Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
SAYA MASIH LAJANG


__ADS_3

Pada sore harinya, Arkan dan Laras membawa Baby Samudra untuk mengunjungi makam kedua orangtua Laras. Tak hanya mereka berdua saja, Erland dan Hesti yang membawa serta Baby Hanindya pun ikut serta. Mereka pun sengaja ikut untuk mengunjungi makam ayah Hesti dan juga ayah dari Anita.


"Asalamualaikum ayah, ibu.. Laras datang untuk menepati janji Laras, yang katanya Laras akan mengunjungi ibu dan ayah lagi," ucap Laras di atas pusaran makam ayah dan ibunya. "Laras kesini gak cuman sama suami Laras aja, bu, yah. Tapi sama anak Laras juga, cucu kalian." tambah Laras.


"Mami jangan nangis dong," ucap Arkan yang menggendong Baby Samudra.


"Seandainya kalian masih hidup, pasti kalian bakal seneng banget main sama Samudra, yah, bu." Laras menceritakan semua kisah yang sudah ia lewati dalam waktu setahun terakhir di atas makam ayah dan ibunya.


Laras dan Hesti bun membersihkan area ketiga makam itu, setelah membersihkannya. Mereka pun membacakan surah yasin dan memanjatkan do'a untuk mendiang orangtua mereka.


Jam menujukan pukul 16:47 sore, Arkan dan Erland pun mengajak Laras dan Hesti untuk pulang dan meninggalkan area pemakaman itu.


"Udah sore, ayo pulang," kata Erland.


"Iya, gak baik juga. Kita bawa Samudra dan Anindya," tambah Arkan.


Maka, mereka pun segera keluar dari kebun kelapa yang di jadikan area pemakaman yang ada di kampung itu.


.


.


.


Di area dapur kediaman yang di tempati Anita dan juga di jadikan tempat berkumpul keluarga Sudradjat. Anita sedang berberes bersama Diana dan juga Mama Rita. Tak hanya para wanita saja, di dapur itu ada Jhonson, Ramon, Papa Han dan juga Kenzo yang kaku seperti kayu jati.


"Cantik kan, Jhon?" Papa Han menyikut lengan Jhon.


"Papa!" Jhon mengalihkan pandangannya dari Anita yang sedang mengupas bawang di depan meja kompor.


"Emang cantik kan?" lagi, Papa Han membuat Jhon semakin malu.


"Ken, kau tidak tertarik pada wanita cantik itu," bisik Ramon pada Kenzo yang menyibukkan dirinya dengan bermain Game Catur yang ada di ponselnya.


"Tolong, jangan ganggu fokus saya!" Kenzo berbicara pada Ramon tanpa mengalihkan pandangannya.


"Berhenti dulu! Coba lihat sekelilingmu!" kesal Ramon sembari merebut ponsel Kenzo.

__ADS_1


"Apa yang harus saya lalukan, tuan?" Kenzo mengakat kepalanya dan menatap Ramon yang ada di hadapannya.


"Kalau kamu kayak gini terus, kapan kamu bisa punya istri?!" kesal Ramon dengan mata melotot.


"Lalu saya harus bagaimana? Haruskah saya menculik seorang gadis dan mencabulinya?"


"Otak mu!" Ramon memukul kepala pria kaku itu dengan perasan dongkol. Bagaimana tidak? Ramon merasa tersindir dan tertampar dengan perkataan pedas yang keluar mulut Kenzo.


"Kenapa? apakah saya salah?" Kenzo kembali melirik Ramon dengan tatapan malas. Kenzo pun bangkit dan berjalan ke arah kulkas yang ada di dapur itu. Lagi-lagi, keributan terjadi antara Anita dan Kenzo.


Di saat Anita ingin mengambil sayuran yang ada di dalam kulkas itu, tiba-tiba saja Kenzo mendahului dan menghalanginya.


"Maaf, bisa cepat sedikit," ucap Anita dengan pelan.


"Kamu kenapa sih? Selalu menggangu ketenangan dan kenyamanan saya?" Kenzo yang sedang mengambil botol air di dalam kulkas itu semakin memperlambat kegiatannya.


"Saya hanya ingin mengambil sayuran yang ada di dalam sana," kata Anita.


"Ambil.. Sana ambil, sekalian mesin pendinginnya nona ambil juga!"


"Kenzo!" tegur Ramon sembari geleng-geleng kepala.


"Mana sayuran nya, An?" tanya Diana pada Anita.


"Aku ke warung yang ada di depan aja ya, mbak. Lagi pula, sayuran yang ada di dalam kulkas tinggal sedikit. Gak akan cukup kalau gak di tambahi," kata Anita kepada istri dari Ramon.


"Gak lama kan?" tanya Diana.


"Enggak kok, mbak. Deket doang," jawab Anita. Gadis itu pun segera mencuci tangannya dan pergi meninggalkan area dapur.


Jhon yang melihat Anita keluar dan hendak pergi ke warung, segera mengikuti langkah gadis itu.


"Hey!" panggil Jhon.


"Ya, tuan?" sahut Anita.


"Mau ke warung kan? Boleh saya ikut?" Jhon menatap wajah Anita. Anita pun hanya mengangguk pelan. "Ya udah, silahkan jalan duluan." Jhonson meminta Anita berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, kedua orang yang sudah sama-sama dewasa itu hanya saling berdiam diri tanpa berbicara sepatah katapun. Hingga pada akhirnya, Anita memberanikan diri untuk bertanya pada Jhon.


"Emmm.. Tuan kerja sama Arkan?" tanya Anita.


"Maksud kamu?" tanya balik Jhon.


"Maksud saya, apa Tuan bekerja di tempat Tuan Handoko?"


"Oh.. Itu," kata Jhon. "Saya mengurus rumah sakit milik keluarga Sudradjat, yaitu rumah sakit milik Papa Handoko." jelas Jhon kepada Anita.


"Maksud, tuan? Dokter begitu?" tanya Anita lagi.


"Ya! Saya seorang dokter bedah, sebenernya saya tinggal dan bertugas di Singapura. Tetapi, karena papa sudah mulai tua. Jadi saya di tugaskan untuk mengurus rumah sakit yang ada di sini." jelas Jhon lagi.


"Papa? Maksudnya?" heran Anita.


"Iya, Papa Han itu papa saya dan Arkan adik saya, meskipun hanya angkat. Tetapi, Papa Han dan Mama Rita lah yang sudah merawat dan membesarkan saya. Bahkan, jauh dari sebelum Arkan di lahirkan."


"Oh, berarti umur tuan dan umur Arkan terpaut jauh ya?" Anita mengangguk-angguk. "Emm.. Istri tuan mana?"


"Uhukk.. Uhukk.." tak ada angin dan tak ada hujan bahkan tidak tersedak, Jhonson yang berada di belakang Anita menjadi terbatuk-batuk.


"Tuan.." Anita segera menoleh dan menyentuh lengan Jhonson. "Tuan kenapa?" tanya Anita.


"Ehemm.. Saya gak apa-apa, batuk biasa aja," Jhonson mengangkat tangannya pada Anita. "Oiya, kamu tadi nanya apa? Istri? Saya masih ja lang," kata Jhon dengan gugup.


"Ja lang?" Anita tersenyum kecil pada Jhonson yang salah bicara


"Ahhhh.. Kenapa menjadi ja lang, maksud saya LAJANG!" ralat Jhonson.


"Oh, lajang," ucap Anita sembari menutup mulutnya.


Tak terasa, Anita dan Jhon sudah tiba di warung yang menjual sayuran lengkap di kampung itu. Anita pun segera memilih macam-macam sayuran.


Setelah mengumpulkan sayuran itu, Anita pun merogoh saku gamis yang ia kenakan. Melihat hal itu, buru-buru Jhon mengeluarkan dompetnya dan hendak membayar belanjaan yang sudah di kumpulkan oleh Anita.


"Astaga.. Malu-maluin aja," gerutu Jhon. Bagaimana tidak, di dalam dompet itu tidak berisi rupiah. Hanya ada kartu dan beberapa lembar uang dolar Singapura saja.

__ADS_1


"Heheee.. Maaf kan saya, saya tidak punya rupiah," ucap Jhon dengan pelan. "Hanya ada lembaran kertas ini, dan saya yakin pemilik warung ini tidak akan menerimanya." Jhon pun memperlihatkan kartu debit, ATM serta uang dolar singapura yang ada di dalam dompetnya pada Anita.


"Gak apa-apa, tuan," ucap Anita sembari tersenyum kecil.


__ADS_2