
Pagi-pagi sekali, Laras yang bangun lebih dulu segera turun dari ranjang kamar dan pergi menuju lantai bawah.
Wanita itu segera berperang dengan peralatan dapur nya. Sedangkan Arkan, pria itu masih bergelung di dalam selimut tebal nya. Hawa dingin di pagi hari yang hujan itu membuat ia begitu malas untuk beranjak dan keluar dari selimut tebal nya.
Setengah jam kemudian, Laras yang sudah selesai dengan pekerjaan dapurnya. Ia segera kembali ke lantai atas untuk membangunkan suaminya.
Sesampainya di lantai atas itu, ia masuk kedalam kamar. Ia menyibakkan selimut yang membalut tubuh suaminya.
"Sayang, bangun. Udah siang loh!" Laras membelai kepala suaminya itu.
"Dingin banget yank," ucap Arkan sembari berubah posisi. Ia meringkuk dan meyembunyikan tangannya di selipan kedua kakinya.
"Udah siang loh, mas," kata Laras. "Buruan siap-siap, nanti kalau ujannya reda kan bisa tinggal berangkat kerja." jelas Laras.
"Bawel banget!" Arkan menarik tubuh istrinya, hingga membuat Laras terjerembab ke atasnya.
"Mas!" protes Laras.
"Makanya jangan bawel, kan mas bos nya jadi gak kerja juga gak akan ada masalah!" Arkan pun mencium paksa bibir istrinya dengan paksa, ia mengecup bibir itu.
Sesaat kemudian, mata Arkan pun terbuka lebar. "Sayang, kok pedes?" Arkan mengusap bibir nya yang basah.
"Abis makan keripik kaca sama seblak yang di beliin Hesti kemaren," kata Laras dengan cuek sambil beringsut dari dekat suaminya.
"Tega banget gak bilang-bilang," gerutu Arkan sembari beringsut dan bangkit dari ranjang itu. Pria itu segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Makanya, mesum tuh di kurangin dikit!" teriak Laras pada Arkan yang sudah berada di kamar mandi. Setelah suaminya itu masuk ke kamar mandi, Laras segera menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Setelah siap, ia pun kembali ke lantai bawah. Ia menyiapkan semangkuk bubur ayam untuk suaminya. Karena pagi itu, ia tidak memasak. Ia hanya membuat bubur ayam saja.
Beberapa saat kemudian, Arkan turun dari lantai atas itu dan menghampiri istrinya.
"Sayang!" sebut Arkan sembari membenarkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya, mas?" sahut Laras sembari meletakan semangkuk bubur untuk suaminya ke atas meja.
__ADS_1
"Astaga, mas! Itu kancing atas nya dibenerin!"
"Gak bisa, gak pas!" sahut Arkan. "Lagian gini juga udah ganteng kok, kan nanti di lapisin sama jas." Arkan terus melangkah mendekati istrinya.
"Terus gak pakek dasi gitu?" sungut Laras dengan mata melolot.
"Pakaian mas kayak gini semua," kata Arkan. "Lagian tadi yang pilihan baju kan kamu? Mas kok jadi salah terus." Arkan duduk di kursi makan dengan wajah cemberut.
"Ngambek?" Laras menatap wajah kesal suaminya itu. "Sekalian aja kerjanya gak usah pakek baju, biar karyawan mas pada melotot dan pelakor pada nempel!" Laras semakin bersungut-sungut. Jujur saja, semenjak suaminya itu sembuh ia menjadi over posesif.
Arkan tidak jadi merajuk pada istrinya itu, niat ingin merajuk justru malah terbalik. Kini, istrinya yang malah menjadi merajuk dan sudah dapat ia pastikan, bahwa merajuk istrinya itu tidak lah sebentar.
"Sayang, mas ganti pakek baju kaos sama jaket aja deh," kata Arkan dengan pelan.
"Terserah!" cetus Laras. "Itu dada mas di expose aja ke semua perempuan."
"Sayang jangan cemburu dong, coba liat mas!" Arkan berdiri tepat di hadapan istrinya, pria itu sudah melepas semua kancing kemeja nya. "Ini semua punya kamu, yank. Orang lain gak boleh liat apa lagi sentuh." Arkan menyentuh dagu Laras dengan jari telunjuk nya.
"Mas sekarang gak kayak dulu lagi. Mas suka mesum," ucap Laras dengan pelan.
"Mesum nya cuman sama kamu yank, masyaallah gitu aja ngambek," kata Arkan. "Mas pemarah dan sombong sama orang lain salah, mas coba ramah juga salah."
"Intinya gini, mereka yang suka tapi mas gak pernah suka dan tertarik sama perempuan lain selain kamu." Arkan menarik tangan Laras dan meletakan tangan itu di dadanya.
"Mas cuman milik kamu, kemarin, esok dan selamanya. Jadi jangan pernah untuk takut kehilangan, karena hanya tuhan yang bisa misahin kita!"
"Maafin Laras yang udah posesif ya, mas. Laras takut kehilangan, Laras takut di tinggalkan, Laras juga takut sendirian," ucap Laras. Ia memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.
"Mas ngerti, tapi mas berani bersumpah kalau mas gak pernah tertarik sama siapapun selain kamu," kata Arkan.
Lama sepasang anak manusia itu berpelukan, akhirnya Laras mengajak suaminya itu sarapan.
"Ini enak banget yank, kamu emang istri terbaik," ucap Arkan. Ia memuji istrinya yang pintar dalam memasak.
"Niat Laras sih mau bawain papa, tapi hari nya gerimis kayak gini. Lagi pula, kalau bubur nya udah dingin gak enak lagi," kata Laras. "Mau nya itu Papa sama Mama yang kesini, biar kita makan sama-sama."
"Nanti malam atau besok, kita ke rumah papa," kata Arkan sembari menyendok bubur ayam yang ada di mangkok nya.
__ADS_1
Laras tersenyum. "Laras ikut ke kantor, ya?" pinta Laras kemudian. Arkan pun mengangguk.
"Ya udah, mas tunggu. Laras mau mandi sebentar!" Laras meninggalkan suaminya itu menuju lantai atas.
Setengah jam kemudian, Laras kembali dengan penampilan yang begitu cantik.
"Mas, Laras cantik kan?" Laras tersenyum lebar dan menampakan deretan gigi putihnya.
"Cantik, kan istri mas," kata Arkan.
Arkan dan Laras pun menunggu hujan reda, setelah hujan reda barulah mereka pergi menuju perusahaan.
"Mas, nanti pulangnya kita mampir ke supermarket, ya," ajak Laras. "Belanjaan pada habis."
"Ya sayangku!" sahut Arkan yang fokus pada jalanan licin yang ia lalui.
Laras begitu bahagia memiliki Arkan, meskipun saat ini rasa khawatir dan takut sering kali menghantui dan membayangi dirinya.
Ia begitu takut, suaminya yang sudah sembuh dari penyakit nya akan tergoda dan terpikat pada wanita lain di luar sana. Maka dari itu, Laras terus ikut kemanapun langkah suaminya itu pergi. Arkan pun selalu peka, setiap ia pergi. Ia pun akan selalu mengajak istrinya.
**
Di terminal, seorang gadis baru saja tiba di kota jakarta itu. Ia turun dari bus yang ia tumpangi dengan begitu terges-gesa.
Gadis itu adalah Anita. Dari kota lampung, ia manaiki bus yang beroperasi malam hari, makanya di pagi hari itu ia sudah tiba di kota besar itu yaitu kota jakarta.
Saat sampai di terminal, ia kebingungan hendak mencari keberadan Laras. Harus kah ia pergi menuju perusahaan Sudradjat yang pernah ia dengar dari Laras saat telponan berama Hesti dulu.
"Aku harus kemana? Ke cafe yang dulu itu atau pergi ke perusahaan Sudradjat yang pernah di sebutin Hesti?" guman Anita.
.
.
Sembari nunggu update, yuk mampir ke karya kakak online neng yang ada di bawah ini! Di jamin ceritanya keren.
__ADS_1