SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)

SENJA (Teman Ranjang Anak Mafia)
Lepaskan Dia


__ADS_3

"Tolong bebaskan ibuku!" pinta Senja. Dia terlihat masih sabar menghadapi Jhon.


"Tentu. Tentu aku akan membebaskannya," jawab Jhon. Dia berdiri dan mendekat ke arah Senja.


"Di mana Ibuku?" Senja berteriak sebelum Jhon mendekatinya.


'Lihatlah! Ibu hamil ini sangat menggemaskan saat marah. Pantas saja Daren menghamilinya. Si*lan anak itu, dia sudah berani mengambil kenikmatan surgawi ku,' batin Jhon. Dia masih memperlihatkan wajah menawannya. Wajah menawan menurutnya, tapi seperti wajah jelek dan menakutkan bagi Senja.


"Sabarlah. Apa kau tak ingin bermain-main denganku?" ucap Jhon, dia sudah berada di depan Senja. Bahkan tangan nakalnya sudah sangat berani membelai pipi Senja.


Namun sebelum Jhon melakukannya, Senja segera menghindar. "Di mana ibuku? Cepat kasih tahu!" Senja berteriak dengan nafas naik turun menahan emosi.


"Aku sudah datang, bukankah ini yang kau minta? Aku datang dan kau akan melepaskan ibuku!" ucap Senja, dia menatap Jhon dengan mata penuh amarah.


"Baiklah, aku tidak akan mempermainkanmu." Jhon kembali ingin mengusap pipi Senja. Namun lagi-lagi Senja berhasil menghindar.


'Sepertinya kau ingin bermain-main denganku,' batin Jhon. Dia mengira Senja sama murahannya dengan ibunya, tapi ternyata sedikit sulit ditaklukkan.


"Kau! Bawa Shela ke sini!" suruh Jhon pada anak buahnya.


Dan tak lama kemudian, Shela dibawa ke depan. Posisinya masih terikat di kursi. Wajah lunglai dan banyak bekas luka.


"Ibu! Ibuk!" teriak Senja hendak berlari ke arah Shela. Namun Jhon menghalangi dengan tangannya.


"Lepaskan ibuku!" teriak Senja sambil mengeratkan rahangnya.


"Tidak semudah itu," jawab Jhon enteng.


"Apa lagi yang kau inginkan? Aku sudah datang sesuai keinginanmu!" ucap Senja emosi.


"Kita belum bersenang-senang sayang." Jhon mengelus lengan Senja.


PLAK!!!


Senja menampar pipi Jhon dengan kesal. Matanya penuh dengan kebencian dan cacian pada Jhon.


"Lancang sekali Anda. Kau pikir aku ini apa?" Senja menantang Jhon yang terlihat begitu mesum dan menjijikkan di matanya.


"Ow, ternyata kau suka dikasarin. Baiklah, aku akan melakukannya untukmu!" Jhon mendekap tangan dan tubuh Senja.


Shela yang melihatnya langsung tidak tega. "Jhon! Lepaskan putriku!" teriaknya ingin membela Senja.


Namun Jhon terus mengunci pergelangan tangan Senja. "Kau sungguh liar. Menurutlah, kau pasti ketagihan!" bisik Jhon dan Senja meludahi wajahnya.


CUIH!

__ADS_1


"Kurang ajar!" Jhon mendorong Senja ke sofa.


"Tidak! Lepaskan! Lepaskan!" Senja terus memberontak. Perutnya yang besar, membuatnya kesulitan untuk melawan Jhon.


Srek!! Jhon berhasil menyobek baju yang Senja kenakan.


"JHON! HENTIKAN!" teriak Shela lagi.


"Lepaskan aku! Atau aku akan membunuhmu!" ancam Senja.


"Coba saja kalau bisa. Kau pikir aku sebodoh itu," ucap Jhon. Dan dia mencoba mencium leher Senja.


"TIDAK! TIDAK!! BA*INGAN KAU!" Senja mencoba menendang tubuh Jhon. Namun sial sekali, Jhon sudah menindih tubuhnya.


"Tidak jangan lakukan. Aku sedang hamil," mohon Senja sambil menangis.


"Kau terlihat sangat manis saat seperti ini. Aku sudah tidak sabar membawamu menuju kenikmatan," kata Jhon sambil menahan tangan Senja yang terus berusaha berontak.


"Lepaskan dia paman! Apa yang akan kau lakukan pada wanita hamil seperti ini?"


Suara itu... sontak semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke sumber suara.


"Daren!" panggil Senja dengan memelas.


"Kau tak perlu ikut campur Daren. Bukankah kau sudah membuatnya hamil? Dan sekarang giliranku menikmati tubuhnya. Tidak masalah meskipun dia hamil, paman tetap menerimanya dengan senang hati," ucap Jhon dengan percaya diri.


"Justru karena Senja mengandung anakku. Maka aku ke sini untuk menyelamatkannya dari aki-aki tua sepertimu," ucap Daren. Dia mengambil pistolnya dan menodongkan ke arah Jhon.


"Daren, sejak kapan kau melawan paman?" tanya Jhon pura-pura memelas.


Daren maju ke depan selangkah demi langkah. Yang pasti dia mendekat ke arah Senja yang kini sudah berdiri sambil menutupi baju yang sempat dirobek oleh Jhon.


'Daren, kenapa dia ada di sini? Lihatlah sayang, papamu datang untuk menyelamatkan kita,' batin Senja. Dia hendak membebaskan Shela, namun dirinya sudah dikepung. Namun seseorang meraih tangannya. Senja terkejut bukan main. Ia kira ada orang lain yang hendak menawannya, namun ternyata salah. Itu adalah tangan Daren yang hendak melindunginya.


"Bodoh, kenapa bodohmu kamu pelihara?" bisik Daren dan membawa Senja berdiri di belakangnya.


Senja ingin marah, tapi waktunya tidak pas. "Kenapa kau tahu aku ada di sini?"


"Sudah jangan banyak tanya. Lebih baik kamu berlindung di belakangku. Untuk anak kita," ucap Daren.


Deg!


Senja terdiam seketika. 'Anak kita? Bagaimana Daren bisa tahu?' batin Senja. Tapi ini bukan saatnya untuk hal yang seperti ini. Senja harus selamat dan menyelamatkan ibunya.


"Lepaskan Shela atau aku melepaskan tembak ini!" ancam Daren.

__ADS_1


"Tidak dua-duanya. Berikan Senja kepada paman, dan paman akan membebaskan Shela," jawab Jhon.


Mata Daren awas menatap Marten. Dan saat itu, Marten menusuk temannya yang menjaga Shela. Dan di saat yang bersamaan Jhon melepaskan pelurunya ke arah Daren. Sontak Daren menghindar, begitu juga dengan Senja yang sudah diajak jongkok oleh Daren.


"Bagus paman. Bagus! Semua fasilitas dariku untukmu aku cabut. Dan yeah, usahamu membunuh Ferdi tidak berhasil," ucap Daren dan Ferdi masuk dari pintu dengan tenang.


Ferdi berjalan beriringan dengan kakek tua tadi.


"VIKTOR!" teriak Jhon yang mendadak lemas.


Melihat itu, anak buah Jhon langsung menjatuhkan senjatanya. Jika fasilitas dari Daren tercabut. Otomatis mereka tak akan pernah mendapatkan bayaran secuil pun. Ditambah lagi nama Viktor adalah mafia tertua sebelum Jhon. Karena Jhon dulunya hanyalah seorang anak buah.


Daren mendongak. Viktor adalah ayahnya. Kenapa pamannya itu memanggil ayahnya.


"Hahaha, kau masih mengingatku Jhon. Kau pasti tidak akan pernah percaya kalau aku masih hidup," kata Viktor dan Daren segera menatap orang yang mengaku ayahnya.


'Jadi bapak tua ini adalah ayahku. Lalu bagaimana dengan ayah Senja? Ya Tuhan, kenapa aku tidak mencari kebenarannya dulu? Kenapa baru sekarang ayahku kembali?' batin Daren. Dia menatap Senja dengan menyesal.


"Ayah," panggil Daren lirih.


"Iya Daren, ayah masih hidup," jawab Viktor sambil tersenyum. Dan rupanya Daren mengenali senyuman dari Viktor.


"Tidak! Kau sudah mati Viktor. Aku yakin itu bukan kau. Dan kau Ferdi, kau juga sudah mati." Jhon seperti orang gila. Dia menatap Shela dan langsung menusukkan sebuah pisau ke tubuh Shela. Entah dari mana Jhon membawa pisau itu.


"Aku tak akan membiarkanmu hidup Shela. Karena hari ini riwayatku juga akan tamat," bisik Jhon. Dia menatap ke arah Marten.


"Pengkhianat," ucap Jhon.


"Ibu!" teriak Senja saat melihat darah mengalir dari tubuhnya.


"Fer, bawa Shela keluar. Selamatkan dia," perintah Daren dan Ferdi mengangguk setuju.


"Dan kau paman, aku tak akan pernah mengampunimu. Karena kau adalah musuhku!" ucap Daren.


Tapi Jhon masih mengelak. "Aku bukan musuhmu Daren. Aku masih pamanmu. Apa kau tak ingat, selama ini paman merawatmu dan membesarkamu hingga sekarang," kata Jhon memelas.


"Kau merawatku untuk memanfaatkanku. Kau menginginkan semua hartaku!" Daren memutar sebuah suara dari ponselnya Ferdi.


Semua orang terdiam dan mendengarnya termasuk Senja. Shela? Dia sedang dibawa ke rumah sakit oleh Ferdi.


"Kedua..." Daren menjeda ucapannya.


Flashback...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2