Kenapa kau tidak membunuhku juga?" tantang Senja emosi.
"Aku ingin kau selamat dari ancaman Daren dan mister Louis. Dan ya, kalau kau ingin perlindungan yang lebih. Jadilah milikku, maka kau dan ibumu akan selamat," ucap Jhon sambil tersenyum manis pada Senja.
Senja melotot tidak percaya. Di lain sisi Daren juga mengancamnya untuk melayaninya, di sisi lain paman Jhon ingin menjadikan Senja miliknya.
Manusia bi*dap
Bersambung...
__ADS_1