Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
ERLAND LENGAH!


__ADS_3

"Bagaimana ini dokter?" tanya Papa Han pada Dokter Danang. "Bagaimana caranya agar putri saya mau menggugurkan kandungannya?"


"Tolong lah dokter, segera ambil tindakan. Sembuhkan Laras!" pinta Mama Rita pula. "Kami gak sanggup liat dia terus menderita seperti ini."


"Begini saja Tuan, Nyonya. Kita beri saja dia obat, kita buat Nona Laras seperti mengalami keguguran alami," kata Dokter Danang. "Tapi, proses cukup lama. Tergantung sampai mana janin itu mampu bertahan."


"Kalau begitu, segera berikan obat itu dokter," ucap Mama Rita.


"Masalahnya, siapa yang akan memberikan obat itu? Nona Laras sudah tidak percaya pada kita, kan?"


Papa Han tampak berpikir, sesaat kemudian. Pria separuh baya itu mengingat sesuatu. "Erland, Laras pasti mempercayai Erland. Apa lagi, saat kejadian tadi Erland kan tidak ada," kata Papa Han.


"Ya sudah, kita hubungi dulu Tuan Erland. Pinta dia segera kesini dan membujuk Nona Laras untuk mengonsumsi obatnya segera."


Di dalam ruangan rawatnya, Laras terus memohon pada Arkan. Wanita itu sudah tidak ingin lagi berada di rumah sakit.


"Mas, ayo pulang! Laras mohon, Laras gak sakit lagi. Laras udah sembuh," pinta Laras yang berada di dekapan Arkan.


"Sayang, mas gak bisa mutusin semua ini. Udah cukup selama ini mas bikin kamu menderita, mas gak mau lagi nyakitin kamu karena keputusan yang udah mas ambil," ucap Arkan dengan perasaan yang begitu sedih.


"Tolonglah, Laras pengen pulang. Kalau mas gak mau turutin Laras, Laras bakal pulang sendiri dan gak akan balik lagi!" Lagi, Laras mengancam suaminya itu.


"Iya, iya udah kita pulang. Kita Izin dulu sama Papa dan mama," kata Arkan.


"Ya tuhan, bagaimana ini? Papa dan mama pasti bakalan makin marah dan benci sama aku," batin Arkan.


"Sekarang, kamu tunggu di sini dulu. Mas minta izin dulu sama papa," Arkan mengusap rambut istrinya, setelah itu ia pergi meninggalkan istrinya itu sendirian.


Di luar ruangan itu, ternyata sudah ada Erland yang berbincang-bincang dengan Dokter Danang, Papa Han dan juga Mama Rita.


"Kenapa dia bisa tau?" Tanya Erland pada Dokter Danang.


"Kami juga tidak tau, tapi saat kami ingin membius nya tadi pagi. Dia malah tertawa dan memarahi kami semua," jelas Dokter Danang.

__ADS_1


"Kenapa gak kalian coba dan bicarakan baik-baik?!"


"Sudah , tuan. Tapi Nona Laras malah melakukan percobaan bunuh diri!"


Terkesiaplah Erland mendengarnya. Jika sudah seperti ini, Laras tidak akan pernah main-main. Erland begitu paham dengan sikap dan sifat Laras. "Kita gak bisa paksa dia," ucap Erland.


"Dokter, bisakah istrinya di rawat di rumah saja?" pertanyaan Arkan, membuat Mama Rita dan Papa Han langsung menatap ke arahnya dengan tatapan marah.


"Kamu mau menyiksa dia lagi?" tunjuk Mama Rita dengan airmuka yang tidak bersahabat.


"Enggak, ma. Tolong dengerin Arkan dulu," kata Arkan. "Laras gak mau di rawat disini lagi, dia pengen pulang dan Arkan pun gak tega liat dia menangis dan memohon terus menerus kayak gitu." jelas Arkan.


"Di bawa pulang boleh, tapi perhatikan obat yang dia konsumsi," kata Dokter Danang. "Mari ikut ke ruangan saya!" ajak Dokter Danang pada Arkan dan Erland.


Di dalam ruangan Dokter Danang, ia menjelaskan apa saja fungsi obat yang akan ia di konsumsi oleh Laras.


"Obat ini, untuk pereda rasa nyeri. Yang ini, vitamin. Yang ini, obat tidur karena dia akan sulit tidur. Yang ini obat alergi gatal-gatal yang sering ia alami, ini obat pusing, dan yang terakhir ini. Obat ini adalah obat pelemah kandungannya, perhatikan dia mengonsumsinya," jelas Dokter Danang.


"Pelemah kandungan? Apa gak bahaya dokter?" tanya Arkan dengan raut wajah cemas.


Arkan pun hanya mengangguk, "Kalau begini, dia sudah boleh di bawa pulang. Setiap sore, saya akan memantau kesehatannya."


Arkan dan Erland pun segera keluar dari ruangan Dokter Danang.


"Apa kata dokter?" tanya Papa Han.


"Laras harus rajin konsumsi obat," jawab Erland.


"Nah, sekarang kamu bujuk dia minum obat dulu, Er," kata Mama Rita. "Dia pasti percaya sama kamu dan mau nurut."


"Iya, biar Er coba bujuk dia," kata Erland sembari bejalan menuju ruangan rawat Laras.


"Ras, gimana? Udah enakan?" Erland masuk ke dalam ruangan itu dan tersenyum pada Laras yang duduk bersandar sembari bermain ponsel.

__ADS_1


"Laras gak sakit kok kak, apa nya yang mau enakan?" tanya Laras sembari tersenyum kecil dengan wajah pucatnya.


"Syukurlah kalau gitu," kata Erland. "Nah, sekarang minum obat dulu. Siang ini kamu udah boleh pulang kata dokter tadi."


"Beneran?" senyuman Laras semakin mengembang. Tapi, sesaat kemudian ia menatap obat-obatan yang di keluarkan Erland dari kantong yang ia bawa.


"Laras gak bisa percaya sama siapapun," batin Laras.


"Kak Er, Laras boleh gak sih minum susu?" tanya Laras dengan begitu penuh harap.


"Boleh," kata Erland. "Mau sekarang?" Laras pun mengangguk.


"Ya udah, tunggu sini. Kakak minta sama pihak rumah sakit dulu," kata Erland sembari bangkit dari kursinya.


"Susunya di kasih meses ya kak," pinta Laras. Erland tersenyum sembari melangkah keluar dari ruangan itu.


Melihat Erland keluar dan tidak ada yang memperhatikan di pintu itu. Buru-buru Laras mencacat nama-nama obat yang ada di kemasan ataupun label kotak obat itu. Ia mencari tahu efek samping apa saja yang terkandung di dalam obat-obatan itu.


Setelah ia mencari tahu di internet, ia pun tersenyum kecut. Rupanya semua orang memang ingin menyingkirkan bayi nya. "Mami gak akan makan obat yang warna coklat ini sayang, Mami gak mau bikin kamu sakit." Laras mengusap perutnya dan buru-buru meletakan obat-obatan itu kembali seperti semula pada tempatnya.


Tak lama kemudian, Erland kembali dengan segelas susu hangat dan juga sepiring makanan untuk Laras.


"Sekalian, sarapan dulu sebelum minum obat," kata Erland. Dengan begitu telaten, Erland menyuapi Laras.


Sedangkan Arkan, pria itu hanya bisa duduk di lantai depan pintu ruangan itu. Mama Rita tidak mengizinkan dia masuk selama Erland membujuk Laras.


"Enak?" tanya Erland.


"Enak lah," jawab Laras. Laras memaksakan tawa dan senyumnya. Senyum ke pura-puraan untuk menutupi rasa kecewanya pada semua orang.


"Kalau enak makan yang banyak, biar kamu dan bayi yang ada di sini cepat sehat," kata Erland. Pria itu pun berpura-pura tidak mengetahui apapun.


"Maafin kakak, kakak gak bermaksud bohongin kamu. Kakak lakuin ini semua demi kebaikan kamu sendiri." batin Erland sembari menatap Laras dengan begitu lekat.

__ADS_1


"Tega banget Kak Er, ikut-ikutan bohongin Laras dan mau nyingkirin bayi Laras."


__ADS_2