
Hari-hari di lalui begitu saja, sudah sebulan setelah kejadian di rumah Mama Rita dan Papa Han waktu itu. Dari saat itu juga, Laras lebih banyak diam. Ia tidak pernah memakan apapun kecuali pemberian suaminya. Menghubungi Erland dan Hesti pun sudah jarang, wanita itu hanya memendam dan menahan semua keinginannya.
Seperti pagi itu, wanita itu duduk di atas ranjang nya sembari menonton televisi. Ia melihat acara memasak yang ada di layar telivisi.
Gluk..! Ia menelan ludah saat melihat ikan bakar yang di lumuri sambal kecap serta irisan bawang merah yang banyak.
"Enak banget," guman nya sembari menyentuh perutnya dengan sebelah tangan. Tangan yang sebelahnya lagi menekan remote dan mematikan telivisi.
"Sayang, sarapan!" Arkan masuk ke dalam kamar itu, di tangannya membawa piring yang berisikan roti dan juga segelas susu.
Laras hanya tersenyum melihatnya, meskipun bibirnya tersenyum. Hatinya merasa begitu sedih, bukan seperti ini yang ia inginkan. Ia ingin bebas dan juga menikmati masa ngidamnya seperti wanita pada umumnya.
"Kamu makan, abisin. Mas mau mandi dulu sebentar," kata Arkan sembari mengusap kepala istrinya.
"Auuuhhh.." tiba-tiba Laras kembali mengeluh sakit pada pinggangnya. Lagi dan lagi, tapi saat di tanya oleh Arkan, ia akan selalu menjawab tidak apa-apa.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arkan yang mulai panik.
"Gak apa-apa. Laras oke," jawab Laras dengan singkat. Wanita itu segera meraih satu potong roti tawar yang sudah di olesi suaminya itu dengan coklat. Ia memakan roti itu dengan airmata yang menetes. "Kita sanggup nak, demi papi. Biar papi gak cemas dan gak takut lagi." batin Laras, wanita itu menyeka airmata nya yang menetes.
Setelah Arkan mandi, pria itu segera berganti pakaian. "Mau ikut mas ke kantor?" tawar Arkan sembari memakai kemeja nya.
"Enggak, Laras di rumah aja. Lagian lebih enak sendirian, tenang," kata Laras sembari tersenyum.
"Beneran gak mau ikut?" Arkan menyentuh pipi istrinya itu dengan lembut.
"Iya beneran, lagian Laras masih ngantuk. Pengen tidur lagi," jawab Laras.
"Ya udah, kamu tidur aja lagi. Nanti kalau mas selesai Meeting mas langsung pulang," kata Arkan.
"Iya," kata Laras. Wanita itu segera menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Dua bulan sudah usia kandungannya, ia sama sekali tak merasakan bahagia. Bukan berarti ia tidak bersyukur, hanya saja ia merasa begitu terkekang dengan sikap dan semua perlakuan suaminya. Apa lagi, akhir-akhir ini ia sering kali merasakan sakit di bagian pinggul dan punggungnya.
Setelah suaminya itu pergi ke kantor, ia membuka selimut yang menutup tubuhnya. Laras menangis terisak. "Laras gak suka kayak gini mas, Laras pengen bebas. Laras pengen kayak Hesti, pengen kayak perempuan lain," ucap Laras dengan lirih.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang datang. Laras bangkit dari ranjangnya dan menuju ke arah balkon, ia tersenyum cerah saat melihat siapa yang datang. Di halaman rumah itu, ada Papa Han dan Mama Rita yang keluar dari mobil mereka.
Buru-buru Laras menghapus sisa airmata yang ada di pipinya. Ia segera menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya.
Setelah itu, ia segera keluar dan berlari menuju lantai bawah.
"Mama.. Papa.." panggil nya, persis seperti anak kecil yang sudah sangat merindukan ibu dan ayahnya.
"Sayang, gimana kabar kamu?" tanya Papa Han.
"Baik, pa. Ayok masuk," kata Laras. "Papa sama Mama udah sarapan?" Laras mengajak mertuanya itu untuk sarapan.
Papa Han dan Mama Rita mengikuti langkah Laras yang tidak memakai alas kaki itu menuju dapur.
Laras membuka lemari makanan, tapi lemari itu kosong. Ia tersenyum kecut saat melihat hanya ada macam-macam roti, biskuit dan susu.
"Kenapa sayang?" tanya Mama Rita.
"Heheee.. Laras lupa, kalau semenjak hamil Laras gak pernah masak dan beresan," kata Laras sembari tertawa kecil.
"Hehee.. Maaf ya pa, ma. Laras beneran males banget beresan, Mas Arkan berangkat ke kantor aja sering gak sarapan karena Laras bangunnya kesiangan terus!" bohong Laras, tingkahnya sudah seperti aktris saja. Aktris yang pintar memainkan peran.
"Iya mama ngerti," kata Mama Rita. "Makin hari, Arkan makin keterlaluan." batin Mama Rita.
"Papa ngopi aja ya," kata Laras. Dengan begitu cekatan, Laras menghidupkan kompor dan memanaskan sedikit air untuk menyeduh kopi Papa Han dan teh untuk Mama Rita.
Papa Han hanya geleng-geleng kepala, ia begitu kasihan melihat keadaan menantunya. Pastilah menantunya itu begitu merasa tersiksa.
Setelah membuat kopi dan teh untuk mertuanya, Laras ikut duduk di kursi makan yang ada di area dapur itu.
"Duh, kok punggung Laras gatal lagi," guman Laras sembari menggosokkan punggungnya pada kursi makan.
"Laras kamu kenapa?" tanya Mama Rita.
__ADS_1
"Gak apa-apa, ma. Punggung Laras gatel," jawab Laras. "Hehee, maaf ya."
"Ambil bedak, biar mama bantu kasih bedak," kata Mama Rita.
"Iya ma," Laras segera bangkit dan menuju lemari kaca yang ada di ruang tengah. Ia mengambil botol bedak dan memberikan bedak itu ada Mama Rita.
"Arkan biasa pulang jam berapa?" tanya Papa Han.
"Biasanya abis zuhur, pa," jawab Laras.
"Oh!" Papa Han mengetik sesuatu di ponselnya. Dan sekitar 15 menit kemudian, bell rumah itu berbunyi.
Laras yang hendak bangkit membuka pintu, segera di cegah oleh Papa Han. "Biar mama mu yang bukain pintu," kata Papa Han. Laras hanya mengangguk dan kembali duduk.
Mama Rita segera pergi menuju luar, tak lama kemudian wanita separuh baya itu kembali dengan beberapa kotak makanan di tangannya.
Papa Han pun tersenyum, "Sekarang kamu makan apa yang pengen kamu makan," ucap Papa Han pada Laras.
"Laras gak pengen makan apa-apa," bohong Laras sembari mengangkat bahunya.
"Jangan bohong! Papa tahu betul bagaimana sifat Arkan!" Papa Han menatap wajah menantunya dalam-dalam. "Sekarang kamu makan, lihatlah badan kamu. Lagi hamil bukan nya gendut malah makin kurus!"
Bibir Laras terus tersenyum, tapi airmata nya menetes. Wanita itu memeluk mertuanya bergantian, rasa sesak yang ia tahan sebulan belakangan, akhirnya ia keluarkan juga.
"Cepet makan, nanti Arkan pulang," kata Mama Rita sembari mengusap kepala menantunya.
Mendengar perkataan Mama Rita, buru-buru Laras memakan makanan yang di belikan oleh Papa Han. Ia makan dengan begitu lahap, sebulan terakhir ini ia hanya di beri Arkan makanan yang menurut Arkan benar-benar sehat untuk istri dan calon anaknya.
"Jangan buru-buru kayak gitu juga, ini masih pagi. Arkan juga gak mungkin pulang, Papa udah suruh Erland buat awasi dia."
"Lain kali, kamu yang harus pinter. Di saat dia ke kantor, kamu cari makanan keluar," kata Mama Rita.
"Mas Arkan suka pulang tiba-tiba, ma. Laras takut dia ngamuk lagi," timbal Laras. "Waktu itu aja, Laras ketahuan makan mie instan. Tau-tau dia buang semua isi lemari makan, makanya lemari gak ada isinya lagi." Adu Laras dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
Aneh memang, tapi itulah yang di rasakan dan alami oleh Laras. Mendapat suaminya yang begitu mencintai dan menyayangi dirinya, malah tidak menjamin kebahagian nya saat ini. Ia malah merasa tersiksa dan terkekang karena sikap posesif, over protektif dan juga kecemasan yang ada pada suaminya.