
Maaf guys kemarin malah ceritanya langsung lanjut masalalu Gu fei nih.
Yang chapter ini sambungannya si Za Can yang mengingat semua itu guys.
#Sekali lagi maap ya!
"Zui.." Batin Za Can sedih.
"Apa kau masih menunggu untuk ku jemput?" Batin Za Can.
"Kenapa aku jadi mikirin Zui!" Gumam Za Can menggelengkan kepalanya.
"Za Can~" Bisik seseorang memeluk Za Can dari belakang.
"Siapa!" Teriak Za Can langsung meraih tongkat dan mengarahkannya ke suara tersebut.
"Hi.. Hi.. Hi.. Hi.. tenanglah masa kamu tidak mau melihat tunanganmu ini?" Gumam orang itu mencoba merayu Za Can.
"Aku tidak punya tunangan sepertimu!" Teriak Za Can.
"Dan lagi! kenapa kau bisa berada dikapal ini?" Teriak Za Can lagi.
"Sayang~" Gumam orang itu.
"He.. He.. Aku harus mendapatkan Za Can" Batin orang itu yang tak lain adalah Nyida.
"Bukannya kamu seharusnya sedang merawat ibumu?" Tanya Za Can.
"Ibuku sudah sembuh sendiri!" Teriak Nyida kesal.
"Jadi kau berbohong jika ibumu sakit parah?" Tanya Za Can.
"Tidak!" Gumam Nyida.
"Bagaimana jika kita bicarakan ulang pertunangan kita, karena kau sudah membohongiku" Gumam Za Can hendak berdiri.
"Jangan marah sayang!" Kata Nyida menarik tangan Za Can.
"Aku tidak marah, lepaskan tanganmu" Kata Za Can dengan aura benci.
__ADS_1
"Za.. Can.. jangan tinggalkan aku oke?" Kata Nyida masih merayu.
"Emm, kalo tidak kita bicarakan dulu deh namun jangan batalkan pertunangan kita!" Kata Nyida.
"Lepas.." Kata Za Can.
"Sayang jangan tinggalkan aku oke?, setuju?" Kata Nyida.
"Ku bilang Lepas ya lepas!" Teriak Za Can.
"Sayang, ka.. kamu kok.. kasar sih.." Gumam Nyida ketakutan.
"Pengawal! ikat dia ke ruang terlarang!" Kata Za Can.
"Tidak! Lepaskan aku! jangan lancang kalian! aku adalah nyonya disini!" Teriak Nyida tidak karuan sambil ditarik oleh beberapa orang.
"Akhirnya tenang" Gumam Za Can.
"Hah.. tak disangka udah sore.. bagaimana keadaannya?" Gumam Za Can.
Za Can berjalan pelan menuju ke kamar tempat Gu fei berada.
Za Can memgelus kepala Gu fei yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
"Hah.. Aku tak menyangka jika Nyida ada di kapal ini" Batin Za Can kembali berfikir keras.
"Kalo gini Zui.. eh salah Zin maksudnya.. bisa bisa terancam.." Batin Za Can.
"Aku harus bertindak.." Gumam Za Can.
"Tok.. Tok.." Suara ketukan pintu.
"Masuk!" Kata Za Can.
"Maaf tuan, ini saatnya nona ini diberikan obat.." Kata orang itu.
"Hmm " kata Za Can tak mempedulikan.
Orang itu langsung menyiapkan suntikan yang berisi obat untuk menyuntik Gu fei.
__ADS_1
"Eh, kenapa harus di suntik?" Tanya Za Can.
"Gawat apa orang itu menyadari aku" Batin pelayan itu.
"Jangan sampai dia menyadarinya.. aku harus tetap tenang.." Batin orang itu.
"Ini untuk meredakan demam tinggi nona itu, tuan" Gumam orang itu.
"Aku pernah mendengarnya namun, kau bukanlah pelayan yang mengajukan diri tadi.." Kata Za Can.
"Aku.. Aku asistennya" Kata orang itu.
"Kau tak perlu menyuntiknya" kata Za Can.
"Aku akan tetap menyuntikan!" Teriak orang itu.
Pelayan itu langsung mengarahkan suntikan itu ke arah tubuh Gu fei.
Disaat bersamaan Za Can mencoba menghentikan pelayan itu.
Namun terlambat sudah untuk menghentikannya, suntik itu berhasil menancap di salah satu lengan Gu fei.
"Sialan!" Teriak Za Can marah dan menarik pelayan tersebut keluar.
"Plak!" suara tamparan keras berhasil Za Can daratkan dimuka pelayan tersebut.
Za Can langsung masuk ke kamar Gu fei kembali dengan wajah panik.
"Zui!" Gumam Za Can.
"Aku tak ingin kehilanganmu untuk yang ke dua kalinya" Batin Za Can.
Racun yang berada di suntik tersebut menyebar ke seluruh tubuh Gu fei.
Za Can langsung menarik suntik itu dan mencoba memindahkan racun tersebut ke dalam tubuhnya sendiri.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati!" Batin Za Can sambil menangis.
"Aku takut.. aku takut.. untuk yang ke-2 kalinya kau hilang kembali Zui!" Kata Za Can.
__ADS_1
"Aku sangat takut.. Aku butuh kamu Zui, aku.." Batin Za Can.