
...****************...
Dalam seminggu terakhir ini, Shela terus berusaha untuk menemui Daren. Namun Daren selalu menghindar. Daren takut dia khilaf dan melampiaskan amarahnya pada Shela. Sementara Senja masih menginginkan ibunya. Dan jika Daren yang membunuh Shela, otomatis Senja akan membencinya.
Tapi tidak dengan hari ini. Hari ini Daren kembali menemui Shela. Tapi didampingi oleh Rehan dan Selo. Karena Daren dengar, Shela telah merencanakan sesuatu untuknya. Sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Jadilah Daren menyuruh bodyguardnya.
'Anak ini, kenapa dia sangat licik? Dia selangkah lebih pintar dariku. Bagaimana caraku menghabisinya jika dia didampingi pengawalnya?' Shela emosi. Dia tak ada kesempatan lagi untuk menghabisi Daren. Padahal ini adalah kesempatan emas setelah 7 hari menunggu.
"Daren! Aku tidak mau berbasa-basi denganmu. Kali ini, tolong serahkan Senja padaku. Pulangkan dia kalau masih hidup," ucap Shela meminta Daren.
'Kalau masih hidup? Apa dia berharap Senja mati?' batin Daren.
"Kau ibu macam apa? Anaknya hidup atau mati saja tidak tahu," sindir Daren tajam.
"Karena dia ada bersamamu. Aku yakin itu," jawab Shela.
"Kalau tidak? Apa kau akan terus menuduhku? Bisa jadi dia dilain tempat ibu Shela?" Daren bersikap masih biasa.
'Dia begitu menginginkan Senja karena ancaman paman Jhon. Memangnya imbal balik apa yang akan didapatkan Shela jika Senja sudah kembali?' Daren masih bertanya-tanya.
"Aku tidak perduli. Karena yang aku tahu, dia hilang saat ingin menemuimu!" Shela menggebu-gebu.
'Jadi Senja ngadu? Anak itu, dibenci ibunya saja masih baik hati.'
"Oh iyakah? Bukannya kamu suka kalau anakmu menghilang? Hidupmu akan aman tanpa terganggu lagi. Oh satu lagi, kamu pernah bilang anakmu sudah mati!"
"Kau!" potong Shela dengan tajam.
Shela menodongkan sebuah pistol tepat di depan Daren. Rehan dan Selo refleks berusaha melindungi Daren.
"Biarkanlah!" ucap Daren sambil menyuruh Rehan dan Selo mundur.
"Tapi Bos," ucap Rehan waspada.
__ADS_1
Daren mengeluarkan ponselnya. Dia memutar sebuah record suara dari Shela kala di club malam waktu itu.
Shela membulatkan matanya. "Kau...." Shela menutup mulutnya hingga pistol yang ia pegang tadi terjatuh.
"Jadi apa kau akan terus menemuiku ibu Shela? Atau rekaman ini akan didengar langsung oleh anakmu sendiri?"
"Daren. Kau penjahat yang keji. Jalanmu sangat kotor!" Nafasnya naik turun. Daren lebih pintar ketimbang dirinya. Sepertinya Shela kalah jauh soal balas dendamnya.
"Dan kau juga ibu Shela. Apa jalanmu selama ini tidak kotor? Bukankah kau ingin menembakku? Kenapa tidak jadi?" sindir Daren lagi.
Shela sudah hilang akal. Dia berlari ke arah Daren namun Rehan dan Selo begitu cepat menghalangi Shela.
"Daren, ayahmu telah membunuh suamiku. Ingat itu!" ucap Shela sambil berteriak-teriak.
"Dan suamimu telah membunuh ayahku Nyonya Shela. Daren berjalan, dia mengambil pistol yang jatuh tadi dan melihatnya dengan teliti. Namun pistol itu milik seorang polisi. Bukan senjata milik Jhon.
"Lepaskan tanganku!" Shela emosi. Tangannya telah dipegang oleh Rehan dan Selo. Hingga dia tak punya akses apapun untuk melawan Daren.
Di tempat yang berbeda. Sudah beberapa kali Senja bolak balik westafel. Sampai tenaganya terkuras habis tidak karuan.
"Hah. Tubuhku rasanya remuk." Senja melihat jam.
"Jam segini, Daren masih lama pulangnya. Ya udahlah, aku mau buat air hangat saja." Senja merasa dirinya tengah masuk angin. Mualnya tak biasa. Jadi dia berusaha membuat air hangat untuk dirinya sendiri. Lagian menyuruh Daren, orangnya juga belum tentu mau. Dia sudah terlatih mandiri. Meskipun seadanya.
Merasa baikan. Akhirnya Senja tertidur juga.
Beberapa jam kemudian Daren pulang. Dia tak mendapati lampu gelap lagi. Daren haus dan mengambil air putih di dapur. Dia setengah kaget melihat dapur yang berantakan.
"Anak itu, tumben sekali dia malas. Dapur berantakan seperti ini kenapa tak dibersihkan?"
Daren orang yang risih melihat rumahnya berantakan. Dia segera menaikkan lengan bajunya sebatas siku. Lalu dia mulai mencuci dan membersihkan barang-barang kotor. Kalau di rumahnya yang lain dia menyewa jasa kebersihan. Khusus tempat tinggalnya yang satu ini dia bersihkan dengan tangannya sendiri. Apalagi ada Senja di rumahnya, semuanya jadi terasa lengkap. Namun kurang satu, status hubungan mereka yang belum jelas. Hanya sebatas teman ranjang, atau lebih dari itu?
Daren melihat Senja yang sudah tertidur pulas. "Selalu tak menggunakan selimut, hmm." Daren berjalan mendekat. Dia mencoba menarik selimut. Namun dia terpaku pada wajah Senja yang terlihat polos seperti tanpa beban. Daren berjongkok di sampingnya. Menyibakkan rambut Senja yang sedikit menutupi wajahnya.
__ADS_1
'Kau setan kecil yang mencuri perhatianku. Sekarang kau sudah dewasa. Dan memuaskan hasrat ku di setiap aku ingin.' Daren mengelus pipi Senja.
Senja sedikit terusik. Daren menghentikan elusannya, dan Senja pun kembali tenang. Kali ini Daren hanya mendekatkan wajahnya dan mencium keningnya.
Orang normal pasti akan mengatakan i love you. Tapi Daren... dia hanya bungkam tanpa mengetahui perasaan aslinya. Antara cinta, dendam dan musuh. Tapi sampai sekarang belum ada kemajuan tentang hubungan itu.
...****************...
Tengah malam Senja terbangun.
"Apa yang kau butuhkan?"
Suara Daren mengejutkannya. "Kau sudah pulang? Kenapa tak tidur?" Entah keberanian dari mana. Senja yang biasanya jarang perhatian seperti tadi, tiba-tiba berubah seperti itu.
"Aku sudah terbiasa tidak tidur. Kecuali kau melayaniku. Mungkin aku akan puas, dan bisa tertidur dengan nyenyak," jawab Daren. Dia selalu bernafsu setiap membayangkan lekuk tubuh indah Senja yang ada di bawahnya.
"Aku tak enak badan Daren. Apa kau akan tetap memaksaku?" Senja terlihat minta belas kasih.
"Bukankah kau suka dipaksa Senja? Kau tak akan melayaniku jika aku tak memulainya duluan," sindir Daren. Dia tengah mencari informasi tentang Ferdi. Karena Daren yakin 100 persen, kalau Ferdi akan kembali. Karena sampai sekarang jasadnya belum ditemukan.
"Ku mohon, malam ini saja ijinkan aku tidur dengan nyenyak." Mohon Senja setengah merengek. Tangannya menyatu setara dadanya. Memohon agar Daren tak mengajaknya ber ah uh ria.
"Jika aku mengabulkan permintaanmu. Apa balasan untukku Senja? Apa kau akan melayaniku dengan baik?" Daren mematikan laptopnya. Ternyata berdebat dengan Senja semakin menyenangkan. Dan tanpa mereka sadari, hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka setiap malam.
"Ya tentu saja. Bukankah sarapan pagimu sudah ku layani dengan baik? Pakaianmu? Setiap hari aku yang mencucinya, meskipun menggunakan mesin cuci," balas Senja. Dia sedang tidak memikirkan hal mesum. Entah kenapa, melihat Daren dia ingin dimanja. Tapi gengsi untuk mengatakan secara lisan.
"Dan aku ingin dilayani olehmu saat di ranjang. Aku ingin merasakan sensasi baru," ucap Daren menyeringai.
"Daren! Aku tak enak badan. Bisakah kau tidak membicarakan hal itu? Rasanya perutku jadi mual dan ingin muntah." Senja langsung kabur ke kamar mandi. Dia kembali memuntahkan isi perutnya.
"Kenapa anak itu?"
Bersambung...
__ADS_1