
Senja dan Candu langsung ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan mama Shinta.
" Kakak ". Lirih Senja sembari memeluk Awan kakaknya.
" Dek , mama ". Balasnya yang sudah tak sanggup menahan kesedihan.
" Tidak kak , mama ? dimana mama , dimana mama ?". Histeris Senja.
" Senja , Senja dengarkan kakak dulu . Kita harus sabar dan ikhlas ". Kata Awan.
" Aku ingin mama , mama , mama ... jangan tinggalin Senja maa.. mama ". Teriaknya histeris dan memaksa ingin masuk ke dalam ruangan pasien.
Candu segera menenangkan Senja agar jauh lebih tenang namun dia kembali lagi berteriak histeris tiada henti.
Senja tidak bisa menemani saat-saat terakhir mamanya pergi.
Pihak dari Rumah Sakit segera memproses kepulangan mama Shinta.
Ketika Jenazah dibawa keluar , Senja berlari menghampirinya .
" Mama ... hiks... mama !!! mama mengapa harus meninggalkan aku maa ". lirihnya lalu tiba-tiba tubuhnya pingsan tak berdaya.
__ADS_1
Candu segera membopong tubuh senja , hal ini sangat tidak masuk akal menurut candu karena mama Shinta bisa dikatakan membaik kemarin .
Disisi lain , Candu menelpon Jeni yang ternyata juga seorang dokter ditempat mama shinta dirawat untuk mencari tahu riwayat penyakit yang di derita mama shinta secara detail.
Jeni adalah Istri dari sahabat Candu yang bernama Bimo , bahkan Bimo juga seorang dokter namun menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Kasih Bunda yang ternyata kakak dari Zavir.
Keganjalan yang diterima oleh Candu sangat mencurigakan apalagi dia mencurigai istri dari kakaknya senja , Aruna.
Tangis pecah Senja kembali memuncak kala sudah sadarkan diri , suara orang melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an menggema di ruangan keluarga di iringi dengan isakan tangisan.
" Wanita itu sangat mencurigakan sekali , dia tidak menangis dan sangat tegar atas kepergian mama shinta ". Gumam Candu dalam hatinya seraya mengawasi Aruna.
Mama Rani pun tak bisa membendung air matanya kala melihat sosok sahabat sejatinya yang sudah mendapat takdir pulang ke rahmatullah.
" Shin , Shinta ... mengapa ? mengapa secepat itu , bukankah kita sudah berjanji akan menimang cucu berdua . Shinta bahkan kamu belum berpamitan padaku ". Lirih mama rani di sertai isakan tangis pilu.
Andi menenangkan istrinya agar tidak berlarut dalam kesedihan bahkan mau tidak mau harus mengikhlaskan sahabatnya.
Pemakaman sudah selesai , bunga-bunga bertabur indah mewangi semerbak yang menyegarkan , tanah masih terasa basah karena cuaca hari ini sedikit gerimis melanda.
Semua orang kembali hanya Senja , dan keluarga yang tetap berada dipusara tempat istirahat terakhir.
__ADS_1
Senja kembali menitikkan air matanya memandang potret mamanya yang terpajang di batu nisan.
" Sayang , Hujan sepertinya akan turun sangat deras . Kita pulang ya ". Ajak Mama Rani .
Tidak ada jawaban darinya , Senja masih memandang potret mamanya .
" Senja sayang jika kamu seperti ini mama akan tersiksa . Senja harus ikhlas ya ". Ucap Papa Senja.
Air mata senja tidak keluar namun sangat menghawatirkan.
Hari sudah mulai agak gelap karena awan mendung berkabut , Hujan turun dengan sangat lebat.
Candu menyuruh keluarga senja untuk kembali lebih dulu karena dia yang akan menjaganya.
Sampai Hujan mengguyur dengan derasnya disertai petir yang menakutkan yang biasanya membuat takut Senja , namun hari ini dia sama sekali tidak menghiraukan petir yang sedang bersahut-sahutan.
" Sayang , jika kamu terus seperti ini sungguh tidak baik untuk kesehatan tubuhmu . Kita pulang ya ". Ucap Candu.
Candu menutupi tubuh senja agar tidak kehujanan ,
" Mama !!! mama !! ". Teriak Senja dengan tiba-tiba lalu pingsan lagi.
__ADS_1
Tubuh Candu gemetaran karena rasa dingin sudah menusuk ke tulang-tulang.