
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian. Arkan menggendong paksa istrinya keluar dari kamar itu. Laras sudah menolak, tapi Arkan yang keras kepala tidak menerima penolakan.
"Mas, Laras jalan sendiri aja," ucap Laras. "Malu sama mama dan papa, lagian kan ada Kak Erland sama Hesti juga."
"Mas gak perduli, anggap aja mereka gak ada," kata Arkan.
"Laras malu, mas!"
"Mas gak mau denger penolakan!" balas Arkan. Jadi mau tidak mau, Laras hanya diam saat suaminya itu membopong tubuhnya ala bridal style keluar dari kamar mereka dan menuruni anak tangga.
Sesampainya di lantai bawah, Arkan segera menuju dapur. Di kursi meja dapur itu sudah ada Papa Han, Mama Rita, Erland dan Arkan.
"Ehemmm!" Erland berdehem panjang pada pasangan penganten lama yang masih baru itu.
"Mas turunin, Laras malu," kata Laras dengan pelan. Arkan tidak mendengarkan, ia terus membopong tubuh istrinya itu hingga ke kursi makan. Barulah ia menurunkan Laras dengan pelan dan sangat hati-hati.
Laras merasa malu dan juga canggung duduk di antara kedua mertuanya dan juga pasangan Erland-Hesti.
"Laras, makan lah," kata Papa Han. "Kenapa kamu malah bengong?"
"Heheee, iya pa," balas Laras. Wanita itu pun mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk. Ia memberikannya pada Arkan lebih dulu.
Saat ia hendak mengambil piring lagi, Arkan menahan tangannya. "Barengan aja yank, lebih enak," ucap Arkan dengan manja. Erland yang duduk di samping Hesti tepat di hadapan Arkan dan Laras menjadi muak melihat nya.
"Makan sendiri kenapa, Ar!" sungut Erland.
"Apaan sih? Iri bilang asisten!" Arkan melotot pada Erland yang telat di hadapannya.
"Amit-amit! Kok kamu jadi aneh," kata Erland. "Aku yakin, kamu juga tambah mesum!" selidik Erland.
"Suka-suka aku lah, mesum sama istri sendiri. Emang ada yang larang?" cetus Arkan.
"Gak ada yang larang, tapi kasian sama istri!" sahut Erland.
__ADS_1
"Ilih! Bisa nasehatin orang, padahal istri sendiri di jadiin kuda sampe hampir pingsan!" celetuk Hesti.
Mama Rita dan Papa Han di buat geleng-geleng kepala karena tingkah ketiga orang itu. Erland dan Arkan yang tidak pernah akur jika bergabung, dan di tambah dengan kehadiran Hesti yang gesrek dan juga bar-bar membuat keadaan mereka semakin ramai dan juga meriah.
Laras yang berada di antara ketiga orang itu, hanya menundukkan kepalanya. Ia begitu malu setelah mendengar perkataan absurd Suaminya, Erland dan Laras. Sangking malunya, pipinya menjadi berubah merah merona.
"Laras, gak usah perduli kan mereka bertiga. Habiskan makanan mu," ucap Papa Han dengan senyum yang selalu terbit di sudut bibirnya.
"Iya, pa," kata Laras dengan suara pelan. Ia begitu menjadi bertambah malu.
"Kamu jangan kayak gini dong, sayang. Jangan malu," ucap Mama Rita yang seakan mengerti dengan posisi Laras saat ini.
"Hehee, iya ma," balas Laras pula.
"Mama juga dulu pernah ada di posisi kamu," kata Mama Rita. "Kalau Arkan mesum nya ke bangetan. Jangan heran, namanya juga duplikat bapak Handoko. Hahahaha!"
Setelah mendengar cerita Mama Rita, barulah Laras berani mengangkat kepalanya. Ia memandang wajah Mama Rita dengan malu-malu.
"Ahh, Mama jangan cerita dong. Kan papa yang jadi malu," Papa Han mengusap tengkuk lehernya.
"Ma, udah lah! Jangan buka aib suami sendiri," kata Papa Han. Pipi pria separuh baya itu menjadi bersemu merah. Ia menjadi begitu malu.
Laras menjadi mengulum senyum, pantas saja sedari awal melihat dirinya dan Arkan. Papa Han hanya diam saja dan tidak banyak komentar, rupanya kelakuan pria separuh baya itu lebih gesrek dari kelakuan putranya saat ini.
"Hey! Kalian bertiga mau makan atau mau ribut terus?" tegur Papa Han. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan istrinya.
"Mau makan, pa," kata Hesti. Buru-buru Hesti yang sudah hamil 5 bulan itu menyantap makannya.
"Arkan, Erland. Ayo makan, nanti nasinya keburu basi!" ujar Mama Rita.
Akhirnya, drama antara Arkan, Erland dan Hesti berakhir. Begitu pula dengan cerita Mama Rita pada Laras, tentunya Papa Han menjadi lega.
Tak terasa, mereka semua sudah selesai dengan acara makan mereka. Semua orang masih duduk di kursi mereka masing-masing, tapi tiba-tiba saja Arkan berbicara pada mereka semua.
__ADS_1
"Ma, Pa, Arkan mau ngomong sama kalian semua," kata Arkan.
"Mau ngomong apa? Langsung ke intinya aja," ucap Papa Han. Seakan pria separuh baya itu tahu apa yang ingin di katakan putranya.
"Arkan kan udah pulang, jadi besok kalian pulang aja!" ujar Arkan. Maka, melototlah mata Mama Rita. Sedangkan Papa Han kembali menggulum senyum.
"Papa sama mama pulang aja deh, Hen gak mau di ganggu. Han juga bisa jagain Rita sendirian!" Papa Han teringat saat ia dan Mama Rita masih pengantin baru, saat itu mereka sudah menempati rumah sendiri. Karena takut merasa kesepian, maka kedua orangtua Papa Han ikut menemani mereka menikah. Tapi, baru satu minggu kedua orangtua Papa Han itu tinggal bersama, Papa Han sudah mengusirnya agar dirinya dan Mama Rita bisa dengan bebas bercinta.
"Arkan gak punya pikiran, masa ngusir kami!" cetus Hesti.
"Masa lalu terulang lagi!" Mama Rita menepuk jidat nya.
"Besok pagi, Mama dan Papa pulang," kata Papa Han. "Erland dan Hesti juga, biar kamu bebas modusin Laras sesuai sama keinginan kamu!"
"Papa emang the best! Tau aja yang Arkan pengen dan butuhkan!" Arkan mengacungkan jempolnya.
"Gimana gak ngerti! Kelakuan kamu saat ini, sama persis sama Papamu. Dia juga pernah ngusir kakek dan nenek mu dari rumah!" tunjuk Mama Rita pada Arkan dan Papa Han bergantian.
"Hahahahaa!" Hesti terbahak-bahak. "Pantesan papa gak marah di usir kayak gitu sama Arkan." semakin malu lah Papa Han di buat mereka semua.
"Nah! Sekalian besok, Mang Udin sama Mbok Nunung di bawa pulang juga!" ujar Arkan. "Biar Arkan sama Laras berdua aja."
"Emang bebas sih kalau berdua aja, kayak Er sama Hes. Dulu pas malam pertama, ayah sama ibu resah banget!" celetuk Erland. Pria itu menjadi teringat saat ia dan Hesti pertama kali melakukan hubungan itu di sore hari, saat Ayah Budi dan Ibu Rahayu pergi kondangan. Dan ternyata kedua orang separuh baya itu pulang cepat dan mendengar semua pergumulan dirinya dan Hesti.
"Abang!" protes Hesti. Ia tidak ingin suaminya itu menceritakan semua kekonyolan yang pernah mereka lakukan.
"Lagian Hesti juga, nangis melulu!"
Buk! Hesti yang malu segera menonjok wajah suaminya dengan keras.
"Auhhh, yank!" Erland memegangi batang hidungnya yang terasa panas.
"Abang buka aib istri sendiri!" cetus Hesti dengan wajah memerah. "Namanya juga masih di segel, gimana gak nangis orang sakit!"
__ADS_1
"Bwahahahahaa!" Tawa Papa Han, Arkan, Mama Rita dan juga Laras. Ternyata, pasangan mereka miliki ceritanya masing-masing.