
" Mas , Mama sedang sakit ?". Kataku padanya.
Tanpa berpikir lama , dia langsung pergi ke Almari mengambil Kaos dan keluar dari kamar.
Ada raut khawatir yang kulihat dari wajahnya , Mas Candu sepertinya sangat menyayangi Mama Rani .
Setelah Mas Candu keluar kamar kusegerakan untuk memakai baju untuk menemui Mama Rani yang saat ini terbaring lemah namun masih cukup mampu untuk berbicara.
*Toktoktok*
Aku mengetuk pintu kamar mama Rani dan Mas Candulah yang membukakannya.
" Masuklah , mama juga sedang mencarimu ".
" Iya mas ".
" Adinda , Anak mama sini ? Pantas saja sangat lama ternyata ehmmm ." Perkataan Mama Rani membuat kami berdua salah tingkah.
" itu mah , Mas Candu pulang tidak berbagi kabar tiba-tiba saja ada di kamar ." Timpalku.
" Baiklah , sekarang kalian berdua ada disini. Mama senang sekali ".
" Kenapa mama jadi sakit seperti ini ? Mama jangan terlalu banyak pikiran ."
" Candu , mama hanya kelelahan saja kok . Besok sudah sembuh ".
" Mama sudah makan belum ". Sambarku.
" Sudah sayang , Mama hanya ingin ditemani kamu disini eh ternyata ada Candu juga ".
Mas Candu menatapku seolah kehadiranku membuatnya tersaingi oleh kasih sayang yang Mama Rani berikan padaku.
" Ehmm.. Ngapain menatap Adinda seperti itu ndu ". Kata Mama yang menyadari tatapan Mas Candu.
__ADS_1
" Tidak ada ma , hanya saja sepertinya anak mama bukan Candu deh ".
" Ada yang cemburu tuh maa ?" . Sindirku.
" Siapa yang cemburu ? biasa saja ".
" Ehh.. ehh sudah-sudah jangan dibiasakan ribut ahh.. mama paling gak suka loh ".
" Ya sudah , Candu mau Istirahat dulu maa capek hati capek pikiran ". Keluhnya.
Mama Rani yang tadinya memperhatikan Mas Candu kini berbalik menatap kepadaku.
" Sayang , ada masalah ya dengan kalian ". Tanya Mama Rani padaku.
" Hah Masalah , Gak ada kok ma ". Jawabku.
" Masalahnya Mama nyuruh Bi Yana ngetok pintu kamar salah waktu ". Ungkapnya sambil keluar dari kamar Mama Rani .
kini Mama Rani menatapku penuh intens dan entah mengapa tiba-tiba saja tersenyum simpul.
" Selesaikan waktu kalian yang terganggu tadi , pergilah ke kamar ". Titah Mama Rani .
" Maksud mama gimana ? Kan Senja disini mau menemani mama ". Kataku.
" Ya , Tapi kasihan itu Candu katanya Capek Pikiran dan Hatinya karena belum tuntas dan Puas ". Ucapan Mama Rani membuatku bingung.
" Tapi kan ma ?".
" Sudah , Susul Suamimu sana . Layanilah dia kan kalian sudah 2 mingguan gak ketemu apalagi sepertinya Candu terlalu rindu sampai meninggalkan bekas karyanya ".
Aku tersentak kala Mama Rani mengatakan Bekas Karyanya , Karya siapa ? Apakah Mas Candu.
" Maa , Aa itu ? Aku.. Aku mau ke kamar dulu yaa ". Rasanya Malu hingga membuatku menjadi gagap.
__ADS_1
" Jadi nyesel deh mama gangguin kalian , hehehe ".
Begitu aku keluar dari kamar Mama Rani , Aku berlari menuju Lantai Atas yaitu Kamar Mas Candu dan Kamarku juga .
*Cklek*
Tujuanku kali ini yaitu Tolet atau Meja Rias yang ada didalam kamar.
" Ya Allah , Mas Candu bener-bener keterlaluan sekali . Tanda merahnya begitu jelas ". Kulihat ke leher jenjangku kanan kiri sepertinya Full Tanda .
Aku mendecak Kesal namun hal ini mengingatkanku kembali pada Perkataan Kak Awan .
Kenapa Perkataan Kak Awan selalu saja menghantuiku , sungguh meresahkan apalagi Mas Candu pulang-pulang dari LN malah seperti ingin meminta Haknya padaku.
Ingin menolak tapi takut dosa , ingin mengingatkannya jika aku belum siap namun malah ke enakan .
Kini akupun merasa Penasaran seperti apa hubungan intim itu ?.
" Ahh Apa sih ? Kotor sekali pikiranku ini , Enggak pokoknya aku tidak boleh gegabah ". Lirihku sambil bercermin.
*Cklek*
Suara Pintu Kamar Mandi mengejutkanku ternyata Mas Candu yang keluar darisana , Pemandangan saat ini lagi-lagi membuat mataku tak bisa berpindah malah semakin tajam mengarungi bentuk tubuh yang sempurna itu , ehh tidak ada yang sempurna kecuali Sang Maha Pencipta.
Mas Candu mendekatiku dan membusungkan dadanya di depanku.
" Kamu bisa memegangnya kok tentu saja ini halal untukmu ". Ujarnya.
" Ehh.. Apasih mas ? ". Salah tingkah jadinya.
" Gak pernah lihat Tubuh beginian kan , nih Kamu boleh pegang sepuasnya mmm kamu bisa juga memegang yang lain yang lebih keras dan menantang ".
Kedua mataku membulat sempurna kala mendengar kata Keras dan Menantang , Astaga Mas Candu membuat Pikiranku Traveling saja.
__ADS_1