
Setelah Pagi
l l
l l
l l
l l
#Kamar Gu fei.
"feifei dimana kau" teriak kakak Gu fei sambil berjalan mencari Gu fei di sepanjang kamar.
Sementara Gu fei masih berada di ruang rahasia.
"Fei jangan bercanda dimana kau...." teriak lagi kakak Gu fei.
Tetap tak ada jawaban sama sekali "...." .
"Aish... Fei aku keluar aja ya kalo lapar nanti ke bawah Papa, Mama udah mau berangkat kerja ko aku juga mau ke sekolah" teriak kakak Gu fei.
Setelah semua orang pergi Gu fei sadar dari tidurnya dan melihat ke arah jam dengan keadaan setengah sadar dan bergumam "Oh.. Baru Jam 07.02 lanjut tidur aja lah" Gu fei menutup mata pelan sambil berpikir.
Setelah sadar Gu fei berteriak Kaget kalau dia telat bangun.
"Tunggu Jam 07.02... Aku telat sekolah" Gu fei berteriak sambil bergegas ke kamar mandi karena ia lupa kalau dia ada di ruang rahasia dia menabrak tembok (kalau di kamarnya lokasi tembok tersebut adalah Kamar mandi).
"Bruk.. Anjir aku sial kali" suara menabrak tembok dan gumam Gu fei.
Gu fei ingat kalau ia di ruang Rahasia dia pun bergegas menekan tombol keluar.
"Setelah keluar Gu fei pergi ke kamar mandi dan mandi.
Setelah mandi ia bergegas mengambil tas dan memasukkan buku ke tas tersebut.
Sambil terburu buru Gu fei berlari dan mengambil gelas yang berisi susu lalu ia minum sambil berlari.
"Untung aja ini gelas sekali pakai kalo nggak bisa gawat lah" batin Gu fei sambil memasukkan ke dalam Tempat sampah garasi rumah.
"Yah... gak kebagian motor" teriak Gu fei kecewa.
"Ya sudah lah pergi pake Sepeda aja" Gumam Gu fei sambil menaiki sepeda nya.
Dia pun mengangkat sepeda tersebut ke pintu depan rumah.
Sesampai di depan rumah Gu fei mengunci pintu dan pergi dengan kecepatan bersepeda penuh.
"Institutkan lumayan jauh gimana ya? " Gu fei berpikir sambil bersepeda.
"Ya terima saja lah nanti bolos kelas kan gak papa" gumam Gu fei sambil menaikkan kecepatan bersepedanya.
"Mati rasa toh ini kaki" gumam Gu fei yang kelelahan bersepeda.
Gu fei memejamkan matanya dan matanya mulai berubah menjadi merah lagi.
__ADS_1
Kecepatan Bersepedanya bertambah Cepat.
#Sesampai di Institut Roh.
Gu fei memejamkan matanya lagi dan tiba tiba matanya berubah menjadi biru lagi.
"Tong... tong... tong... " suara bel berbunyi.
"Untung saja di acara perburuan ini aku ngak ngelewatin" Gumam Gu fei.
"Kak Qian dan Kak Dei dimanaya?" Gumam gu fei sambil menoleh ke samping.
"Gu fei lama tak jumpa lo dah tambah lemah ya?" Suara ejekkan Xiao sia.
"Kau!.. " Bicara Gu fei penuh amarah sambil mengeretakan Gigi.
"Apa.. Gue kesini punya niat baik lo" Kata Xiao sia dengan bangga.
"Semoga di perburuan nanti kau tak "Mati" Gu fei" suara cibiran Xiao sia yang seakan akan mendoakan Gu fei mati.
"Aku tak akan mati sebelum kau binasa" Teriak Gu fei dengan lantang.
"Aku tunggu" Suara meremehkan Xiao Sia.
Gu fei berjalan pergi meninggalkan Xiao sia dan mencari kak Qian Dan kak Dei.
Setelah berkeliling Institut Gu fei tetap tak bertemu dengan mereka.
Ia bertanya pada kak Vin yang kebetulan sedang berjaga di posko Osis.
"Kak Vin kau tahu tidak kemana perginya Kak Qian dan Kak Dei? " tanya Gu fei penasaran.
"Oh.. Ya udah kak Vin sampai jumpa di perburuan" Jawab Gu fei sambil berlari pergi
Sesampai di aula perburuan ia langsung baris ke barisan.
"Baiklah.. Dengan ini saya selaku tetua Institut Roh mengumumkan bahwa perburuan roh akan dimulai" suara teriakan tetua.
Semua murid berlari ke arah hutan roh.
"Di sini aku harus bertapa selama 3 hari dan menyerap roh hewan maupun tumbuhan" gumam Gu fei sambil pergi sendirian ke arah hutan.
Sesampainya di tengah hutan ia menemukan bunga yang cantik dan wangi tapi beracun.
"Wah apa itu cantik sekali" suara lembut Gu fei sambil memetik salah satu bunga di sana.
"Ukh.. Bunga.. Apa.. ini.. mematikan sekali" suara Gu fei kesakitan karena terkena racun bunga yang di petiknya.
"Tidak aku tak boleh mati di sini aku harus bertahan hidup" gumam Gu fei dengan tekat yang sangat kuat.
Gu fei pun menyerap racun tanaman tersebut sambil memejamkan matanya.
Di saat penyerapan dia bertemu jiwa bunga tersebut di dalam Dunia Hampa.
Jiwa bunga tersebut berkata "kau mau menyerap racunku... Mimpi" suara meremehkan jiwa bunga tersebut.
__ADS_1
"Belum pernah ada yang bisa menyerapku Bodoh" suara sombong jiwa bunga tersebut.
"Kau pasti mati Bocah... Ingat sebutkan ku Bunga beracun sedunia" cibir jiwa bunga tersebut.
Gu fei dengan pelan membuka Matanya di dunia hampa tersebut dan matanya berubah menjadi merah lagi.
"Mereka berbeda denganku" Suara Gu fei membalas perkataan Jiwa bunga tersebut.
"Ti... Tidak mungkin kau adalah pemilik mata merah kejam tersebut" Suara jiwa bunga tersebut gemetar ketakutan.
Gu fei melanjutkan penyerapan tersebut akan tetapi karena kekuatan tersebut masih di segel agar tidak mengalami kebangkitan dia terluka akibat perlawanan persegelan tersebut.
"Uhuk... Ukh" suara batuk darah Gu fei.
"Bocah jangan serap aku jika terus seperti ini kau akan mati" suara jiwa bunga tersebut.
"Kenapa kau tiba tiba peduli dengan ku? " tanya Gu fei penasaran.
"Aku memiliki Hutang dengan anggota keluargamu.... dasar bocah" suara bentakan jiwa bunga tersebut.
"Maaf keluarga ku tak ada hubungannya dengan mu " Gu fei terus menyerap racun tersebut hingga malam.
"Akhirnya berhasil" Suara Gu fei senang karena berhasil menyerap Bunga tersebut.
"Krukk... " suara perut Gu fei lapar.
"Lapar sekali aku" gumam Gu fei.
"Dekat sini ada sungai kan" suara Gu fei sambil berdiri mendekat suara air sungai yang deras.
sesampai di sungai Ia berkata "Wah Indah sekali ikannya banyak lagi" .
"Bulan bersinar Di malam hari 🎶"
"aku mengengam tangan mu di bawah bulan 🎶"
"Bersama melewati Peperangan Tanpa henti 🎶"
"Berjanji akan tetap bersama 🎶"
"Tuk selamanya Berjalan melewati Dunia kejam ini 🎶"
Suara lantunan Nyanyian Gu fei sambil bermain air.
"Mati bersama 🎶"
"Hidup bersama 🎶"
"Tak pernah mengingkari janji 🎶"
"Bersama Selamanya melewati kekejaman dunia ini 🎶"
"Terus melawan takdir tanpa henti 🎶"
"Menjadikan kelemahan itu sebagai kekuatan 🎶"
__ADS_1
Tanpa Gu fei sadari dia dikelilingi banyak binatang buas yang sudah ia tundukkan.
"Wahai binatang kalian janganlah menyerang ku " Teriak Gu fei sambil meneteskan air matanya karena mengingat Masa lalu yang amat pahit.