Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
LAMPUNG!


__ADS_3

"Lepasin!" pekik Laras kepada orang yang baru saja tiba dan menarik dirinya dan Anita.


"Kenapa kamu tuker gelangnya?" tanya Erland.


"Kan Laras tukar, bukan jual," kata Laras.


"Kakak punya cara biar Arkan mau pergi ke Lampung," ucap Erland. Pria itu membisikkan sesuatu ke telinga Laras. Laras pun tersenyum lebar di buatnya.


"Ya udah cepetan," kata Laras. "Ayo kak!" Laras menarik kembali pergelangan tangan Anita.


Erland pun segera menghubungi Arkan.


"[Ar, Laras udah berangkat ke Lampung!]"


"[Kamu serius?]" Arkan yang mendengar kabar itu menjadi panik. Ia segera berlari keluar dari dalam rumah dengan tergesa-gesa.


"[Serius, lagian kamu sih! Udah tau gimana sikap dan sifat nya Laras, masih aja keras kepala. Emang gak ingat gimana dia perlakuin Ramon?]" Erland mengingatkan Arkan bagaimana karakter Laras yang berbeda dari kebanyakan orang.


Akhirnya, Arkan segera pergi menuju terminal bersama Hesti.


"Aneh nya Laras gak ilang-ilang dari dulu. Persis sama mendiang ibunya," kata Hesti yang duduk di kursi bagian belakang mobil Arkan.


"Istriku gak aneh," kata Arkan sembari melirik Hesti dengan perasaan tidak suka. "Yang aneh ibumu sama Anita!"


"Ibu tu dulu gak kayak gitu, tapi semenjak bapak meninggal. Dia mulai perlakuin Laras gak adil, gak tau kenapa?" heran Hesti. Pasalnya, sebelum bapak dari Hesti dan Anita meninggal, Bu Yanti bersikap baik pada Laras. Bahkan tidak pernah membeda-bedakan antara Anita, Hesti dan Laras.


Arkan hanya menyimak cerita Hesti tanpa berkomentar apapun. Yang ia pikirkan hanya istrinya, bagaimana caranya ia mengejar istrinya yang kata Erland sudah pergi.


Tak terasa, mobil yang di kendarai Arkan tiba di area terminal. Di sana sudah ada Erland yang menunggunya.


"Er, gimana istriku?" tanya Arkan pada Erland yang besandar pada dasbord mobilnya.


"Aman!" Erland mengacungkan jempolnya. "Anterin lah, bakal semalam doang. Dia udah ceritain niatnya, dia cuman pengen tengokin bibi nya. Itu doang kok gak lebih!" jelas Erland.


"Iya, aku bakal temenin," kata Arkan. "Tapi, dia sekarang dimana?"


"Janji ya! Soalnya aku juga bakal ikut ke Lampung. Sekalian liat-liat kota kelahiran Hesti," kata Erland.


"Iya, aku janji!"


"Tuh!" tunjuk Erland ke dalam mobilnya.


"Erland!" geram Arkan saat melihat istrinya yang duduk di dalam mobil Erland sembari menurunkan kaca mobil itu. "Sayang, turun! Naik mobil kita aja, biar Hesti sama Anita yang satu mobil sama Erland!"


"Nanti mas bohong," kata Laras.


"Enggak, mas janji. Kita kesana siang ini juga, tapi besok kita pulang lagi," ucap Arkan.

__ADS_1


"Setuju!" Laras segera turun dari mobil Erland, meninggalkan Anita yang duduk kursi bagian belakang mobil itu. "Kakak disini aja, ya! Hesti gak akan gigit kok!" Anita mengangguk pelan.


"Jangan bikin mas khawatir dong!" Arkan memeluk tubuh istrinya itu dan mencium pucuk kepalanya.


"Akhirnya, Laras bisa tengokin bibi sekalian tengokin ayah, ibu dan paman." batin Laras yang berada di dalam dekapan suaminya itu.


.


.


.


Jam menunjukan pukul 16:47 sore. Anita dan yang lainnya tiba di pusat rehabilitasi ODGJ Lampung. Anita segera masuk lebih dulu ke tempat itu, ia segera menemui Bu Yanti yang berada di ruangan rawatnya, Laras, Arkan, Hesti dan Erland terus mengikuti langkah Anita.


"Bu!" panggil Anita dengan lirih.


Bu Yanti mendongakkan wajahnya, ia menatap Anita sejenak. Setelah itu, ia mengedarkan pandangannya ke semua orang yang hadir di dalam ruangan itu.


Bu Yanti tertawa setelah melihat wajah Laras. "Ihihihik.. Anakmu sudah pulang Rahman," kata Bu Yanti sembari menujuk wajah Laras. Sesaat kemudian, wanita separuh baya itu menangis. "Hiks.. Dia kembali setelah semua nya habis. Aku sudah menghabiskan semua harta benda milikmu, tidak ada lagi yang tersisa."


"Bibi.." panggil Laras.


Mendengar suara Laras, Bu Yanti semakin menangis. Hesti yang melihat keadaan ibunya yang memprihatinkan menjadi ikut bersedih.


"Ya tuhan, jika ini hukuman untuk ibuku. Tolong ampuni dia." batin Hesti sembari menatap wajah ibunya yang kusut dengan rambut yang acak-acakan itu.


Cukup lama mereka berada di pusat rehabilitasi itu, akhirnya Erland mengajak sumua orang untuk pergi.


Arkan mengangguk, ia pun mengajak istrinya. "Yank, cari makan yuk. Mas sama Erland laper, kalian semua pasti laper juga!"


Akhirnya, mereka semua pergi mencari makan. Termasuk Anita.


Hesti pun sudah tidak seketus saat di awal pada Anita. Meskipun ia tidak bersikap baik pada kakak nya itu, tapi ia juga tidak lagi berbicara kasar.


"Kita makan ke rumah makan seger aja," kata Hesti. Rumah makan tempat yang biasa di datangi Hesti dan Laras saat Hesti dari gajian setiap bulan nya.


"Kamu masih ingat, Hes. Kapan terakhir kali kita kesana?" tanya Laras pada Hesti.


"Ingat dong, tanggal 12 agustus setahun setengah yang lalu. Waktu aku abis gajian," kata Hesti sembari tertawa kecil.


"Berapa sih gajinya?" tanya Erland.


"Satu juta dua ratus ribu rupiah," kata Hesti dengan bangga.


"Bangga dong?" Arkan ikut bicara.


"Bangga lah, meskipun segitu masih bisa makan berdua di rumah makan," kata Hesti. "Iya kan, Ras?"

__ADS_1


"Hooh, kan makan berdua pakek ayam sama ikan cuman 90 ribu," ucap Laras.


"Gaji istrimu cuman 5% dari gaji, Er," kata Arkan. Maka menganga lah lebar lah mulut Hesti.


"Emang gaji abang berapa sih? Hesti gak pernah tau?" tanya Hesti dengan begitu penasaran. Jika Laras, ia emang tidak pernah bertanya, yang ia tahu bahwa suaminya itu tidak pernah membelikan dirinya barang-barang yang murah. Mulai dari pakaian sampai perhiasan. Sedangkan Anita, gadis itu hanya menjadi pendengar yang baik.


"Hitung aja sendiri, gaji kamu 1,2 juta. Itu 5% dari gaji abang," kata Erland.


"Wah, keren," kata Hesti. "Tapi, uang nya kemana?" jiwa matre Hesti mulai timbul.


"Ada lah! Kan abang udah kasih ke kamu separo setiap bulan, seperempat sama ibu yang seperempat abang tabung," kata Erland.


"Udah lah jangan bahas gaji!" sahut Laras tiba-tiba. "Mau jadi gak cari makannya?"


Ke lima orang itu, kini sudah tida di RM. SEGER. Rumah makan favorite Laras dan Hesti.


Hesti segera memanggil langsung abang pemilik rumah makan itu.


"Bang Seger!" panggil Hesti.


"Oeiiikkk!" Orang yang merasa terpanggil segera bangkit dari duduknya dan mendekat.


"Hesti, Laras, masih idup?" tanya Bang Seger pada Laras dan Hesti.


"Doain istri saya mati!" Mata Arkan melolot tajam kepada pemilik rumah makan itu.


"Enggak mas, maaf!"


"Bang, pesen makanan yang sering kami pesen dulu ya. Masing-masing lima," kata Hesti. Bang Seger mengangguk dan segera meminta anak buahnya menyiapkan semua pesanan Hesti.


Tak lama kemudian, semua pesanan Hesti datang. Meja panjang yang ada di depan mereka menjadi penuh.


Erland meneguk ludah saat melihatnya. Buru-buru pria itu mengambil piring dan makan lebih dulu tanpa melihat kiri dan kanan.


"Astagfirullah, suamiku!"


"Ini bersih kan?" bisik Arkan pada istrinya. Arkan yang tidak pernah memakan masakan seperti itu selain masakan istrinya, menjadi ragu untuk memakan makanan itu. Pasalnya, ia mengenal makanan seperti itu semenjak ia mengenal dan menikah dengan Laras. Berbeda dengan Erland yang tidak pernah pilih-pilih.


***


Note: Memaksakan untuk merubah karakter tokoh itu sulit. Jadi yang gak suka, bisa tinggalkan. Enggak apa-apa!


.


.


.

__ADS_1


Sembari nunggu update, bisa mampir ke karya kakak online neng yang ada di bawah ini ya!



__ADS_2