
...****************...
Senja mengganti pakaiannya. Celananya sedikit sesak. "Sepertinya pakaianku sudah mulai tidak muat ya. Hahaha, aku tak menyangka. Hidup dikurung oleh Daren malah buat berat badanku naik. Kata orang, bahagia itu bisa bikin gemuk. Apa aku bahagia di sana?" Senja bergumam sambil menatap dirinya di cermin dari samping, depan dan belakang.
Pipinya terlihat cubby, perutnya juga sudah tidak datar lagi. Padahal tidak menggunakan obat apapun. Tapi semua merubah dirinya dengan derastis.
"Ah kenapa mikirin ini terus? Lebih baik aku melanjutkan tugasku yang tertunda. Ternyata dibebaskan Daren ada manfaatnya juga untukku. Aku bisa melanjutkan pencarian tentang kematian ayahku." Senja kembali membuka laptopnya. Ternyata datanya masih aman. Saat asik meneliti semuanya, Senja mendapatkan hal yang ganjil. Dia memicingkan matanya. Mendadak kepalanya pusing tak karuan. Wajah Daren melintas di otaknya.
"Kenapa aku merindukannya?" gumam Senja. Entah kenapa, hanya satu kenangan yang dia punya. Kartu memori hitam itu. Senja belum melihat jelas tentang isinya.
Akhirnya dengan keberanian diri dia membukanya. Terlihat Daren yang membopong Senja di sana. Senja melotot. Daren terlihat diam tak berani menyentuhnya. Tapi di sana...
"Astaga, pantas saja Daren selalu mengatai ku murahan. Ternyata..." Senja segera mematikan video itu.
Senja terlihat begitu agresif. Tapi kenapa Senja malah senang melihatnya. Tapi rasanya malu. Dia hanya fokus ke Daren, bukan dirinya.
"Senja," panggil Shela dari luar.
Segera Senja menyembunyikan kartu memorinya. "Ibu sudah menyiapkan malam untukmu," ucap Shela dan Senja merasa aneh. Ibunya kembali baik. Entah kenapa, hati Senja sudah membatu sekarang. Entah ibunya mau baik, mau jahat. Tapi Senja sudah merasa tidak perduli. Jika sayang padanya, harusnya Shela sudah menyambutnya dengan pelukan, bukan kemarahan seperti tadi.
"Apa yang ibu inginkan? Tanpa ibu menyiapkan makanan untukku, aku bisa menyiapkannya untuk diriku sendiri." Senja terlihat berbeda. Shela jadi sedikit tak nyaman.
"Apa Daren telah mempengaruhi otakmu? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Shela. Dia menatap tubuh Senja dengan tak biasa.
'Semoga apa yang aku pikirkan tidak terjadi. Iblis itu, dia telah berhasil merusak anakku,' batin Shela sambil mengepalkan tangannya. Shela sendiri tak bisa melakukan apapun selain menyuruh Jhon agar membunuh Daren. Tapi... bayaran untuk Jhon adalah Senja. Sangat sulit buat Shela, jalan satu-satunya hanya menyembunyikan keberadaan Senja untuk sementara ini. Ya, body Senja dan wajahnya yang belia sudah hilang. Shela takut Jhon tidak mau, lalu Shela yang dibunuh.
"Daren... dia hanya mengurungku," ucap Senja. Dia duduk tak berminat menatap makanan yang dimasak ibunya.
"Makanlah Senja, aku takut kamu sakit." Shela memberikan perhatiannya kembali. Namun lagi-lagi hati Senja sudah membatu.
"Aku tidak lapar Bu. Entahlah," jawab Senja sekenanya. Akhir-akhir ini dia agak kurang nyaman dengan kondisi tubuhnya. Seperti masuk angin, tapi dia tak kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Baiklah. Ibu tidak akan memaksamu. Ibu cuma ingin memberi tahu sesuatu ke kamu." Shela menatap Senja dengan tajam.
Tatapan pangling dan campur aduk yang Shela rasakan saat menatap Senja. Meskipun sebenarnya dia ingin menepis semua itu. Tapi perubahan itu semakin nyata. Ingin bertanya, Shela takut. Karena dia tak pernah berharap hal buruk terjadi pada anaknya.
"Apa itu?" Senja jadi penasaran. Siapa tahu kabar yang akan diberikan ibunya ada manfaatnya.
"Ibu harap jangan keluar rumah dulu ya," pinta Shela.
"Memangnya ada apa? Apa ibu ingin mengurungku juga?" tanya Senja penasaran.
"Lebih baik begitu Senja. Soalnya Jhon, dia menginginkanmu," ucap Shela. Sepertinya jujur soal ini tidak masalah. Ketimbang nyawanya yang terancam.
"Jhon? Jhon pamannya Daren? Untuk apa dia menginginkanku?" tanya Senja emosi. 'Apa Daren menyerahkan tugasnya pada Jhon? Kenapa mereka berdua sama saja? Selalu menyulitkan ketenanganku. Tapi tunggu, Daren dengan Jhon berbeda. Mungkin mengikuti permintaan ibu tak ada salahnya,' batin Senja. Dari pada masuk ke rumah Jhon, lebih baik Senja stay di rumah.
"Dia ingin kamu menjadi istrinya," ucap Shela lagi.
"Apa? Jangan gila Bu. Jhon lebih pantas jadi kakekku."
"Maka dari itu Senja. Ibu senang saat kau bersama Daren. Karena dari hari itu Jhon mencarimu," terang Shela dan membuat Senja mengerti.
"Baiklah ibu. Sepertinya aku akan menuruti permintaanmu kali ini," jawab Senja yang membuat Shela lega.
'Setidaknya kau sembunyi sampai apa yang aku pikirkan tidak terjadi dalam hidupmu!'
...****************...
Hari ini Shela harus keluar rumah. Dia harus bekerja lagi. Ya, kali dia turun pangkat. Menjadi waiters sepertinya tidak masalah. Lagian meskipun dia tua, wajahnya tak terlalu terlihat tua. Dia masih cantik, body seksi. Tentu melamar kerja langsung diterima.
Shela terpaksa begini demi menghidupi Senja juga. Sebab Senja harus di dalam rumah. Tak boleh keluar, meskipun itu kuliah atau bekerja..Intinya biar Jhon percaya kalau Senja memang tak ada di rumah.
"Shela!" Suara Jhon mengejutkan Shela yang tengah mengelap meja restoran.
__ADS_1
"Pak Jhon." Shela ketakutan. Tapi dia harus berakting.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan anakmu?" tanya Jhon. Karena Jhon tahu, Daren sedang keluar negeri sekarang ini. Itu tandanya Senja memang tidak dengan Daren. Apalagi selama ini kecurigaan Jhon juga tidak benar.
"Aku belum menemukannya. Entah kemana anak itu? Mungkin Daren menyembunyikannya," pancing Shela. Dengan begitu, Jhon akan menemui Daren. Maka terjadilah perang. 'Memang cerdas otakku,' batin Shela merasa bangga.
"Kau jangan ngarang Shela! Selama ini aku tidak pernah melihat Daren jalan dengan seorang wanita. Bahkan aku sudah memata-matainya, tapi tak pernah Daren membeli barang untuk wanita di dalamnya. Semua hanya kebutuhan Daren sendiri," ucap Jhon.
Shela terkejut. Ternyata Jhon tak sepintar Daren. Jika Jhon saja tidak tahu kalau Daren menyembunyikan Senja? Jadi di mana sebenarnya Senja ditahan oleh Daren?
...****************...
"Boleh aku minta tolong?" Daren membisikkan sesuatu ke telinga resepsionis perempuan.
"Apa itu Tuan?" tanya sang resepsionis penasaran.
"Tolong belikan ini. Pakaian lengkap, sandal, dalaman, dompet panjang. Dan alat make up lengkap. Jika sudah, masukkan barang itu ke dalam belanjaan anak buahku," bisik Daren. Lalu dia memberikan uang yang tak sedikit ke resepsionis yang diyakini sangat pandai menjaga rahasia. Jadi hari itu, Daren masih aman dari pantauan Jhon.
Karena Daren tahu, anak buah Jhon terus mengintainya. Bahkan saat Daren dan Senja hendak keluar dari apartemen itupun dimatai-matai anak buahnya Jhon. Dan sebelum hal itu terjadi, Daren sudah memanipulasi semuanya. Hingga anak buah Jhon tak melihatnya. Semua karena intrik dari Daren. Makanya Senja bisa selamat sampai sekarang.
"Tetap cari perhatian mereka agar tak melihatku," perintah Daren pada anak buahnya.
"Tapi Bos. Bagaimana dengan Senja?" tanya Rehan khawatir.
"Senja akan aman bersama Shela. Karena Shela tak mungkin menyerahkan Senja dalam keadaan jelek. Aku memang sengaja mengurung Senja, karena dia gagal hamil. Jadi membuatnya jelek tak ada salahnya juga. Jhon menyukai Senja karena Senja seksi dan cantik. Tapi sekarang? Aku yakin Shela ketakutan, jadi dia akan melarang Senja untuk keluar rumah," ucap Daren. Meskipun belum terjadi. Daren berharap, apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran.
"Sepertinya itu tidak buruk Bos. Dari pada terus berada di apartemen Anda, yang ada Senja semakin tidak karuan."
"Soalnya paman sudah curiga denganku. Jadi aku harus cepat membawa Senja. Nanti akan ku pikirkan caranya." Daren segera kembali ke apartemennya. Dan saat itu dia sudah merencanakan semuanya.
Dan setelah kepulangan Senja, benar saja. Apartemennya telah dibobol. Anak buah Jhon masuk ke dalam rumahnya. Dan seperti rencana sebelumnya, di kamar Daren tak ada satupun pakaian wanita atau barang-barang milik Senja.
__ADS_1
Jadi apa sebenarnya yang Daren rencana kan?
Bersambung...