Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
NUMPANG MANDI!


__ADS_3

Pukul 23:14 malam. Laras terbangun karena ingin buang air kecil, wanita itu pun membangunkan suaminya.


"Mas, bangun!" Laras menggoyangkan tubuh suaminya dengan pelan. "Mas, bangun sih. Temenin Laras keluar."


"Emm.. Kenapa yank?" Arkan mengucek matanya dan bangkit dari tidurnya.


"Laras pengen pipis," kata Laras.


"Ya udah, sana pipis," ucap Arkan.


"Gak ada toiletnya di sini mas, toiletnya di luar," kata Laras.


Akhirnya, Arkan menemani istrinya itu keluar dan menuju toilet yang berada di belakang losmen.


Saat sampai di toilet, Laras segera masuk dan segera buang air. Setelah itu, ia kembali keluar menyusul suaminya. "Mas gak mau pipis juga?" tanya Laras.


"Pipis lah yank, gak pipis bisa penuh kantong mas," jawab Arkan sembari memasuki toilet umum itu.


"Ahhhh.. Jangan kasih tanda si situ yank, nanti ibu dan ayahku tahu apa yang udah kita lakuin." suara des*han dari toilet sebelah sungguh menganggu pendengaran Arkan.


"Ahhhh.. Sedikit lagi dek, abang mau keluar!" er*ng si pria.


"Sialan! Resah banget!" gerutu Arkan sembari menutup resleting celananya. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dan mengajak istrinya itu berjalan ke arah mobil.


"Mas, kok kita ke mobil?" tanya Laras.


"Ambil pakaian ganti," kata Arkan sembari membuka pintu mobilnya dan mengambil paper bag yang memang tidak pernah tinggal saat mereka berpergian mendadak seperti saat ini.


"Kenapa ambil baju ganti mas? Emang mas mau mandi semalam ini?"


"Bukan mas yang mandi, tapi burung nya," kata Arkan.


"Mas mesum ish!" Laras memukul lengan suaminya.


"Lebih mesuman mana mas sama orang yang ada di toilet sebelah tadi," kata Arkan sembari menunjuk ke arah belakang losmen.


"Mas lihat sesuatu?" tanya Laras.


"Bukan lihat, tapi denger. Kayak nya yang di toilet sebelah tadi anak ABG soalnya mas denger pakek takut di marahin segala." jelas Arkan. "Emang di tempat ini bebas? Gak ada CCTV nya?" tanya Arkan.


"Iya, kan umum. Lagi pula tempat kecil kayak gini, mas," kata Laras.


"Ya udah, gak usah di pikirin lagi. Sekarang kita balik ke kamar, dan tidurin lagi burung mas," ucap Arkan sembari tersenyum smirk pada istrinya di bawah lampu remang-remang area depan losmen itu.

__ADS_1


Laras mengikuti langkah suaminya itu kembali menuju losmen. Ia yakin betul, bahwa setelah ini dirinya akan berakhir menjadi sasaran empuk suaminya itu.


Benar saja, baru sampai di pintu kamar suaminya sudah menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Pria itu mencium lembut bibir Laras dengan penuh gairah.


"Mas.. Pelan-pelan ya," ucap Laras dengan lirih. Laras sering kewalahan melayani suaminya itu.


Keesokan paginya, jam menunjukan pukul 04:37. Laras terbangun dari tidurnya.


"Mas, bangun. Laras bingung, kita mandi mana?" Laras membangunkan suaminya itu.


"Gak usah mandi yank, lagi pula di sini dingin banget," kata Arkan. Pria itu enggan sekali membuka mata nya.


"Nanti Laras mau ziarah ke makam ibu, ayah sama paman. Masa gak mandi," ucap Laras.


Mendengar kata makam dan Ziarah. Arkan pun membuka matanya dan bangkit dari ranjang itu.


"Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana," kata Arkan sembari memakai celana dan kemejanya. Pria itu keluar dari kamar dan menuju tempat tinggal pemilik losmen itu.


Tak lama kemudian, Arkan kembali. Ia pun meminta istrinya itu memakai pakaiannya dan membawa baju ganti nya.


"Ayo kalo mau mandi," kata Arkan.


"Mandi kemana? Laras gak mau mandi di toilet, banyak orang," kata Laras. Wanita itu begitu risih dengan tempat keramaian.


Akhirnya, Laras pun mengikuti langkah suaminya menuju ke rumah pemilik losmen. Arkan membiarkan istrinya itu mandi lebih dulu, ia tidak beranjak sedikit pun dari hadapan kamar mandi. Pria itu bersedekap dada dan meyandarkan tubuhnya di samping pintu kamar mandi itu.


"Mas, jangan kemana-mana ya. Tungguin Laras!" teriak Laras dari dalam kamar mandi. Wanita itu begitu takut di tinggalkan di tempat orang sendirian.


"Iya sayang, sana cepet. Abis kita mandi, biar kita suruh Erland dan Hesti mandi juga."


Pemilik losmen itu begitu heran kepada Arkan yang terlihat berbeda dari pelanggan losmen yang lainnya.


"Bang!" panggil Arkan kepada pemilik losmen yang tertangkap basah sedang memperhatikan dirinya.


"Iya, ada apa?" tanya Pemilik losmen itu.


Arkan memberikan ponselnya kepada pemilik losmen itu. "Untuk apa, mas?" tanyanya.


"Masukan nomor rekening kamu!" tegas Arkan.


"Gak usah, mas. Saya ikhlas," kata pemilik losmen itu. Ia tidak enak hati pada Arkan.


"Saya tidak ingin berhutang budi pada siapa pun!" terang Arkan dengan nada datar dan dingin.

__ADS_1


Pemilik losmen itu pun memasukan nomor rekening nya. Arkan segera mentransfer sejumlah uang ke rekening itu.


"Saya sudah kirim kan uangnya, termasuk biaya sewa 3 kamar dan kamar mandi ini!" jelas Arkan. "Setelah ini, kamu bisa pasang alat pengaman di sekitar tempat ini, agar tidak ada lagi pelanggan yang mendapati hal-hal yang tidak mengenakan seperti saya dan istri saya semalam!"


Pemilik losmen itu hanya mengangguk meskipun ia tidak paham dengan apa yang di maksud oleh Arkan. Pria yang tidak di kenal nya itu.


.


.


.


Siang harinya, Arkan, Laras, Hesti, Erland dan Anita sudah berada di area pemakaman yang terletak di area dalam perkebunan kelapa.


Terlihat, Laras menangis di atas pusara makam Ayah dan juga ibunya. Hesti dan Anita pun membersihkan makan ayah mereka berdua.


"Bu, ayah. Laras udah nikah sekarang, udah gak jadi beban Bibi Yanti lagi," ucap Laras. Tampak, wanita itu menceritakan semua kisahnya di atas makam ayah dan ibunya dengan deraian airmata.


"Maafin Laras ya, udah lama gak jengukin ibu dan ayah," ucapnya lagi. "Tapi, dimana pun Laras, Laras selalu do'ain ibu dan ayah. Laras sayang banget sama kalian."


"Sayang, udah.. Jangan nangis lagi, kasian mereka," kata Arkan sembari merengkuh tubuh istrinya. "Sekarang kita balik ke pusat rehabilitasi dan pamit sama Bibi kamu, kita pulang sekarang."


Laras mengangguk, wanita itu menyeka airmata nya. "Laras pamit ya, bu, yah. Laras janji, kapan-kapan Laras bakal jengukin kalian lagi," kata Wanita itu.


Setelah itu, mereka semua kembali ke pusat rehabilitasi dimana Bu Yanti di rawat. Arkan sudah membayar semua biaya pengobatan Bu Yanti dalam waktu yang cukup lama. Sedangkan untuk Anita, Arkan memberikan gadis itu sejumlah uang untuk mencari kontrakan.


"Saya gak bisa bantu banyak, karena niat saya kemari hanya untuk menemani Laras. Jadi, saya hanya bisa memberi bantuan berupa biaya pengobatan ibu kamu dan juga tempat tinggal kamu. Selebihnya, saya lepas tangan dan tidak akan mengizinkan lagi istri saya untuk membantu kamu!" tegas Arkan. Anita hanya mengangguk dengan linangan airmata.


"Makasih banyak atas semua kebaikan kalian, terutama kamu Laras. Kakak benar-benar mengucapkan banyak-banyak terimakasih," ucap Anita sembari mendekap tubuh Laras, adik sepupu yang selama ia ia sakiti. "Kakak janji, setelah ini kakak akan membenahi diri menjadi wanita yang baik-baik."


"Laras akan sangat senang jika suatu saat kakak menemui Laras dengan keadaan yang jauh lebih baik," kata Laras. "Laras pamit ya!" Laras mencium pipi Anita sebelum ia melepaskan pelukannya.


Setelah berpelukan dengan Laras, Anita beralih pada Hesti. Mulanya Hesti hanya diam, saat kakak nya itu memeluk tubuhnya.


"Kakak minta maaf, selama ini kakak banyak sekali berbuat salah. Tolong, kakak minta ke ikhlaskan kamu untuk memaafkan kakak," ucap Anita dengan pelan.


"Hesti udah maafin, maafin Hesti juga yang selalu ngomong kasar ke kakak. Kakak jaga diri disini, Hesti dan Laras titip ibu." Hesti membalas pelukan kakak nya.


Setelah selesai berpamitan, Laras kembali memeluk tubuh Anita dengan singkat. Wanita itu tersenyum setelah menyelipkan sesuatu di balik pakaian Anita.


"Ehemmm!" tegur Arkan.


"Heheee! Laras pamit ya kaj, jaga diri! Laras titip Bibi, dan juga tiga rumah yang ada di dalam kebun kelapa," kata Laras. Yang ia maksud tiga rumah adalah pusara makam kedua orangtua nya dan juga ayah dari Hesti dan Anita sendiri.

__ADS_1


__ADS_2