
Sementara itu, Daren membawa Senja ke apartemen di sebelahnya. Apartemen yang hanya dijual belikan untuk orang kaya. Dan Daren juga mampu membelinya dengan sekejap.
Tadinya Senja dibanting oleh Boy, dan sekarang tubuhnya kembali dihempaskan di ranjang oleh Daren.
"Tunjukkan caramu menggoda om-om tadi Senja," bisik Daren dan Senja menatap Daren dengan mata yang memerah. Antara nafsu dan marah bercampur jadi satu. Senja malu dan ingin menenggelamkan diri saat ini juga. Dia tidak menyangka kalau Daren adalah manusia berkepala dua. Pura-pura menjadi Justin yang perhatian, nyatanya dia adalah musuh yang selama ini Senja cari.
"Apa seperti ini?" tanya Daren, tangannya bermain-main dari luar kemeja putihnya.
Senja menitikkan air matanya. Tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Namun dari tatapan matanya, Senja mengiba ingin dilepaskan.
"Tidak!! Tolong jangan lakukan!" Senja mencoba meraih jemari tangan Daren. Namun tangan Daren begitu kuat. Senja tak bisa melepaskannya.
"Kau benar-benar gadis murahan! Disentuh begini saja sudah tidak tahan!" cibir Daren.
Entah kenapa, Daren jadi tidak tahan juga. Tanggung, dari pada dinikmati oleh pria pedofil seperti Boy, lebih baik dia sendiri yang menikmatinya.
"Tidak!! Jangan!!" teriak Senja. Namun tidak menolak.
Daren melepaskan kemeja dan juga kaos dalamnya. Di lengan kanannya tergambar tato macan tutul. Mungkin karena Daren adalah pemimpin dari klan macan tutul, jadi dia menato dirinya seperti itu.
"Mulutmu memang berkata tidak. Tapi lihatlah," ucap Daren sambil menunjukkan sesuatu.
"Tolong!! Jangan lakukan ini, bajing*n!!" teriak Senja tidak terima. Tapi apalah daya, tenaga Daren lebih kuat dibandingkan tenaganya yang terkuras akibat obat panas yang diberikan Boy padanya.
"Aku tidak peduli," kata Daren yang kini sudah membuka kedua kakinya Senja dan tak berapa lama Daren berhasil merusak sebuah mahkota yang dijaga oleh Senja selama ini.
Senja menangis seketika. Baru kali ini dia sangat tidak berdaya saat dirinya dianiaya oleh musuh bebuyutannya.
__ADS_1
Daren merasakan sesuatu yang hangat mengalir di sesuatunya. Dia menyentuh bagian itu dan mendapati sedikit darah bercampur cairan bening milik Senja. Sejenak Daren menatap Senja yang meringis kesakitan. Daren jadi iba, tapi dia terlanjur kesal pada tingkah laku Senja pada Boy.
"Bagaimana? Inikan yang kamu inginkan?" kata Daren, dia membohongi perasaannya. Padahal hatinya merasa kasihan, tapi tidak dengan mulutnya yang begitu sangat kurang ajar.
"Tidak!! Tidak, hiks!!" Senja menangis sesenggukan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya.
"Mulai sekarang, kau adalah teman ranjangku Senja. Sekali saja aku melihatmu berduaan dengan cowok lain, aku akan patahkan leher cowok itu di depan matamu!" kata Daren yang membuat Senja sedikit ketakutan. Daren benar-benar sadis, iblis tak berhati.
Setelah selamat dari Boy, kini Senja malah terperangkap dengan anak mafia itu, dan bahkan menjadikannya teman ranjang.
"TIDAAAAKKKK!!" teriak Senja saat Daren melepaskan benih-benih asmara di dalam tubuhnya.
Senja menangis sampai tak bersuara. Sedang Daren, dia memamerkan senyum kepuasan. Karena sensasi bercintanya hari ini benar-benar berbeda dari yang biasanya. Mungkin karena dia telah bercinta dengan musuh bebuyutan, atau mungkin karena Senja masih perawan. Jadi rasanya benar-benar membuat Daren ingin lagi dan lagi.
"Kau benar-benar seperti pelac*r! Menangis tapi kau sendiri menikmati setiap hentakan yang ku berikan," cibir Daren dan Senja mengepalkan tangannya. Senja merasa gagal membalaskan dendam atas kematian ayahnya.
'Maafkan aku ayah ,' batin Senja sambil menitikkan air mata.
"Kau mau apa? Tenagamu sudah habis, jadi diamlah. Jangan banyak bicara!" Daren mencomooh Senja tanpa ada rasa.
Semua ini di luar nalar. Sejatinya Daren tidak seperti ini. Namun mulutnya memang sangat kurang ajar. Tidak bisa bersikap manis sedikitpun pada wanita.
Senja menangis sambil mencoba membenarkan bajunya. Daren merasa bersalah, dia yang sudah merenggut, tapi seperti tidak ada tanggung jawabnya.
Jadi dia langsung mendekat dan membopong Senja tanpa diminta oleh Senja. "Mau bawa aku kemana ha! Turunin!" pinta Senja sambil memukuli pundak Daren. Saat pukulan ketiga, Daren menoleh ke arah Senja, begitu pula dengan Senja. Keduanya saling bertatapan dalam diam. Ada rasa yang tak biasa di antara mereka. Rasa sedih dan kerapuhan ada di mata Daren seperti yang Senja miliki. Namun Senja menepis rasa kasihan itu. Karena Daren sendiri tidak ada rasa belas kasih padanya.
"Turunin!" ucap Senja yang membuat Daren kembali memalingkan mukanya. Dia tidak menuruti permintaan Senja, karena niatnya ingin membawa Senja ke kamar mandi.
__ADS_1
"Bersihkan dirimu! Pakaianmu ada di kursi," ucap Daren sambil menutup pintu kamar mandi. Sementara dia sendiri memilih membersihkan diri di kamar mandi yang lain.
Usai mandi, Daren mencoba mendengarkan Senja dari pintu. Karena penasaran tidak ada gemericik air, jadi Daren mencoba mengintip dan mendapati Senja yang tengah meringkuk ketiduran di dalam bak mandi yang masih kosong. Sepertinya Senja masih enggan membasuh tubuhnya.
"Dasar! Bisa-bisanya dia tidur di dalam bak mandi seperti itu." Curiga kalau Senja akan bunuh diri, Daren masuk dan membawa Senja keluar.
Tertidur pulas. Itulah Senja, sepertinya ini efek lain dari obat yang diberikan Boy kepadanya. "Samboy memang kurang ajar, aku tidak akan membiarkannya hidup lagi," gumam Daren sambil membawa Senja ke atas ranjang. Daren menyelimuti Senja, dan tak sengaja dia tertarik melihat Senja yang tengah tertidur. Seperti kedamaian yang tak pernah berbuat kesalahan. Sejenak Daren mengamati Senja dengan intens. Tidak salah jika Daren ingin menjadikan Senja teman ranjangnya. Selain cantik, Senja juga mampu memberikan kepuasan untuknya.
"Kita akan bersenang-senang lagi setelah ini," pamit Daren sambil menyentuh pipi Senja sekilas.
Daren merapikan pakaiannya, mengenakan sarung tangan dan memasukkan sebuah senjata ke dalam kaos kakinya.
"Aku tidak mengampunimu bajing*n!!" gumam Daren sambil berjalan menuju ke tempat di mana Boy ditahan oleh anak buahnya.
"Bos!!" Rehan mendekat dan memperlihatkan Boy yang tengah meringkus dan tangannya terikat dengan tali.
"Bagus!! Berikan ini padanya!" perintah Daren dan Rehan menurutinya.
"Buka mulutmu!!" teriak Rehan pada Boy.
"Cih, aku tak sudi!" balas Boy membangkang.
"Paksa dia!" Kali ini Daren yang memerintahkan. Dan anak buahnya yang lain ikut membantu Rehan. Mau tidak mau, akhirnya Boy membuka mulutnya dan menelan beberapa obat-obatan yang diberikan oleh Rehan kepadanya.
"Bagus sekali. Sebentar lagi kau juga akan merasakan seperti yang Senja rasakan. Kau akan melayang bersamaan dengan nyawamu!" ucap Daren yang membuat Boy melotot.
"Dasar anak iblis! Sampai kapanpun aku tidak akan mengampunimu. Anak sial*n, lepaskan aku! Jangan jadi pecundang seperti ini!" teriak Boy yang terus mencaci maki Daren tanpa henti.
__ADS_1
Daren tersenyum kecil. Senyuman jahat yang mengerikan. Akankah Daren menghabisi nyawa Boy?
Bersambung...