
Bubar sudah. Lin Nei masih syok dengan perkataan Hwe Qin. Dia merasa gelisah dengan perkataan Hwe Qin.
"Haih, sudahlah! aku mau pergi saja kamu mending segera mengobati lukamu itu" Kata Lin Nei berdiri sempoyongan.
Hwe Qin hanya terdiam melihat Lin Nei pergi. Lin Nei mengambil ranting pohon yang bergelantungan dan dia melompat dengan tali tersebut seperti kera.
Jarak antara pohon besar satu sama lain di tempat itu lumayan jauh. Beberapa pohon sudah tumbang akibat umurnya sudah sangat tua.
"Jika saja aku bisa terbang" Batin Lin Nei.
"Tidak!, kali ini tidak boleh berfikir sembarangan" Gumam Lin Nei pergi dengan cepat.
"Aku harus cepat pergi dari sini!" Kata Lin Nei.
"'jangan sampai serigala itu menangkapku!" Kata Lin Nei.
.....
Sementara itu di sisi lain Kak Dei sedang berbaring sambil berfikir tentang orang yang dia sukai.
"Humm, apa yang sedang dia fikirkan ya?" Gumam Kak Dei senyum senyum sendiri.
__ADS_1
"Nggak mungkin dia sedang memikirkanku kan?" Gumam Kak Dei.
"Kreak" Suara pintu terbuka.
"Eiiii" Terdengar suara jeritan seorang anak kecil.
"Hah?" Kak Dei langsung bangun ketika mendengar suara tersebut.
"Deva!?" Kata Kak Dei.
Deva adalah adik satu satunya Kak Dei. Dia adalah adik kesayangan Kak Dei yang berjenis kelamin laki laki.
"Sini" Kata Kak Dei.
"Eiii" Deva mendekati Kak Dei dengan merangkak pelan.
"Ha.. Ha.. Ha.." Kak Dei tertawa saat mengerti jika Deva tau apa yang dia bicarakan.
"Lucunya adikku" Kata Kak Dei menggendong Deva ke kasur.
Deva duduk dengan patuh namun dia mengambil sebuah benda yang tergeletak dikasur lalu dia langsung memakannya.
__ADS_1
"Headset ku!" Kata Kak Dei kaget.
Kak Dei langsung menyuruh Deva memuntahkannya dan membawa Deva pergi. Kehidupan Kak Dei biasa saja setelah Gu fei pergi.
Namun dia masih sering mengingat Gu fei yang dulu sering mengajak main dia. Saat dia teringat biasanya dia akan melihat sebuah album dalam sebuah buku yang dia juduli bernama "Aib Gu fei".
Buku itu berisi aib-aib Gu fei yang Kak Dei simpan, terkadang dia juga mengungkitnya di depan Gu fei hingga Gu fei ngambek karena malu. Begitulah hari hari Kak Dei.
Sementara itu Kak Qian sudah disibukan dengan urusan Azalea. Dia menjadi sangat dingin dan kembali angkuh lagi. Dia seperti bukan Kak Qian yang biasanya.
Sifatnya sepenuhnya berubah tidak seperti dulu, bahkan dia membuang sampai membakar album kenangannya bersama sahabat sahabatnya dulu.
Entah cara apa yang bisa membuat Azalea bisa mencuci otak Kak Qian. Padahal Kak Qian terkenal dengan orang yang tidak bisa terpengaruhi.
Mereka ber-4 seakan akan adalah orang yang tidak ditakdirkan untuk bersama. Mereka malah seperti orang yang akan menjadi rival abadi. Seseorang yang tidak mudah melupakan masalalu dan tentunya keras kepala.
Siklus lingkungan sekitar mereka dari dulu adalah persaingan, entah mengapa ada keinginan untuk saling berteman dulu.
Sudah banyak badai cobaan mereka yang di lalui namun tetap saja ada masalah yang membuat mereka harus berpisah. Bukan demi diri sendiri mereka masing masing melainkan untuk kebaikan bersama.
Sungguh sangat ironis keadaan mereka yang sudah bubar dan saling pasrah pada keadaan yang tidak menentu, Karena terkadang kita harus merelakan kebahagiaan kita untuk orang yang kita sayangi.
__ADS_1