
...****************...
"Om mau lihat kakimu dulu Senja," kata Boy yang kini sudah berganti pakaian dengan kaos oblong dan celana training pendek.
Senja menurut saja, dia tidak punya firasat yang buruk.
"Pasti sakit banget ya? Besok om belikan sepatu yang nyaman untukmu," kata Boy yang kini tengah berjongkok di depan Senja. Dan karena Senja memakai rok selutut, sesekali mata nakal Boy melirik celah paha Senja, berharap bisa melihat warna segitiga bermuda yang dikenakan oleh Senja. Namun sayang, paha Senja begitu tertempel rapat, menyulitkan Boy untuk melihatnya.
Sangat pelan dan sesekali memberikan remasan pada telapak kaki Senja, membuat Senja terkejut dan mencoba menarik kakinya. Namun Boy mencegahnya dengan berkilah, "Dipijit dulu, biar tidak terlalu sakit."
Mungkin karena pengaruh obat panas yang diberikan oleh Boy tadi bereaksi. Tiba-tiba Senja merasakan gejolak tubuhnya menjadi tak biasa. Apalagi Boy terus menggodanya, mengelus lutut kakinya yang membuat bulu kuduk Senja berdiri.
Melihat reaksi Senja yang menerima perlakuannya tadi, Boy tersenyum penuh kemenangan. 'Sebentar lagi kita akan bersenang-senang Senja,' batin Boy dengan rencana liciknya.
"Om, kamar mandinya di mana?" tanya Senja yang makin merasakan panas dalam tubuhnya. Dia tak terbiasa begini, dan ini tidak akan baik bila dibiarkan.
"Mau ngapain Senja, hm?" Boy ikut berdiri saat melihat Senja yang kini tengah berdiri dalam kegelisahan. Boy tahu, sebentar lagi Senja akan bertekuk lutut padanya.
"Tidak Om, Senja ingin buang air!" dusta Senja namun Boy berjalan di belakang tubuh Senja dan menyentuh lengan Senja dengan lancang.
"Apa yang om lakukan!" teriak Senja yang masih dalam keadaan sadar. Hanya saja pengaruh obat tadi sama sekali tidak membuat sarafnya tenang.
"Bukankah ini yang kau inginkan?" Boy kembali memegang kedua lengan Senja sambil mengusapnya naik turun.
Si*l sekali, rabaan dari Boy membuat kulit tubuh Senja semakin nyaman. Tapi Senja menepis semuanya. Dia memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
Ini tidak benar!
"Om, om Boy jangan kurang ajar ya!" teriak Senja mulutnya bergetar karena menahan nafsu yang tak ia inginkan.
"Sudahlah, menurut saja. Pasti enak," kata Boy yang terdengar semakin menjijikkan di telinga Senja.
"Berhenti di situ!" teriak Senja lagi.
Badannya semakin bergejolak menahan gairah yang tertahan. Senja tidak mampu, tapi dia terus berusaha sekuat tenaganya agar tetap sadar.
"Kamu akan tersiksa kalau om berhenti Senja. Om cuma ingin menolongmu," ucap Boy penuh kebohongan.
__ADS_1
Sedikit tertatih, Senja terus melangkahkan kakinya mundur selangkah demi langkah. Rasa sakit di kakinya tak ia rasakan. Yang ia rasakan hanya rasa panas ingin melucuti seluruh pakaiannya.
"Tidak!!" teriak Senja saat Boy terus mendekat. Boy sangat tahu betul kapan obat itu akan bereaksi hingga korbannya tidak sadar kalau Boy telah memasukkan obat per*ngsang di dalam minuman si mangsa.
"Baiklah, om berhenti di sini!" katanya sambil menatap Senja naik turun.
Senja memejamkan matanya, nafasnya berderu semakin cepat. Gundukan gunung kembarnya naik turun membuat Boy menatapnya penuh minat.
'Harusnya Senja sudah memohon, tapi kenapa dia sangat keras kepala?' batin Boy kesal. Apalagi junior miliknya sudah berdiri tegak sedari tadi gara-gara menyentuh kulit kaki Senja.
"Lama," gumam Boy yang langsung menerkam gunung Senja tanpa permisi.
"Tidak!! Tolong lepas!!" teriak Senja sambil berontak. Tubuhnya menginginkan sentuhan. Tapi hati dan mulutnya tidak menginginkan itu.
Sementara itu, beberapa orang telah menaiki lift. Salah satu di antara mereka mengepalkan tangannya dan mengetatkan rahangnya. Wajahnya menyiratkan penuh kemarahan atas hal yang akan terjadi beberapa menit lagi.
"Mana kuncinya!" teriak orang itu. Dan si ajudan memberikannya dengan agak ragu.
"Buka dengan benar!" perintahnya pada anak buahnya.
Sementara itu, di dalam sebuah apartemen milik Boy. Terlihat Senja terpojokkan di dinding. Tangannya terus berontak atas perlakuan Boy yang terus meremas sesuatu benda sensitifnya. Semakin Senja menolak, maka semakin gencar Boy mengerjainya.
"Menurutlah, kau akan menyukainya Senja. Mendesahlah, jangan teriak seperti ini!" bisik Boy yang membuat Senja jijik.
"Tidak Om! Jangan!" Senja menendang kaki Boy, dan dia berhasil lepas dari jerat Boy.
"Kurang ajar!" teriak Boy emosi.
Dia segera menyeret Senja dan membanting Senja di atas kasur empuk miliknya. Senja mencoba bangun, namun terlambat. Boy sudah menindihnya.
"Tolong!! Lepaskan aku Om!! Ku mohon jangan lakukan ini!"
Tapi Boy menuli, dia mencoba melepaskan satu persatu kancing baju yang dikenakan oleh Senja.
BUGH!!!
BUGH!!!
__ADS_1
"BERANINYA KAU!!" teriak seorang pemuda tadi yang tak lain adalah Daren.
Hampir saja Boy berhasil melepaskan semua kancing baju Senja. Telat sedetik saja, mungkin hal yang tak diinginkan akan terjadi.
"KAU!!" Boy terkejut melihat kehadiran orang yang selama ini iya cari-cari.
Daren melirik ke arah Senja yang tengah meringkuk sambil ketakutan. Tapi tangan dan tubuhnya bergetar, mungkin pengaruh obat itu masih ada.
"Iya, ini aku! Orang yang kau cari-cari, tapi kau sengaja menyembunyikan keberadaanku dari mereka!" ucap Daren dan Senja masih terlihat menggigit bibir bawahnya.
"DAREN!!" panggil Boy tiba-tiba.
"Iya, aku Daren. Bukankah tugasmu mencariku? Kenapa kau malah menikmati tubuh gadis yang ibunya sudah kau nikmati lebih dulu?"
Mendengar nama Daren disebut. Senja segera menoleh. Dia fikir Justin yang menolongnya. Tapi kenapa yang datang itu musuhnya?
"Kak Justin!" panggil Senja. Dia masih berusaha menormalkan otaknya.
"Dia Daren! Anak si pembunuh ayahmu!" teriak Boy yang membuat Daren murka.
"Bawa dia!" perintah Daren dan Boy merah madam. Dia kalah sama anak ingusan kemarin sore. Dan sialnya, kehadiran Daren merusak suasana indahnya bersama Senja.
"Ja-jadi kau!!" Senja ingin marah. Tapi otaknya benar-benar sudah terpengaruh.
"Apa? Ternyata seperti ini anak dari musuh ayahku. Menjual tubuhnya pada Om-om ganjen seperti dia!" kata Daren sambil mendekat ke ranjang.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Senja saat Daren menyentuh badannya.
"Lepaskan!" teriak Senja. Tapi Daren diam saja, dia malah menggendong Senja di pundak kirinya.
Kepala Senja langsung terjungkal di bawah. Tangannya yang bebas itu langsung memukul-mukul bahu Daren. Namun Daren terlihat santai dan melewati Boy yang tengah di sekap oleh Rehan dan yang lainnya.
"Re!" panggil Daren dan Rehan segera mendekat.
Daren membisikkan sesuatu di telinga Rehan. Bahkan Senja tak bisa mendengarnya. Karena Senja sendiri sudah tak tahan ingin mengakhiri semua rasa panas yang menghinggapinya.
"Baik Bos!" jawab Rehan dan setelah kepergian Daren. Rehan melakukan semua tugas yang diperintahkan oleh Daren.
__ADS_1
Sementara itu....
Bersambung...