
Kami masuk ke rumah yang sepertinya akan manjadi tempat persinggahanku setelah menikah.
Kulihat Mertuaku sedang sibuk yang entah sibuk dengan apa .
Ketika melihatku Mama Mertua lah yang selalu berhamburan menyambutku.
" Sayang , Kalian berdua darimana sih ? Mama khawatir lho ".
" Kita dari Hotel Dubras maa ". Jawab Mas Candu.
Mendengar Ucapan Mas Candu seketika kedua orang tuanya berbinar.
" Kalian ke Hotel yaa ...wahh Pa , Sepertinya kita akan segera Launching nih ".
" Launching apa ma ". Kataku yang Penasaran.
Mas Candu mungkin tau maksut perkataan Mama mertua namun entah mengapa dia malah membawaku ke kamar.
" Mas , Aku belum selesai ngobrol sama mama ".
" Nanti saja , sekarang aku yang akan berbicara padamu ".
" Mas sebenarnya mau bicara apa sih, Kenapa gak langsung bicara aja tadi di perjalanan membuang waktu tau gak sih ".
Mas Candu menarik tanganku dan segera masuk ke dalam kamar.
" Duduklah, Mari kita bicara tentang hubungan kita dengan serius ".
" Hubungan kita emang ada main-main kah ". Selorohku.
" Bukan itu , Kita menikah karena Perjodohan Orang Tua dan sudah dipastikan tidak ada Perasaan disini . Aku ingin memulai dari awal denganmu , Bagaimana".
" Da--dari Awal maksutnya . Oh , jadi selama ini kamu menganggap hubungan ini tidak resmi karena kamu tidak mencintaiku ".
__ADS_1
" Adinda Senja Wijaya tolong dengarkan dulu".
" Tidak perlu memanggil nama Panjangku , Cukup Senjaa saja ".
" Tidak mau , bagaimana jika aku memanggilmu Sayang saja ". Godanya padaku dengan memainkan kedua alisnya.
" Terserah saja yang penting tidak sampai ketahuan karena kita harus merahasiakan hubungan ini dulu , terlalu cepat untukku ".
" Oke , Tapi Ingat jaga Perasaanku ".
" Tunggu , Apakah kamu mencintaiku ?".
Belum ada Sepatah katapun yang keluar darinya , Aku begitu penasaran dengan jawabannya.
" Susah ya untuk menjawabnya , ya uda deh aku ngerti kok ".
" Maafkan aku , karena ini juga terlalu cepat untukku ". Selorohnya.
" Oh , Lalu untuk apa aku harus menjaga Perasaanmu jika kamu saja tidak bisa tentu tidak adil untukku ".
" Kalo begitu mari buat Perjanjian ".
Mas Candu masih enggan menanggapi Perkataaanku , Aku mulai merasa bingung dengannya .
" Takut yaa ? Jadi sejak tadi mau bicara apa sih jadi Penasaran ". Ungkapku dengan menarik Perhatiannya.
" Aku ingin Hubungan kita seperti layaknya suami istri lainnya ".
*Deg*
*Deg*
*Deg*
__ADS_1
Aku terperangah kala mendengar permintaannya , Sungguh-sungguh diluar dugaanku.
" Emang hubungan kita tidak layak yaa ". Kataku yang berpura-pura tidak paham.
" Kamu pasti tau kan kewajiban seorang Istri yang sempurna untuk seorang Suami ." Lirihnya yang membuat tubuhku merinding kala mendengarnya.
Sepertinya Mas Candu ini sengaja membuatku tak bisa berkutik lagi , Seharusnya memang wajib untuk melayani suami namun ketakutan yang sedang melandaku.
" Kenapa kamu hanya diam saja , itu berarti kamu sudah paham kan ".
" Tidak , Aku tidak tau tentang itu . Aku masih banyak tugas Kuliah untuk dikumpulkan besok, Apa bicaranya sudah selesai ".
" Apa Tugas itu Lebih penting dari suamimu ".
" Untuk saat ini lebih penting karena aku tidak ingin berurusan dengan dosen Killer ". Ungkapku .
" Siapa Nama Dosen Killermu itu ? Apakah sudah tua bangkotan ".
" Sudah ya Mas Candu , Aku harus menyelesaikan Tugas ".
" Tugasmu sebagai Istri Bagaimana ? Apa kamu mau jadi Istri Durhaka ".
" iihh Kenapa jadi nyebelin gini sihh , taukk ahh ". Sulutku.
" Marah juga tidak diperbolehkan ?".
" Mas Candu yang Terhormat , mau kamu apa sebenarnya ?."
Dia tidak menjawab malah pergi sepertinya mengambil sesuatu.
" Ini Adalah Nafkah untukmu.. Pergunakanlah semaumu aku tidak perduli itu tapi ...".
" Ta--pi apa ? ".
__ADS_1
" Kau paham kan Nafkah Lahir Batin dan -----".