
...****************...
"Kerja yang bagus Senja," ucap Daren sambil berdiri bersandar di pintu mobilnya. Dia sudah menunggu Senja dan ingin merayakan hari yang berbahagia ini dengan Senja.
"Jangan berbesar kepala. Aku memang berkata jujur. Karena memang bukan aku orang yang terakhir bersama Om Boy. Tapi kamu dan anak buahmu," ucap Senja dengan lantang namun menahan emosi. Matanya memerah akibat menahan air mata yang hendak menetes dari tadi. Tapi dia masih pura-pura kuat akan masalah yang dihadapinya sekarang.
"Jadi kamu menyesal!" kata Daren setengah meremehkan. Padahal Daren ingin bersenang-senang dengan Senja, namun reaksinya tak seperti yang Daren bayangkan.
"Tidak!! Bukankah ini yang kau inginkan? Aku tidak menyerah, dan aku menerima tantanganmu!" jawab Senja sambil melirik sadis ke arah Daren. "Permisi!" lanjutnya.
Daren merasa tertolak. Tapi dia tidak memaksa. Justru penolakan halus dari Senja adalah tantangan buatnya. 'Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku Senja. Setelah kau kalah dengan perasaanmu, di situ aku yang akan menang,' batin Daren sambil menatap punggung Senja dari kejauhan.
Berbeda dengan Senja. Dia terus berjalan. Menoleh sedikitpun dia tidak sudi. 'Pria b*jingan sepertimu memang harus dilawan. Aku tidak sudi disentuh olehmu. Aku akan tunjukkan, siapa yang tidak tahan duluan,' batin Senja. Dia menatap mobil Daren yang tiba-tiba melewatinya.
Tantangan tidak menyapa dalam sebulan. Menyapa hanya dalam versi formal, bukan yang non formal. Jadi hal ini sangat menyulitkan Daren untuk mengerjai Senja. Tapi Daren sangat lihai. Otaknya yang licik itu akan membuat Senja terus berpapasan dengannya saat di kantor atau di manapun Senja berada.
...****************...
Hari pertama.
PLAK!!!
Tamparan keras dilayangkan Shela kepada Senja. Senja yang hendak berangkat ke kantor jadi tertunda gara-gara ulah ibunya yang tiba-tiba menjadi sadis layaknya macan kelaparan.
"Dasar anak tidak tahu diri. Seperti inikah balasanmu padaku? Oke, aku kalah dalam persidangan kemarin. Tapi tunjukkan padaku, sosok seorang Daren itu seperti apa?" tantang Shela. Senja terlihat diam sambil memegangi pipinya yang terasa sangat panas.
"Jawab b*doh! Aku menyekolahkanmu bukan untuk jadi perempuan b*doh dan b*su seperti ini! Jawab, apakah kamu sudah bertemu dengan Daren, heh?"
Senja menatap kasihan pada ibunya. Ibunya yang berambisi ingin balas dendam, tapi ibunya tidak ada usaha apapun selain bersenang-senang di luar sana bersama almarhum Samboy.
"Belum," jawab Senja berbohong. Jika berkata sudah, pasti ibunya akan terus memaksanya untuk bertemu dengan Daren. Dan itu akan membuat Senja kalah tantangan di hari pertamanya.
"Jadi ngapain aja kamu selama ini? Kerjamu apa di sana? Dasar gak berguna!" Shela menendang kursi yang ada di sampingnya.
Senja menunduk. 'Aku bahkan dijadikan teman ranjang oleh Daren. Apa ibu perduli dengan itu?' batin Senja sambil menitikkan air matanya.
"Aku berangkat dulu," pamit Senja yang sudah menulikan telinganya. Dia tidak perduli dengan panggilan Shela yang terus menerus meneriaki namanya.
__ADS_1
Senja menghilang di belokan rumahnya. Dia sudah memesan ojek online untuk hari ini. Karena waktu sudah sangat terlambat, dan bisa saja Miss Shasa akan menghukumnya.
"Pak, agak ke depan!" pinta Senja saat dia sudah sampai di halaman kantor.
Setelah turun dari motor ojek online tadi. Senja segera berlari dan menekan tombol yang menunjukkan sebuah kamera. Senja segera memfokuskan wajahnya.
"Senja Sudrajat, hadir!" ucapnya dan pintu terbuka otomatis.
Di tempat lain. Daren yang sudah menunggu kehadiran Senja, langsung tersenyum senang. Hari ini mereka berdua akan menjalani tantangan pertamanya.
"Aku tidak membunuhnya. Tapi kau..." tunjuk Senja pada Daren.
"Maka dari itu, menurutlah denganku. Tetap menjadi teman ranjangku dan kau akan selamat Senja!" ucap Daren sambil meraih tengkuk Senja. Mengelus leher Senja sampai memegang rambut Senja yang terurai bebas.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Senja yang pada akhirnya pasrah dengan keadaan.
"Melayaniku setiap aku ingin," bisik Daren tepat di telinga Senja.
"Kau gila. Aku bukan istrimu. Dan aku bukan p*lacur," teriak Senja sambil menjauhkan tangan Daren dari lehernya.
"Katakanlah aku harus apa?" tanya Senja yang kali ini dengan suara yang melemah.
"Cukup jawab tidak dan tidak jika ketua hakim memojokkanmu," perintah Daren dan Senja menyanggupinya.
"Aku bersedia melakukannya, tapi aku juga ingin kau menuruti permintaanku." Senja menatap Daren dengan sinis. Dia sama sekali tidak ada perasaan dengan Daren, dia seperti ini karena terjebak dalam sebuah kasus.
"Apa itu? Kenapa kau menuntutku?" Daren langsung duduk di atas meja terdekat.
"Aku mohon jangan minta dilayani denganku," mohon Senja. Namun Daren segera menggeleng.
"Tidak bisa. Perjanjian adalah perjanjian. Kau akan tetap melayaniku setiap aku ingin," kata Daren dengan santai.
"Baiklah, aku akan melayanimu. Tapi dengan syarat, jangan pernah menyapaku selama sebulan. Jika kau melanggarnya, tolong lepaskan aku!" ucap Senja kala itu.
"Lalu gimana dengan dirimu? Rasanya tidak fire kalau hanya aku. Gimana kalau kita berdua sama-sama tidak saling menyapa. Apa kau sanggup?" Daren balik menantang.
"Baik. Tapi bukankah di kantormu, bawahan harus menyapa atasannya?"
__ADS_1
"Kita tetap saling sapa, tapi hanya urusan kantor. Tidak dengan yang lainnya," jawab Daren. Tantangan yang menarik.
"Deal. Tunggu aku berhasil memenangkan sidang," jawab Senja. Keduanya berjabatan tangan.
"Deal," jawab Daren setuju.
"Hari ini ada rapat di lantai berapa?" tanya Daren pada Ferdi.
"Rapat ada di lantai 3 Tuan!" jawabnya memberitahu.
"Suruh resepsionis menugaskan karyawan yang bernama Senja di lantai 3," perintah Daren dan langsung diiyakan oleh Ferdi.
Di tempat Senja. Senja baru saja mengerjakan tugas yang diberikan oleh Shasa padanya. Senja dan Shasa bekerja di lantai 2, jadi mereka selalu bertemu. Dan Shasa memanfaatkan kehadiran Senja buat terus membantu pekerjaannya.
"Senja, hari ini kamu dipekerjakan di lantai 3." Seperti itulah pesan yang disampaikan resepsionis kepadanya. Senja melongo. Daren yang berada di lantai 7, kenapa memerintahkan dia bekerja di lantai ke 3?
'Baguslah, jangan sampai aku bertemu dengannya,' batin Senja sedikit lega. Ya, setidaknya kontak mata di antara mereka akan jarang terjadi.
"Miss Shasa, maaf saya ada tugas lain. Jadi saya tidak bisa melanjutkan tugas dari Miss Shasa."
Shasa melongo. "Anak magang itu? Kenapa dia bisa berada di lantai 3?"
Padahal lantai ke 3 adalah tempatnya para tamu undangan. Pasti isinya orang-orang kaya. Pantaslah kalau Shasa jadi iri pada Senja.
Baru saja Senja keluar dari lift. Di tempat seberangnya, Daren juga baru keluar dari lift. Indra penglihatan kedua manusia itu saling bertabrakan.
'Ah, si*l. Kenapa harus bertemu di tempat ini?' batin Senja merutuki dirinya.
"Pagi Tuan!" sapa Senja sambil menunduk. Ini adalah sapaannya di hari pertama. Senja tidak tahu, kalau ini adalah akal-akalan Daren agar tembok penjagaan Senja runtuh dengan cepat.
Disapa seperti itu. Daren seperti menuli. Dia berjalan dengan angkuh sambil melewati Senja begitu saja. Dan di belakangnya ada 2 ajudan yang menjaganya.
"Si*l. Si*l. Argh! Dia kan Bos, jadi dia semena-mena. Huft, tenang Senja tenang! Kamu harus kuat. Jangan sampai bertemu lagi," gumam Senja sambil meninju-ninju buku laporan yang ia bawa dari bawah tadi.
Di balik tingkah konyol Senja, di situ Daren tersenyum bahagia. Daren tidak menyangka, tantangan ini sangat menarik perhatiannya. Apalagi sebelumnya dia tidak pernah bertemu dengan cewek jual mahal seperti Senja. Kebanyakan cewek sudah bertekuk lutut tanpa Daren minta, tapi ini? 'Dia benar-benar berbeda.'
Bersambung...
__ADS_1