
Mas , Kenapa Keluar ? Mana Janjimu ". Seruku.
" Tadi siapa yang memanggilmu sayang hahh". Wajahnya terlihat merah padam bahkan tatapannya tajam seperti burung elang .
" Hufftt.. Mas Candu salah paham , Pria itu Sahabatku juga namanya Zavir ". Jelasku.
" Gak tanyak ". Ketusnya.
" Lah tadi bukannya nanya ". Heranku pada Mas candu .
" Ayo pulang . Pria itu sepertinya menyukaimu aku sangat tidak suka ".
" Tidak suka Apa cemburu ?". Ledekku.
" Ayo Pulang ". Tangannya menarik Tanganku.
Namun Zea malah memergoki kami yang sedang tarik menarik .
" Mas , Cepat masuk mobil . Zea itu mengenali wajahmu ". Aku Panik.
" Kenapa harus takut ? Ayo kita Pulang ".
" iihhh Nyebelin banget sih . Kalo gak masuk Mobil aku juga gak akan pulang bersama kamu selamanya kalo bisa ". Lirihku pelan agar tidak kedengaran Zea.
" Ck Kamu mengancamku ".
Aku melihat Zea sepertinya sedang mendekati kami .
" Sen , Ngapain sih ?". Teriak Zea.
Untuk antisipasi agar tidak ketahuan dengan segera kuhampiri Zea.
" Oh , itu tadi sopir Gue telepon . Mama khawatir Zee ." Terpaksa berbohong.
" Mmm begitu ya , Kita masuk dulu yuk. Eh Kasian banget Sopirnya kenapa gak sekalian masuk juga ".
" Ehh... Enggak-enggak jangan deh . Sopir Gue suka ngupil . Malu-maluin banget ".
" Hah , Masa sih ? Gak Percaya ".
" Duh Lo ya Ribet banget , yaudah kita masuk".
__ADS_1
Didalam Rumah Zea tepatnya di Ruang Tengah.
" Papa sebaiknya istirahat aja deh biar gak sakit juga ". Gumam Zea pada Papanya.
" Papa akan tunggu mama sampai sadar ".
" Gimana Za , Mama Gue gak kenapa-kenapa kan ?".
" Hanya kaget saja Zee , Lo tenang aja biarkan Mama Lo Istirahat ".
" Baiklah . Terima Kasih Za ".
" Sudah semestinya Seorang Sahabat selalu ada untuk Sahabat yang membutuhkan ya gak Sen ". Zavir sok Bijak.
" Enek banget gue dengernya ". Sambarku.
" Haahhaha , Eh Sen Ngomong-ngomong Sopir Lo kasian banget kalo disuruh nunggu lama gitu ". Kata Zavir.
" Iyaa , Menurut Gue juga gitu Zaa ". Sahut Zea.
" Udah , Ngapain perduli sama sopir toh dia juga dibayar kan ". Jawabku.
" Iya sih , gue lihat dari Jauh Sepertinya Sopir Lo Lumayan juga tapi kok suka Ngupil yaa ". Ungkap Zea.
" Kenapa jadi ngomongin Sopir sih , Gak ada Topik lain gitu ." Sarkasku.
" Masih bingung sama baliknya Rentenir serem tadi kok bisa ya mereka bilang Hutang Papa Lunas begitu saja , aneh kan ". Kata Zea.
" Ada kejadian seperti itu kenapa gue gak tau". Gumam Zavir.
Keduanya menatap ke arahku entah apa yang sedang mereka pikirkan.
" Kenapa kalian nglihat Gue seperti itu ".
" Gak ada kaitannya ama Lo kan Sen , Lo jujur saja ." Paksa Zea padaku.
" Beneran bukan Gue ".
" Lah Terus Siapa ? Sopir Lo Sen , kan gak mungkin ". Kata Zavir yang asal tebak.
" Bisa jadi tuh Sen ". Seru Zea padaku.
__ADS_1
Aku memang curiga itu Perbuatan Mas Candu namun sepertinya Zea sudah mulai Curiga dengan Sopirku itu.
Perdebatan kami terhenti karena Mama Zea sudah mulai sadar .
Setelah 2 jam lamanya.
Aku dan Zavir keluar dari Rumah Zea bebarengan.
" Bener nih gak mau pulang sama Gue ".
" Gak , Lo gausah repot-repot dan Gue gak mau ngrepotin ". Sarkasku.
" Bikin gemes aja Lo sen kalo lagi keki gitu ".
" Lo ya Za , ahh sana Lo ke Mobil Lo sendiri ".
Mas Candu tentu saja melihat aku dan Zavir yang sedang terlihat mengobrol asyik.
" Senja , Sampai ketemu besok di Kampus jangan lupa balas Chat Gue . Oke ".
" Hmm ".
Aku mulai memasuki Mobil milik Mas Candu yang setia menunggu.
" Enak yaa bisa goda-godaan sama Za...".
" Zavir namanya ? Uda biasa begitu kenapa sih lagian masih batas wajar deh ".
" Kenapa lama amat sih capek nungguinnya".
" Lagian siapa yang nyuruh mas nungguin hahh,. Ayo pulang ".
" Iyaa iyaa Istriku sayang ".
" Ehh Mas , Bentar deh . Apa bener mas yang bantu keluarga Zea tadi ".
" Ya , Terpaksa agar kamu aman dari mereka saja lagian nominalnya gak seberapa kan ". dengan mudahnya berkata demikian.
" Gak seberapa.? uang 250 juta itu amat banyak mas ".
" Kamu punya Kartu Blackcard tapi gak dipakek padahal isinya lumayan dari itu dan buat kebutuhanmu sebulan ". Jelasnya .
__ADS_1
Jika berdebat dengannya selalu saja kalah tidak pernah memberi celah sedikitpun untuk unggul.
Aku mendengus kesal