SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Daren Kembali


__ADS_3

...****************...


DOOR!!


PYAAR!!


Terkejut dan kaget. Daren langsung menunduk ke bawah. Padahal kaca mobilnya terlindungi oleh tujuh lapisan yang tidak akan rusak dengan benda lain.


"Siapa?" tanya Daren. Dia hampir lengah tadi. Hanya dia yang diincar, tidak dengan Rehan atah sopirnya.


"Bos! Lenganmu terluka!" Rehan sedikit panik melihat darah yang bercucuran dari lengan Daren.


"Jalan lebih cepat lagi. Langsung ke kantor saja!" perintah Daren. Dia seperti tidak punya rasa sakit. Luka yang seperti ini kerap ia rasakan. Tapi Daren tidak habis pikir, di siang bolong seperti ini ada orang yang ingin mencelakainya. Dan parahnya, hanya posisi Daren yang mereka incar.


"Tapi Bos! Aku khawatir sama lukamu. Yang kemarin belum sembuh, kenapa sekarang dapat serangan lagi?" Rehan mencoba memberikan obat bius sementara pada lengan Daren.


Daren tak berekspresi apapun. Dia hanya memberikan instruksi mata pada Rehan agar segera membukakan pintu untuknya. Mereka sudah sampai di kantor. Daren sudah tidak sabar ingin masuk dan bertemu dengan Senja.


"Silahkan Bos!" Rehan setengah menunduk sambil menatap lengan Daren yang mengucurkan darah segar.


"Ambilkan jaket!" perintah Daren. Dia menyadari kalau luka di tangannya bukan hal yang sepele. Dari pada semua pegawainya bertanya-tanya dan menduga yang bukan-bukan, lebih baik dia diam saja.


Daren punya 2 jalan yang berbeda. 1 untuk membela kebenaran, satu lagi jalan gelap yang ia rintis sedari kecil.


"Bersikaplah seperti biasanya Re! Dan kau juga, tugasmu di bawah perintahku dan Rehan!" ucap Daren pada si sopir.


Si sopir hanya mengangguk saja. Keluarganya sudah ditawan oleh Daren. Jadi menurut adalah pilihan yang terbaik.


Daren berjalan sambil menahan sakit di lengannya. Sesekali dia meringis kesakitan. Tapi dia mengabaikan itu. Daren berjalan ke lantai 1. Sepi, hanya tamu dan resepsionis.


"Selamat siang Tuan Daren!" sapa si resepsionis dan Daren mengangguk.


Daren melewati jalan lift para pekerja. "Lantai 2," katanya dan Rehan segera menekan nomor yang dimaksudkan oleh Daren.

__ADS_1


Rehan menatap curiga. Tapi dia hanya berjalan mengikuti langkah Daren.


Daren berjalan di tengah-tengah para pekerjanya. Shasa yang sedari melamun langsung heboh. "Tuan Daren!" teriaknya sumringah. Daren hanya mengangguk sambil terus berjalan. Ruangan Senja kosong, tapi tas dan beberapa lembar kertas masih berada di tempat.


'Keluyuran kemana anak itu?' batin Daren penasaran. Sudah menahan sakit sejauh ini, yang diharapkan malah tidak ada. Kecewa.


Daren segera memalingkan mukanya dari arah kerja Senja ke arah lurus ke depan. Saat menoleh, orang pertama kali yang ia lihat adalah orang yang ia harapkan.


Senja yang tadinya berjalan dengan santai, tiba-tiba menciut. Keduanya saling berhadapan. Senja segera menunduk dan melanjutkan langkah kakinya ke depan.


'Kenapa dia muncul lagi? Wajah pucat seperti mumi, apa dia sakit?' batin Senja bertanya-tanya.


Ada rasa lega di hati Daren, saat orang yang ia inginkan masih dalam keadaan sehat. Karena jarak Senja semakin dekat, Senja kembali menunduk.


"Selamat siang Tuan," ucap Senja pelan.


"Siang." Jawaban pertama kalinya dari Daren membuat Senja mendongakkan kepalanya.


'Tumben. Apa dia kesambet?' batin Senja merasa curiga. 'Jangan-jangan waktu di luar negeri, dia diruqiah pak ustadz, sampai dia mau membalas sapaan karyawan sepertiku,' batin Senja lagi yang kembali menunduk.


"Langsung ke VIP!" perintah Daren kemudian.


Mendengar itu, Senja merasa ada yang berbeda dari Daren. Daren yang sekarang seperti Justin yang dikenalnya.


'Apa dia masih pura-pura?'


...****************...


"Kau itu pelac*rku! Cuma melayaniku! Ingat itu!" Seorang pria memarahi Shela yang kini tengah bersimpuh di lantai. Shela dihajar habis-habisan oleh atasannya karena ketahuan menghabiskan malamnya dengan pria lain.


"Kau layani aku, biar semua ekonomimu beres. Atau kau layani orang lain, dan kau ku berhentikan!" Seorang pria yang dikenal sebagai kepala kepolisian ternyata juga sudah mencicipi tubuh Shela sebagai jaminan dia bekerja selama ini. Tapi Shela berkhianat diam-diam. Entah sudah berapa pria yang menjamah tubuhnya, sampai ketahuan oleh atasannya.


"Anda sudah beristri Pak. Dan aku cuma budak untuk memuaskan kebutuhan biologismu saja. Kenapa aku tidak boleh punya hubungan lain yang pasti akan menikahiku?"

__ADS_1


Shela menangis. Hidupnya sangat tidak tenang semenjak dia mengenal Boy. Karena meskipun Shela berpacaran dengan Boy, tapi Boy lah yang menjual Shela pada kepol sampai Shela diberikan pekerjaan. Cintanya pada Boy begitu besar, sampai dia terjebak dalam lembah kesesatan. Bahkan J yang teman suaminya juga sudah menjamahnya. Hanya saja, J ingin hubungan keduanya berjalan serius. Karena J benar-benar ingin menikahi Shela. Tapi seperti cerita anak remaja pada umumnya, Shela punya pria idaman lain. Jadi meskipun dia menghabiskan waktunya bersama J, belum tentu Shela mau dinikahi olehnya.


"Kau sudah terikat denganku. Aku sudah menghabiskan banyak uang demi kamu dan Boy. Dan sekarang Boy sudah meninggal, jadi cuma aku yang boleh kau puaskan! Ngerti!!" Kepol itu marah dan menyeret Shela ke atas kursi. Kepol itu memaksa Shela untuk melayaninya. Meskipun Shela enggan melakukannya, tapi kepala polisi itu terus memaksanya. Tidak ada rasa nikmat, hanya rasa sakit dan pedih yang dirasakan oleh Shela. Sejenak dia merasa berdosa pada almarhum jagat. Karena Shela sudah mengkhianati cinta mereka.


...****************...


Daren pergi ke gudang sendirian. Tanpa Ferdi atau Rehan atau ajudan yang lainnya. Entah apa yang dicari olehnya. Setelah selesai mencabut peluru itu secara paksa dari lengannya. Kini Daren mencari sesuatu, serbuk rahasia yang akan cepat mengeringkan lukanya.


"Seingatku ada di sini!" gumam Daren. Dia mendesis menahan perih. Tangannya tidak bisa terlalu dipaksakan untuk bergerak. Tapi dia harus kuat.


Sudah cukup lama. Namun tidak ketemu. Daren frustasi dan memilih untuk duduk bersandar di dekat meja. Dia menselonjorkan kakinya di sana. Memejamkan matanya sejenak.


Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Seorang perempuan dengan tumpukan buku tinggi sampai menutupi wajahnya. Daren menoleh dan ingin memakinya. Tapi dia urungkan. Dia hanya ingin menenangkan dirinya sesaat saja.


BRAKK!


Terdengar pintu ditutup begitu keras. "Duh! Pintunya konslet kalinya. Padahal aku belum sempat menutupnya," gerutu perempuan itu sambil meletakkan semua tumpukan yang ia bawa tadi di atas meja. Dia meletakkannya dan merapikan sebentar.


Daren kembali menoleh. Dia baru sadar siapa orang yang masuk barusan.


'Kebetulan sekali,' batin Daren sambil tersenyum licik. Dia menatap body Senja yang terlihat berubah. Senja terlihat lebih seksi dari sebelumnya. Mungkin karena pengaruh burung Pipit miliknya.


"Arg!!" teriak Daren tiba-tiba.


Senja yang mengira itu suara hantu, segera ngacir menuju ke arah pintu.


Ceklek! Ceklek! Ceklek!!


Senja ketakutan, pintunya tak bisa ia buka.


"Mati aku!" gumam Senja sambil setengah merinding.


Kedua insan manusia itu terjebak di dalam gudang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2