
Semalaman suntuk, Arkan terus menggerayangi dan menggagahi istrinya. Pria yang sudah berpuasa kurang lebih selama 7 bulan itu, seperti tak kenal lelah.
Laras baru tertidur pukul 02:14 dini hari, tapi pada pukul 03:49 subuh. Arkan sudah kembali menggangu istrinya, pria itu kembali menggerayangi tubuh istrinya dengan penuh gairah.
"Eummm.." lenguh Laras saat suaminya itu menggigit kecil daun telinganya. "Mas.. Udah dong, Laras capek banget. Tulang-tulang Laras kayak mau copot loh." Laras berbicara tanpa membuka matanya yang terpejam.
"Sekali aja lagi, yank. Abis itu istirahat dan gak mas ganggu lagi," bujuk Arkan.
Laras pun hanya bisa pasrah tanpa merespon permainan suaminya ataupun menolak. Tubuhnya sudah benar-benar lemas dan lelah, ia kembali mengingat di mana saat ia dan suaminya itu melakukan penyatuan untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun menikah.
Hampir setengah jam lamanya Arkan bermain sendiri, akhirnya pria itu kembali mencapai puncaknya. "Ouhhh.. Yank.." Arkan memeluk tubuh istrinya setelah ia melepaskan miliknya di dalam milik istrinya itu.
"Mas.." lirih Laras dengan suara paraunya.
"Maafin mas, ya." tubuh Arkan ambruk di samping tubuh istrinya itu. Ia memeluk tubuh lelah Laras dengan penuh cinta. "Sekarang mas gak ganggu lagi, kamu tidur yang nyenyak."
"Udah mau pagi loh, mas!" protes Laras.
"Terus, kalau udah mau pagi kenapa? Hmmm!" Arkan mencium pipi istrinya. "Udah, ayo tidur."
Laras pun memejamkan matanya di dalam dekapan Arkan. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, akhirnya wanita itu terlelap.
Pukul 07:14 pagi, Arkan dan Laras masih lelap di balik selimut tebal yang membungkus tubuh mereka. Kedua anak manusia itu begitu enggan untuk membuka mata.
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu kamar itu semakin terdengar keras.
"Ar, Laras.. Ayo bangun, sarapan dulu," kata Mama Rita yang berada di luar kamar.
"Duluan aja, ma. Laras belum bangun!" sahut Arkan dari dalam kamar dengan malas. Pria itu memaksa untuk membuka matanya dan pergi menuju kamar mandi.
"Ya udah, mama sama yang lainnya sarapan duluan, ya," kata Mama Rita sembari pergi meninggalkan kamar itu.
"Iya!" sahut Arkan.
Arkan pun segera membersihkan diri, beberapa menit kemudian. Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan lilitan handuk di pinggangnya. Tubuh pria itu terlihat lebih bugar dari biasanya, bagaimana tidak? Ibaratkan orang puasa, ia baru saja berbuka dengan puas. Membuat rasa lapar dan haus yang selama ini ia rasakan hilang dan membuah dahaganya terpenuhi.
"Maafin mas ya, yank.. Mas sayang banget sama kamu," guman Arkan. "Mas gak mau orang lain selain kamu, kamu yang pertama dan akan jadi yang terakhir untuk, mas." Arkan kembali menciumi wajah istrinya, ia membiarkan wanita itu terlelap lebih lama.
Setelah itu, ia keluar dari kamar dan menuju lantai bawah. Di area dapur itu, sudah ada Papa Han, Mama Rita dan juga Jhon yang sedang sarapan.
"Mana Laras?" tanya Mama Rita saat melihat putranya itu turun sendirian.
"Di kamar, belum bangun," jawab Arkan sembari mendaratkan bokong nya di kursi yang ada di samping Jhon.
"Emmm.. Pasti kejadian pengantin baru terulang lagi," guman Mama Rita, sembari mengaduk makanannya.
__ADS_1
"Apaan sih mama!" sewot Arkan sembari mengisi piringnya dengan nasi.
"Iya kan, pasti Laras kamu bikin gak istirahat semalaman?" Mama Rita mencebikan bibirnya. Ia begitu paham dengan kelakuan Arkan yang 11 12 dengan Papa Han.
"Mohon maaf, suhu! Di sini ada anak di bawah umur!" cela Jhonson yang berada di samping Arkan.
"Hahahaa.. Makanya, kamu cari calon dan kenalkan sama papa. Biar cepet nyusul adikmu," kata Papa Han pada Jhonson.
"Cari kemana? Ke pasar loakan?" gerutu Jhon. "Papa kan tau sendiri, Jhon gak pernah deket sama perempuan mana pun?" terang Jhon.
"Usaha dong, kamu kan mapan, tampan, kurang apa lagi coba?" Papa Han meletakan sendok dan garpu yang ada di tangannya. Pria separuh baya itu mulai berbicara serius pada Jhonson, putra angkatnya. "Umur kamu udah lebih dari cukup, umur Arkan aja udah 33 tahun. Yang artinya umur kamu hampir memasuki usia kepala 4!" terang Papa Han.
"Usaha gimana, pa? Jhon gak punya waktu buat mikirin perempuan. Selama ini tuntutan kerja Jhon begitu padat," kata Jhon tak kalah seriusnya.
"Mau Ar cariin?" tawar Arkan.
"Hilih! Sok-sokan, kalau bukan Laras yang bodoh mau sama CEO IMPOTEN kayak kamu. Mungkin sekarang juga kamu masih jadi kaum batangan lemes!" cetus Mama Rita.
"Ishh.. Mama!" Arkan melirik mama nya dengan lirikan tajam. "Buktinya kan, setelah melewati proses perjalanan dan perjuangan yang banyak, Ar sama Laras bisa berhasil punya Samudra!"
"Kamu mau kalau papa carikan perempuan dari pesantren?" tawar Papa Han tiba-tiba, membuat mata Jhon membulat penuh. Tak hanya Jhon, tetapi juga Arkan.
"Maksud papa, Kak Jhon ta'aruf?"
__ADS_1