
"Hei Rui... Apa kamu tahu kalo lampion itu Memiliki keinginan dan juga memiliki dukungan yang kuat dari para pemiliknya!" Kata Gu fei.
"Iya nona saya tahu" Kata Rui.
"Tapi nona kenapa kita tadi harus terbang jauh berjam jam lagi!" Tanya Zu Rui penasaran.
"Apa kamu tahu!... Aku kabur dari rumah" Kata Gu fei dengan pelan.
"Apa.. Tapi nona bagaimana jika anda di cari dengan orang tua anda! " Teriak Zu Rui sampai membangunkan tidur Nagara yang pulas.
Karena Nagara kaget Nagara keluar menemui Gu fei.
"Gu.. fei.. Kenapa berisik sih!.. Aku lagi tidur juga nggak tenang! " Kata Nagara sambil menguap.
Zu Rui yang tidak tahu kebenarannya menyerang Nagara yang tiba tiba muncul.
"Hei kalian hentikan!" Teriak Gu fei.
"Kita itu teman kok malah saling menyerang!" Teriak Gu fei.
"Teman?" Mereka bingug melihat satu sama lain.
"Ayo kalian!... Ikut aku" Kata Gu fei sambil menarik mereka.
Gu fei berjalan jalan sambil melihat beberapa lampion untuk di terbangkan.
Ia juga sudah berkeliling tapi tidak ada lampion yang cocok dengannya.
Hingga akhirnya Gu fei memutuskan untuk menaruh lampion yang akan ia pilih di danau.
"Aku suka anggrek ini menggambarkan kehidupan yang bahagia! " Batin Gu fei.
Gu fei pun mengangkat lampion Itu sambil melulis sebuah kata permohonan.
"_Pesta yang begitu megah menggambarkan kedamaian didunia ini.
semua orang .
Perdamaian dibawah sinar rembulan menyatukan keinginan kami untuk terakhir kali_
_Gu fei_"
Begitulah bunyi keinginan Gu fei.
Setelah Gu fei menulis keinginan itu, Gu fei menaruh lampion di danau Phoenix Merah.
Setelah meletakkan lampion Gu fei memandang bulan sejenak.
Lalu Gu fei hanya terduduk diam berjam jam di samping danau sambil memandang bulan yang begitu indah.
"Semuanya... Gu fei tak menyesal atas perbuatan Gu fei selama ini!" Gumam Gu fei.
"Mungkin kita tak ditakdirkan bersama.. Dikehidupan ini maupun yang lain.. " Gumam Gu fei.
"Aku harus pergi sekarang mungkin mereka sudah selesai penyelidikan sebentar!" Gumam Gu fei.
"Nagara kemari bersama Rui sekarang" Batin Gu fei mencoba berbicara dengan Nagara melalui alam hampa.
"Ok~" Jawab Nagara.
Tak lama kemudian Nagara tiba di tempat Gu fei bersama Rui.
"Kita harus pergi sekarang!" Kata Gu fei begitu antusias pergi.
"Gu fei tunggu!.. aku ingin bicara denganmu!" Kata Nagara.
"Bicara?" Gumam Gu fei.
"Rui kamu pergi dulu!" Kata Nagara.
"Pergi?... Siapa kamu ngatur aku!" Jawab Rui.
"Rui pergilah dulu aku akan berbicara dengan Nagara! " Kata Gu fei.
"Ya sudahlah.. " Jawab Rui memutar kedua matanya malas.
__ADS_1
"Silakan bicara Nagara!" Kata Gu fei.
"Gu fei... aku ingin mengatakan sesuatu!.. Aku nggak bisa.. Pergi ikut kamu!" Kata Nagara.
"Aku juga nggak maksa kamu kok" kata Gu fei.
"Aku.. Aku.. Jiwaku.. Tersegel di kota ini jadi.. Nggak bisa ikut kamu pergi.. Maaf Gu fei" Kata Nagara sedih.
Gu fei pun menepuk pundak Nagara sambil berkata "Ya sudahlah!... Begini saja.. 5 tahun lagi aku akan kembali menjemputmu Nagara!.. Bagaimana?".
"Iya" Jawab Nagara sambil melihat ke arah Gu fei.
Nagara melepas segel yang ia buat di dahi Gu fei.
Setelah segel tersebut lepas Nagara mulai menghilang sedikit demi sedikit.
"Cepatlah kembali Gu fei" Gumam Nagara mulai menghilang.
"Selamat tinggal Nagara" Gumam Gu fei.
Setelah Nagara pergi Gu fei pergi juga dengan Rui.
Tapi Gu fei mengucapkan sebuah kata sebelum pergi.
"Selamat tinggal Semuanya aku akan merindukan kalian.. " Kata Gu fei sambil pergi.
Di saat bersamaan surat yang di kirim Gu fei untuk Xiao Sia sampai
Xiao Sia membuka dan membacanya.
Setelah Xiao Sia membacanya ia merasa geram dan marah.
Surat Gu fei untuk Xiao Sia.
"Kurang Ajar!.. Beraninya mengirim surat ini kepadaku pasti yang melakukannya wanita ******(salah satu ejekan Xiao Sia pada Gu fei) itu!" Teriak Xiao Sia.
Kemudian Xiao li pun mencoba menenangkan Xiao Sia yang marah.
"Apa sebenarnya surat itu Sia? " Tanya Xiao Binyo.
"Kak.. Lihat si wanita ****** itu mengirim surat kurang ajar ini padaku!" Kata Xiao Sia.
"Coba aku lihat" Kata santai Xiao Binyo.
Xiao Sia pun memberikan surat itu pada kakaknya.
"Hmm... Benar benar kurang ajar ya!" Gumam Xiao Binyo.
"Kakak Bi.. Aku punya usul untuk masalah ini!" Kata Xiao Li.
"Usul?...." Tanya Xiao Sia.
"Jadi Gini.. Kita akan memanfaatkan Kekuasaan keluarga Xiao Untuk menekan keluarga Zu!.. Bagaimana?" Kata Xiao Li menjelaskan.
"Aku setuju 100%" Kata Xiao Binyo.
"Benar juga.. Ha.. Ha.. Ha.. Xiao Li boleh juga hari ini kamu!" Tawa Xiao Sia.
Saat tawa Xiao Sia selesai tiba tiba terdengar suara panggilan telepon dari Xiao Binyo.
Kemudian Xiao Binyo mengangkat telepon itu yang ternyata dari salah satu pacarnya.
"Sayang ada apa menelepon malam malam begini?... Apa kamu kangen aku? " Kata Rayuan Xiao Binyo menjawab telepon.
"Ah.. Sayang Kamu ini nakal... Oiya sayang Apa kamu udah tahu jika keluarga Zu menjalin hubungan dengan keluarga Zhang" Kata Pacar Xiao Binyo.
"Zhang?" Pikir Xiao Binyo.
"Iya sayang keluarga Zhang penguasa kota itu lo... Katanya yang akan dijodohkan tuan muda Zhang ke 2.. Kalo nggak salah... Namanya itu!... Zhang Fian deh!" Kata pacar Xiao Binyo.
"Keluarga Zhang?... Penguasa Kota?... Zhang Fian?" Kata Xiao Binyo berpikir.
"Tunggu dulu sayang!.. kamu bilang keluarga Zhang penguasa kota!?" Tanya Xiao Binyo.
__ADS_1
"Iya" Jawab pacar Xiao Binyo.
"Terus yang di jodohin Tuan muda Zhang yang ke 2... Zhang Fian!?" Tanya Xiao Binyo.
"Iya" Jawab pacar Xiao Binyo.
"Apa!" Teriak Xiao Binyo.
"Sayang mungkin nanti malam aku nggak balik ke rumah ya! ada urusan" Kata Xiao Binyo sambil mematikan ponsel dan berlari ke ruangan kembali.
"Hei kalian!... Apa kalian tahu jika Keluarga Zu mengikat Janji pernikahan pada keluarga Zhang" Teriak Xiao Binyo.
"Zhang?.. " Tanya Xiao Sia yang hampir mabuk.
"Zhang!..itu kah kak Bi?" Tanya Xiao Li yang belum mabuk karena minum sedikit.
"Ha..Ha..Ha.. Apa hebatnya keluarga Zhang itu?.. Ayo kita bantai sekarang saja! " Kata Xiao Sia mabuk berat sambil mengangkat botol anggur.
"Dasar pemabuk!.. " Kata Xiao Binyo.
Tanpa Xiao li sadari Botol yang di pegang Xiao Sia di ayunkan sampai mengenai leher belakang Xiao li yang membuat Xiao li pingsan.
"Duk " Suara pukulan.
"Li.. Adikku sayang.. Ayo.. Minum lagi!" Kata Xiao Sia.
"Duh... Si Sia ini!.. Kan Li jadi pingsan karena ia pukul!.. Untung saja nggak berdarah... jika berdarahkan gimana mengatakannya pada paman!" Kata Xiao Binyo sambil mengecek keadaan Xiao Li.
"Mereka nggak bisa diandalkan nih!" Gumam Xiao Binyo sambil mengendong Xiao Li dan Xiao Sia.
Kemudian Xiao Binyo pun berjalan menuju kamar Xiao Li yang dekat dari sana lalu menuju kamar Xiao Sia untuk meletakkan mereka.
Setelah meletakkan mereka di kamar masing masing Xiao Binyo pergi menemui Ibunya dengan mengendarai mobil menuju vila tempat ibunya tinggal.
Setelah sampai di vila itu tepat jam 09.00 yang berarti sudah malam.
"Mama!.." Teriak Xiao Binyo.
"Iya.. Siapa?" Jawab Mama Xiao Binyo.
"Binyo ma.. Ada yang mau Binyo bicarakan!" Teriak lagi Binyo.
Kemudian Ada Penjaga keluar membuka gerbang Vila.
"Silakan Tuan Muda Besar" Kata penjaga tersebut.
Kemudian Xiao Binyo masuk bersama mobilnya.
Setelah parkir Xiao Binyo langsung menuju Ruang tamu.
"Bi.. Ada apa malam malam begini cari mama?" Tanya Mama Xiao Binyo.
"Ma.. Ada masalah besar yang menyangkut tugas yang diberikan Ke Xiao Sia dan Xiao Li!" Kata Xiao Binyo.
"Lanjutkan!" Kata Xiao Lis (Mama Xiao Binyo).
"Jadi ma! Keluarga Zu memiliki kontak pernikahan dengan keluarga Zhang!" Kata panik Xiao Binyo.
"Iya.. Mama sudah tahu.. Tenang Binyo jangan sampai papamu itu tahu" Kata Mama Xiao Binyo.
"Jadi apa rencana mama?" Tanya Xiao Binyo.
"Banyak... Kita bisa musnahkan Gu fei.. sekarang" Kata mama Xiao Binyo.
"Sekarang?" Kata Xiao Binyo.
"Ya.. Tapi itu beresiko besar" Jawab Xiao Lis.
"Sekarang Kita akan bekerja sama dengan keluarga Xuan.." Kata Xiao Lis.
"Xuan?.. Kurasa papa pernah mengatakan kalimat itu!" Kata Xiao Binyo.
"Kamu belum cukup pintar untuk mengetahuinya" Kata Xiao Lis.
"Jadi.. Apa yang harus aku lakukan ma?" Tanya Xiao Binyo.
__ADS_1
"Pulang dan bersenang senanglah" Jawab Xiao Lis.