
...****************...
"Bangun!" Seseorang menepuk-nepuk pipi Shela dengan kasar.
"Jhon? Apa yang kau lakukan denganku?" Shela terkejut saat mendapati badannya teringat di kursi. Dia tak bisa melalui apapun. Karena tangannya juga diikat di belakang kursi.
"Di mana Senja? Katakan padaku! Kau sudah menipuku waktu itu, dan sekarang jangan salahkan aku jika aku menawanmu," ucap Jhon. Dia sudah tak bernafsu dengan tubuh Shela lagi.
"Aku menawanmu bukan karena aku tertarik padamu. Milikmu sudah peyot, pasti rasanya hambar. Aku menawanmu untuk anakmu. Biar dia tahu kalau ibunya tidak baik-baik saja," ucap Jhon, dia menggunakan besi panjang. Sesekali buat menekan tubuh Shela. Hingga Shela meringis kesakitan. Jhon pria sadis, dia tak segan-segan melakukan kekerasan pada seorang wanita.
"Lepaskan aku Jhon! Ini terlalu sakit!" Shela kesakitan. Beberapa kali Jhon memukulnya dengan besi ke tubuhnya. Shela bergelinjang kesakitan. "Berhenti Jhon, apa yang kau inginkan!"
"Sudah ku katakan, aku ingin putrimu. Tapi kau terus membohongiku. Sekarang aku tak ingin kau membohongiku, cepat hubungi putrimu dan kirimkan foto tentang dirimu sekarang!" ucap Jhon. Dia mencengkeram dagu Shela sampe memar. Sekali lagi, Jhon adalah pria sadis. Dia berani melakukan apa saja terhadap wanita, termasuk membunuhnya.
"Hubungi saja sendiri. Bukankah kau lebih bisa melakukannya dari pada diriku," jawab Shela. Dia diikat, mana mungkin bisa melakukan apa yang diinginkan oleh Jhon.
Jika dahulu Senja ditawan Daren tanpa disakiti, namun nasih Shela sangat berbanding terbalik. Jhon sangat kasar dan sadis. Memukul tubuh Shela sampai memar dan biru.
Jhon melepaskan ikat pinggangnya.
CETARRRR!
"ARGH!" Shela berteriak kencang saat Jhon mencambuknya dengan kuat.
CETARRR!
__ADS_1
Jhon 3 kali mencambuk Shela. Hingga Shela limbung. Darah timbul dari luka cambukan itu. Bahkan baju yang Shela pakai dibuat robek oleh perbuatan Jhon.
'Sepertinya kematianku akan segera datang. Ya Tuhan, sakit sekali rasanya. Jhon benar-benar menyiksaku,' batin Shela. Dia menangis meratapi nasibnya saat ini. Bahkan di ujung kesakitannya, dia masih berharap Senja hadir dan Jhon melepaskannya.
"Nah ini bagus. Menangislah, aku akan buat video tentang dirimu." Jhon menjambak rambut Shela. Mau tak mau, Shela mengeluarkan air matanya.
"Kau sangat kejam Jhon!" teriak Shela dengan suara yang serak.
"Hahaha! Apa kau baru tahu? Kalau aku tidak kejam, aku tidak akan hidup sejauh ini. Aku adalah mafia terkuat. Dan kau pikir mafia itu hanya menyayangi perempuan sepertimu! Ini akibatnya kalau kau berani membohongiku. Dan kesempatan untukmu telah berakhir!" ucap Jhon sambil tertawa renyah.
Dia mendorong kepala Shela dan meninggalkan Shela usai mendapatkan apa yang ia inginkan. Jhon mengirimkan video itu untuk Senja. Namun nihil, nomor Senja tidak aktif.
"Anak ini! Usahaku akan gagal kalau dia tak melihat ibunya yang kesakitan di sini," gumam Jhon. Dia sudah hampir frustasi untuk menghubungi Senja yang hilang dari jangkauan.
...****************...
"Berapa lama perjalanannya?" tanya Daren. Dia menatap langit biru. Langit yang cerah dengan sedikit awan putih, terlukis senyuman Senja dan tangisan Senja di sana. Daren merasa bersalah saat Senja menangis. Dia berjanji, akan menemui Senja jika semua urusannya dengan paman Jhon-nya selesai.
"Mungkin 2 hari Bos," kata Rehan memberitahu.
"Hem." Daren hanya berdehem. Dia hanya tak habis pikir, kenapa kemarin dia bisa membayangkan orang lain adalah Senja. Padahal jelas-jelas wanita yang ia lihat kemarin bukanlah Senja. Sebab yang kemarin adalah wanita lain yang tengah hamil.
'Aku merindukanmu Senja, apa kau juga sangat merindukanku?' batin Daren.
Di tempat yang berbeda. Senja juga sangat merindukan Daren. Tiap mau makan saja dia harus menatap foto Daren agar bisa menelan makanannya.
__ADS_1
"Aku pengen disuapin olehmu Daren. Sepertinya bukan aku yang ingin, tapi anak kita," gumam Senja sambil mengelus perutnya yang kini sudah terlihat membesar. Waktu persalinan masih 4 bulan lagi. Dan Senja tidak akan mampu sendirian di sini. Mungkin Senja akan menghubungi ibunya. Tapi tidak akan sekarang. Karena sekarang Senja masih mampu. "2 bulan lagi mama akan menghubungi nenekmu," ucap Senja pada bayinya.
...****************...
Ke-esokan harinya. Daren, Rehan dan anak buahnya yang lain telah sampai di sebuah pulau terpencil. Sinyal dan sebagainya tak bisa terhubung di sana. Hanya menggunakan alat darurat untuk menghubungi sahabatnya yang telah sampai lebih dulu di tempat itu.
"Apa benar ini tempatnya?" tanya Daren pada sahabatnya. Mereka berada di tempat yang berbeda. Karena pulau ini cukup luas, jadi mencari keberadaan mereka itu sangat susah. Ditambah tak ada transportasi di sini. Mau tidak mau Daren harus jalan kaki.
"Tempat ini sangat luas. Kalian harus waspada dan mengikuti arah kompas. Kompas menuju ke arah timur daya. Mister bilang sekitar 53 kilo meter tempat tinggalnya dari lautan." Daren terlihat tetap tenang. Hal seperti ini tidaklah sulit untuknya. Karena dari kecil dia sudah mengalami hidup terlunta-lunta. Sendirian di hutan bahkan tidak makan.
"Apa Anda tidak capek Tuan? Jika capek, Anda bisa membuat tenda di sini. Dan saya yang akan pergi ke sana!" ucap Rehan. Dia tahu Daren orang yang kaya raya, hidup mewah, makanan lezat pasti akan didapatkan dengan mudah. Tapi saat ini Rehan kasihan melihat Daren dalam kesusahan.
"Kau jangan meremehkanku Rehan. Kau pikir aku akan pingsan dengan berjalan 53 kilo meter? Tidak Rehan, aku tidak akan membuang banyak waktu lagi. Secepatnya kita cari Ferdi, biar semuanya terungkap!" ucap Daren semangat. Demi bertemu Senja. Daren sudah tak mau menunda-nunda pekerjaan lagi.
"Baik Tuan," jawab Rehan. Dia tak enak hati pada Daren yang begitu semangat.
"Kalian lapar? Istirahatlah sejenak untuk makan," ucap Daren. Dia adalah seorang penjahat, tapi sangat pengertian terhadap anak buahnya. Bisa dibilang baik, tapi juga bisa dibilang kejam tak punya hati.
"Tapi Bos. Apa Anda tak makan?" Anak buahnya yang lain merasa tak enak jika bosnya tak makan.
"Kalian makanlah. Aku masih belum nafsu," jawab Daren. Dia tengah memainkan ponselnya. Tiba-tiba sebuah video masuk ke dalam salah satu aplikasinya.
'Kerja yang bagus Marten. Besok kau akan dapat bayaran untuk biaya persalinan istrimu,' batin Daren senang.
'Paman pikir aku diam saja saat paman mencoba menghubungi Senja? Tidak paman, aku akan buat pesan darimu tidak terkirim. Sebab nomormu sudah diblokir sejak awal sebelum Senja mengetahui nomormu,' batin Daren tersenyum senang. Setidaknya dia cerdas, sebelum Jhon menghubungi Senja, Daren sudah memblokir nomor itu sejak awal.
__ADS_1
Bersambung...