
...****************...
Daren melajukan mobilnya membelah jalanan yang ramai kendaraan. Dia berniat mampir ke supermarket. Tapi telepon dari Jhon terus berdering. Daren menepikan mobilnya. Dia mengangkat telepon itu.
Klik!
"Daren, tolong paman. Klan Tuan Y menyerang paman," ucap Jhon dengan suara panik dan ketakutan.
Tadinya Daren juga ikutan panik. Tapi setelah dipikir-pikir, mereka berdua bekerjasama. Tidak mungkin Tuan Y menyerang rekan setimnya tanpa suatu alasan.
"Baiklah aku akan ke sana," ucap Daren dengan malas.
Kali ini Daren menelepon Rehan. "Paman Jhon diserang klan Tuan Y. Kau harus membantunya, bawa anak buah yang lain juga buat penjagaan," perintah Daren namun dihentikan oleh Re.
"Sepertinya kita perlu bertemu sebelum mengerahkan anak buah kita Bos!" ucap Rehan dan Daren menyetujuinya.
Untuk kali ini Daren tidak mau gegabah. Jhon pria licik yang harus diwaspadai. Dulu Daren masih kecil, jadi dia tidak pernah berpikiran buruk tentangnya. Tapi akhir-akhir ini, apa yang dilakukan oleh Jhon telah menyimpang dari penilaian Daren.
Daren menunggu Rehan di dalam mobil. Rehan masuk menggunakan pakaian serba hitam. "Maaf Bos. Tadi saya dalam perjalanan. Beberapa komplotan dari klan sebelah tidak tengah menyekap paman Jhon. Aku rasa paman Jhon ingin menjebak Anda," kata Rehan memberitahu.
"Paman mau menjebakku? Apa lebih baik aku masuk ke perangkapnya, atau bagaimana menurutmu?" tanya Daren minta pendapat.
"Saya takut mereka merakit senjata yang berbahaya. Bisa jadi paman Jhon meletakkan boom di gudang itu. Apa Anda sudah tahu, kalau paman Jhon tengah berkencan juga dengan Shela?" ucap Rehan setengah memastikan.
Daren memukul setir kemudinya dengan kesal. Selama ini dia hanya diam belum mau bertindak. Tapi semakin dibiarkan, Jhon semakin bertingkah.
"Bos, telepon Anda berdering!" ucap Rehan memberitahu.
__ADS_1
Daren menatap layar ponselnya. Nama paman Jhon di sana. "Biarkan saja. Lebih baik aku mengurusi tikus berkepala hitam dari pada mengurusi orang serakah seperti dia."
"Jadi Bos?" tanya Rehan menunggu keputusan dari Daren.
"Kau awasi saja mereka, lebih baik aku bersenang-senang," ucap Daren dan Rehan akhirnya turun dari mobilnya.
Sementara itu. Senja tengah duduk di dapur. Dia menatap foto kecil Daren yang ada di tangannya. Entah kenapa, bayangan tentang masa kecilnya teringat kembali. Senja ingin menyalahkan Daren sekarang. Tapi semua itu tak bisa ia lakukan. Hati kecilnya selalu melarangnya.
Di sebelah tangan kirinya sudah ada ramuan yang ia racik sendiri. Ramuan yang katanya bisa mematikan musuh. Tapi Senja kesulitan. Dia ragu ingin melakukan itu pada Daren. Tapi kalau dia tidak melakukan ini, Daren pasti akan tetap mengurungnya. Di lain sisi, Senja takut Shela khawatir. Meskipun Senja sadar, kekhawatiran Shela terhadapnya tak akan pernah terjadi.
Ceklek!
Suara pintu terbuka. Senja meletakkan foto ke tempat asalnya. Lalu dia kembali di tempatnya dan pura-pura tidur. Lampu kembali gelap. Senja memang sengaja tidak menyalakan lampu itu. Karena dia tahu, dengan lampu maka Daren akan tahu apa saja yang ia lakukan. Diam-diam Senja pun menyadari, bahwasanya di tempat Daren diawasi oleh kamera CCTV. Wajar sih, rumah mafia dan juga direktur perusahaan ternama. Pasti dia takut terjadi apa-apa di dalam rumahnya.
Senja tetap memejamkan matanya saat cahaya lampu bersorot ke matanya. Dia hanya ingin tahu, Daren bakal melakukan apa saat dia tengah tertidur seperti ini. Apa dia akan mencekiknya, atau melakukan hal lain?
Dia mendengar Daren duduk di depannya. Daren membuka tudung saji. Itu yang Senja dengar. Setelah itu terdengar Daren mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik dan meletakkannya di atas meja.
Tap.
Tudung saji tertutup rapat. Masih terdengar Daren menyibukkan diri. Seperti memasukkan barang-barang ke dalam kulkas. Sepertinya Daren pria yang rajin. Harusnya dia itu bermalas-malasan setelah bekerja. Tapi sepertinya dia bukan tipe pria yang seperti itu.
Senja terkejut saat tangan dingin menyentuh kulitnya. Tapi dia masih pura-pura tidur. Mendesis pelan tanda ia terkejut. Ternyata Daren menggendongnya, membawakan ke kamarnya. Daren menyalakan lampu kamarnya, dia mengambil sebuah handuk. Senja bernafas lega saat Daren ada di kamar mandi. Senja membuka matanya dan sedikit berpikir. Sebenarnya tinggal bersama Daren tidak terlalu buruk untuknya. Tapi hal yang membuatnya terpaksa saat Daren mengajaknya ke lembah surgawi. Senja masih belum ikhlas lahir batin. Semua hanya demi ibunya Senja kehilangan kehormatannya.
Terdengar handle pintu hendak dibuka. Buru-buru Senja kembali menutup matanya. Hatinya bersorak-sorai, rupanya mengintai Daren dalam keadaan seperti ini menyenangkan juga buatnya.
Daren membuka pintu lemari. Dia melepas handuknya di sembarang tempat. Mata Senja membulat sempurna. Daren pria yang tidak tahu malu. Bisa-bisanya dia tampil polos di depan seorang perempuan?
__ADS_1
Mendengar gerakan dari tubuh Senja. Daren tersenyum devil. "Aku tahu kau pura-pura tidur Senja," ucap Daren. Dia sudah mengenakan celana boxer. Namun tubuhnya masih belum tertutupi apa-apa.
"Bangun atau aku..."
Daren menggantung ucapannya. Dia membalikkan badannya ke arah Senja.
"Apa?" tanya Senja sambil mengucek matanya. 'Si*l. Kenapa Daren bisa tahu kalau aku belum tidur?' batin Senja kesal. Tapi dia tetap pura-pura bangun tidur.
"Bermain satu ronde denganku," ajak Daren. Mulut atasnya terangkat menampilkan senyum penuh kemenangan.
"Aku ngantuk!" ucap Senja yang memiringkan tubuhnya. Dia kembali memejamkan matanya. Harusnya Daren paham kalau Senja telah menolaknya.
"Bangun Senja. Atau aku benar-benar akan menidurimu!" ancam Daren yang membuat Senja terbangun dari posisinya.
"Apa maksudmu? Kenapa kau selalu mengancamku Daren?" Senja emosi. Dia menyibak selimutnya dan menghampiri Daren.
Daren masih bertelanj*ng dada. "Kenapa? Kau beneran mau? Kau sudah sangat tidak sabaran Senja." Daren mendorong tubuh Senja, hingga Senja terjerembab di atas ranjang empuk itu.
Senja hendak bangun, namun terlambat. Daren sudah mengunci tubuh Senja dengan tubuhnya. "Kenapa? Bukankah kau menginginkan ini?" Daren mendekatkan kepalanya tepat di depan wajah Senja. Senja memejamkan matanya dan memiringkan ke kiri.
Terpaan angin dari hidung Daren mengenai pipinya. "Ck, kau sangat percaya diri sekali Senja. Aku menyuruhmu bangun untuk makan. Tapi kalau kamu tetap pura-pura tidur, lebih baik aku yang melahapmu!" ucap Daren dan Senja membuka matanya. Dia merubah posisi kepalanya yang kini berhadapan tepat dengan wajah Daren.
Tak ada suara dari mulut mereka berdua. Hanya ada suara deguman jantung mereka berdua yang sahut-sahutan. Keduanya saling memuji akan fisik masing-masing. Hingga Daren menjauhkan tubuhnya dari tubuh Senja. Kalau dibiarkan, aksi panas mereka akan terulang lagi dan lagi. Bukannya Daren tidak ingin. Tapi sedari siang Senja tidak makan. Mana mungkin Daren tega membiarkan tawanannya mati kelaparan?
"Bangun dan kita makan malam!" Daren mengenakan kaosnya. Dan Senja mengerjapkan matanya berkali-kali. Ternyata Daren tak seburuk apa yang ia pikirkan.
Bersambung...
__ADS_1