Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
JANGAN PECAT SAYA!


__ADS_3

Sebulan kemudian, Arkan dan Laras menjadi semakin romantis dari sebelumnya. Kemana-mana selalu berdua, ke kantor pun Arkan sering mengajak istrinya itu.


Seperti pagi itu, Arkan yang sudah rapi dengan stelan jas dan juga span dasarnya. Dengan setia menunggu istrinya yang sedang bersiap.


"Ayo yank," kata Laras. Wanita itu menghampiri suaminya dengan senyuman yang merekah.



"Yuk!" Arkan menggandeng tangan istrinya dan keluar dari kamar itu. Sepasang anak manusia itu segera meninggalkan rumah dan menuju perusahan yang jarak nya tidak begitu jauh dari kediaman mereka.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Arkan berhenti di parkiran perusahan anak cabang SUDRADJAT GRUP. Seperti biasa, Arkan tidak pernah membiarkan istrinya itu berjalan kaki menuju ke dalam perusahan. Ia akan menggendong istrinya itu sampai kedalam ruangannya.


"Mas, kenapa sih? Laras di gendong melulu, nanti Laras di kira karyawan mas lumpuh loh," kata Laras. Ia tidak enak, setiap ikut ke kantor itu, pada karyawan selalu menatapnya dengan tatapan aneh.


"Gak usah perduli sama mereka, yang penting kamu gak capek," ucap Arkan dengan cuek. Pria itu berjalan menuju lift khusus petinggi perusahaan itu tanpa toleh kiri kanan.


"Beruntung selalu Nona Larasati bisa di perlakukan seromantis itu oleh Tuan Muda Arkana!" ujar salah seorang karyawan wanita.


"Iya, iri banget aku tuh," karyawan lain ikut menimpali.


Di dalam ruangan Arkan, kini Arkan sedang duduk di kursi kerjanya dengan Laras yang duduk pangkuannya.


"Mas," ucap Laras dengan pelan dengan wajahnya yang mendongak pada wajah Arkan.


"Hmmm! Kenapa?" tanya Arkan dengan lembut.


"Kok Laras belum ada tanda-tanda hamil ya?"


Cup! Arkan mencium bibir istrinya dengan singkat.


"Belum lah yank, baru juga sebulan kita mainnya," kata Arkan. "Mama sama papa dulu aja lima tahun baru muncul mas." jelas Arkan pada istrinya itu.


"Iya kah, mas? Selama itu?" tanya Laras yang tidak percaya dengan cerita suaminya.


"Iya, kalau kamu gak percaya. Nanti kita ke rumah mama dan papa, kamu tanya langsung aja ke mereka," kata Arkan. "Kamu pernah denger kan, kalau papa pengen kasih aku adik. Itu papa ngomong serius loh! Mama tuh masih pengen hamil, tapi selama ini gak juga hamil-hamil." jelas Arkan lagi.


"Pantesan kamu idup sendirian, mas," kata Laras. "Tapi itu Kak Erland juga tunggal, gak ada saudara nya!"


"Kata siapa? Erland itu punya adik, seumuran kamu dan kalau di lihat-lihat cara ngomongnya juga kayak kamu, bahkan kamu sama adiknya itu punya kemiripan," kata Arkan.


"Terus? Adiknya Kak Erland kemana?" tanya Laras yang begitu penasan.


"Meninggal waktu kelas dua SMP, dia ke tabrak mobil pas keluar dari gerbang sekolah." jelas Arkan.


"Inalilahi," ucap Laras. "Kasian ayah, ibu sama Kak Erland. Pasti mereka terpukul banget." Laras mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Arkan.

__ADS_1


"Jangan mancing, masih pagi loh!" Arkan memperingati istrinya itu untuk tidak membangunkan batang nya.


"Siapa juga yang mancing, mas. Orang Laras tuh lagi mikirin Kak Erland," kata Laras.


"Iya, mas tau. Tapi jangan banyak gerak!" protes Arkan.


"Ya udah, turunin Laras kalo gak boleh gerak-gerak!" ujar Laras sembari kasak kusuk di atas pangkuan suaminya itu.


"Kayaknya kamu nantangin yank!" Arkan memeluk tubuh istrinya itu dan menarik tengkuk lehernya.


Ia mencium paksa bibir istrinya itu dan ******* nya.


"Emmmm!" Laras memukul punggung suaminya. Tapi Arkan seakan tak perduli, ia terus memaksa istrinya itu untuk membuka bibirnya yang terkatup.


"Astagfirullah!" pekik suara yang ada di pintu ruangan kerja Arkan. Orang itu segera keluar dan menutup pintu ruangan itu kembali.


Arkan yang terkejut segera menyudahi kegiatannya. Ia melotot tajam ke arah pintu ruangan itu.


"Kan mas, ada yang liat," kata Laras dengan jengkel. Ia memaksa turun dari pangkuan suaminya dan pergi menuju sofa dengan wajah cemberut.


"Mas pecat tuh karyawan, main masuk-masuk aja!" cetus Arkan dengan kesal. Arkan pun memutar rekaman CCTV yang ada di laptopnya. Setelah itu, ia menghubungi salah satu karyawannya.


"[Hallo!]" sahut suara yang ada di seberang telpon.


"[Perintahkan pada Tuti untuk datang ke ruangan saya, sekarang!]" tegas Arkan.


"Huaaa! Matilah aku, pasti abis ini aku bakalan di pecat," ucap wanita yang bernama Tuti. Dialah wanita yang membuka pintu ruangan kerja Arkan dan melihat kegiatan panas Arkan bersama Laras.


"Tuti! Di suruh tuan muda ke ruangannya, sekarang!" karyawan yang di hubungi Arkan, segera memberitahu kan pesan Arkan kepada Tuti.


"Huaaaa! Tug kan, baru aja di bilangin. Ehh, udah di suruh balik lagi," kata Tuti dengan wajah sedih dan takut.


"Kamu kenapa? Bikin ulah?" tanya karyawan yang di telpon Arkan tadi.


"Aku gak bikin ulah, tapi tadi gak sengaja liat tuan muda lagi anu sama istrinya," ucap Tuti dengan pelan.


"Terus?"


"Terus aku kabur!" jawab Tuti.


"Ya udah, cepet sana dari pada tuan muda ngamuk. Kan kasian sama yang gak tau apa-apa kayak kami," kata karyawan itu.


"Iya-iya! Tolong doain aku ya, semoga gak di pecat," kata Tuti dengan sedih.


"Melas aja di depan istrinya, pasti gak di pecat!" ujar karyawan yang pernah hampir di pecat oleh Arkan karena perkara ponsel tempo hari.

__ADS_1


"Oh, iya! Kan ada istrinya," kata Tuti. Maka, dengan perasaan was-was Tuti pun kembali memasuki lift dan menuju dimana ruangan Arkan berada.


Sesampainya di depan ruangan Arkan. Tuti mengetuk pintu ruangan itu dengan perasaan yang begitu takut.


Tok tok tok!


"Masuk!" seru Arkan yang ada di dalam ruangan itu.


"Saya, tuan," kata Tina yang sudah berdiri di hadapan Arkan.


"Kamu tahu apa kesalahan kamu?" Arkan menatap tajam pada Tuti yang terus menundukkan kepalanya.


"Tahu, tuan!" jawab Tina.


"Kamu tahu konsekuensi untuk karyawan yang melakukan kesalahan?"


"Tahu, tuan!"


"Kalau begitu, segera kemasi barang kamu dan tinggalkan perusahaan kamu. Kamu saya pecat!" tegas Arkan.


"Tuan, tolong jangan pecat saya. Saya tidak sengaja melihatnya, saat saya datang saya sudah mengetuk pintu ruangan ini berkali-kali. Tapi tidak ada jawaban, saya pikir tidak ada orang. Maka dari itu, saya masuk dan hendak meletakan berkas ini! Berkas yang akan tuan gunakan untuk metting siang ini." Tuti melakukan pembelaan. Karena ia memang tidak bersalah dalam hal itu.


"Saya gak mau dengar alasan kamu!"


"Saya mohon, tuan. Kalau saya di pecat dari sini, bagaimana saya akan menghidupi ibu dan adik-adik saya," kata Tuti. Perempuan itu pun menangis dengan tubuh yang bergetar.


Laras yang sedari tadi diam, segera menghampiri Tuti dan Arkan.


"Mas, jangan di pecat. Kasian dia," kata Laras.


"Gak bisa, keputusan saya sudah bulat!"


Semakin menangis lah Tuti dibuatnya. Laras menjadi semakin tidak tega. "Sekarang, angkat kaki dari perusahaan ini!" setelah berbicara seperti itu, Arkan hendak melangkah pergi dari ruangan kerjanya. Ia melewati Tuti yang bersimpuh di lantai.


"Hiks! Mas, mbak nya jangan di pecat," ucap Laras sembari mendekap tubuh suaminya itu dari belakang. Laras menangis, ia tidak suka dengan suaminya yang begitu arogant.


"Jangan nangis," kata Arkan. Ia berbicara pelan kepada istrinya itu, tepat dihadapan Tuti.


"Mas gak boleh pecat mbak nya, mbak nya gak salah," ucap Laras, wanita itu terus menangis. Membuat Arkan tidak tega.


Arkan pun melepaskan tangan istrinya yang melingkar di dada nya. Lalu, ia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan istrinya. "Jangan nangis, sayang!" Arkan mengusap airmata istrinya.


"Mbak nya jangan di pecat," ucap Laras dengan manja sembari menghentakkan kakinya di lantai.


"Iya, mas gak jadi pecat dia. Tapi kamu jangan nangis lagi," kata Arkan sembari memeluk tubuh istrinya itu. "Kembali ke ruangan kamu!" usir Arkan.

__ADS_1


"Alhamdulillah!" Tuti mengucap syukur dan segera bangkit dari lantai itu. Buru-buru ia keluar dari ruangan Arkan.


__ADS_2