Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
KITA SAMA2 ZUMLU!


__ADS_3

Mau tidak mau, suka tidak suka dan rela tidak rela. Akhirnya pengendara yang ternyata adalah Erland itu, membawa Hesti pulang bersamanya. Entah apa yang akan di katakan kedua orangtua Erland nantinya.


“Bang, kau masih Zomlo?” tanya Hesti. Erland mengangguk. “Sama kita, cantik-cantik gini juga, aku tak pernah pecaran.”


“Aku gak nanya, mulut mu bisa diem gak? Nanti ku lakban pula, baru tau rasa!”


“Ya, aku diam. Aku tak akan jawab lagi kalau kau tanya sesuatu,” kata Hesti. Tampak, gadis itu mengeluarkan ponsel dengan merk oppo nya.


Ia pun mencoba menghubungi nomer Laras. Tapi, tidak di angkat.


“Bangke juga, kemana si Laras? Bisa gawat aku kalo abang ini berbuat jahat, dari tampilan mukanya aja udah mesum banget,” batin Laras sembari melirik Erland.


“Oeikk! Muka kamu kok ada mirip-mirip nya sama istri teman ku, ya?” Erland angkat bicara. Tapi Hesti tidak menjawab.


“Kamu gak tuli kan? Kalau di ajak ngomong itu jawab,” kata Erland.


“Salah terus lah aku, bang. Kata abang tadi aku suruh diam. Aku diam di bilang tuli!”


Tak terasa, mobil Erland sudah memasuki pekarangan rumah kedua orangtua nya. Rumah sederhana dengan cat berwarna orange itu.


“Asalamualaikum, bu, ayah!” panggil Erland saat ia dan Hesti sudah berada di depan pintu.


“Waalaikum salam!” sahut suara dari dalam sembari membuka pintu rumah.


“Asalamualaikum,” ucap Hesti sembari menyambar telapak tangan ibu Erland.


“Waalaikum salam,” balas ibu Erland. “Siapa, Er?” tanya ibu Erland.


“Pacarnya, abang. Calon mantu, heheee!” kekeh Hesti.


“Alhamdulillah, akhirnya bujang ibu punya calon juga,” kata ibu Erland yang bernama Rahayu itu. “Pak, anakmu pulang bawa calon mantu!” teriak Bu Rahayu.


“Mampus lah aku!” Hesti menepuk jidat nya.


“Hehehe! Jodoh yang turun dari bus, sepertinya beneran ada. Dapat rumah elit aku,” kata Erland terang-terangan di depan Hesti.


“Macam-macam!” Mata Hesti melolot lebar di buatnya.

__ADS_1


“Salah sendiri, kan kamu yang milih masuk ke sangkar mak nya singa,” kata Erland. “Kalau aku sih, oke aja. Dari pada jomlo dan jadi bujang lapuk, di nikah kan sama kamu malam ini juga. Aku mau.”


“Luar binasa si abang, gak mikir kalo ngomong!” Hesti mencebikan bibirnya. Membuat Bu Rahayu tersenyum. Entah kenapa, wanita setengah paruh baya itu langsung suka dengan karakter Hesti yang ceplas ceplos seperti itu.


“Ayo masuk, nanti kembung kalau lama-lama di luar kayak gini, kemasukan angin.” celetuk Hesti. Gadis itu sudah tidak tahan lagi, punggung dan bokongnya sudah sangat pegal.


“Ehh! Iya, ibu lupa. Ayo masuk, kebetulan banget. Kita makan malam bareng-bareng,” kata Ibu Rahayu sembari menuntun Hesti masuk ke dalam rumah.


“Bang, jau bawakan koper pakaian aku yak!” perintah Hesti. Melotot lah mata Erland di buatnya.


“Astagfirullah.. Ini cewek terbuat dari apa? Tulang rusukku kah?” gerutu Erland sembari menyeret koper pakaian gadis yang tidak ia kenal itu.


Hesti pun di ajak Bu Rahayu langsung menuju dapur. Ayah dari Erland yang bernama Budi itu tersenyum pada Hesti yang berdiri di hadapannya.


“Asalamualaikum, paman!” sapa Hesti dengan begitu sopan. Sepertinya gadis itu bisa dengan cepat merubah karakternya.


“Hahahaha! Kayak bunglon!” celetuk Erland.


“Waalaikum salam,” sapa balik Ayah Erland. “Ayo, ikut makan malam.”


“Hehee.. Kebetulan, Hesti lapar. Belum makan dari pagi,” kata Hesti dengan malu-malu tapi mau. “Naik bus dari lampung sampai jakarta, makan waktu berjam-jam. Bikin lapar dan pegal.”


“Nyari sepupuku, kemaren mak dan kakak ku datang ke sini. Suami sepupuku di peras, di mintain duit. Banyak pula,” kata Hesti. Mulutnya yang ceplas ceplos begitu jujur menceritakan semua masalahnya pada orag yang tidak di kenal. “Bodoh banget kan? Kalo aku jadi suaminya sepupuku itu, udah ku laporkan sama polisi!”


“Uhuk-uhuk!” Erland terbatuk-batuk.


“Minum, Er. Biar gak sakit tenggorokan,” kata Bu Rahayu sembari menyodorkan segelas air pada Erland.


“Berarti aku gak salah mengenali, kamu saudaranya Laras?” tunjuk Erland pada Hesti, setelah ia menegak segelas air yang di berikan ibunya.


“Hah? Abang kenal?” tanya Hesti terkejut.


“Kamu ini gimana, Er? Katanya pacaran, lah kok malah bilang gak salah mengenali?” Bu Rahayu menatap wajah Erland dan Hesti bergantian.


“Hehee! Erland tu gak kenal sama dia, bu. Dia aja gak punya malu, masuk mobil Erland tanpa izin!” tunjuk Erland pada Hesti.


“Macam-macam kau bang, kau tadi mau mencabuli aku di jalan!” tunduh Hesti. Melotot lah mata Ibu Rahayu dan Pak Budi di buatnya.

__ADS_1


“Astagfirullah.. Ini perempuan tukang fitnah.” Batin Erland.


“Aku laporkan sama Laras kau nanti!” tunjuk Erland dengan kesal.


“Udah, jangan ribut. Ayo makan, keburu nasi nya basi,” kata Bu Rahayu.


Keluarga Erland sudah terbiasa makan malam bersama. Ayah dan Ibu Erland selalu menunggu Erland pulang bekerja, barulah mereka makan bersama. Sebenarnya, Erland seringkali berkata pada ibu dan ayah nya agar makan lebih dulu. Karena, ia sering kali pulang tidak tentu waktu. Tapi, ibu dan ayah Erland tidak mendengarkan. Mereka selalu saja menunggu, seperti malam ini. Jam 22 malam, mereka baru makan.


Setelah makan malam, Ibu Rahayu meminta Erland untuk mengatarkan Hesti ke kamar untuk beristirahat.


“Er, malam ini. Kamar kamu di tempati sama Hesti,” kata Bu Rahayu.


“Lah, Erland tidur dimana? Kan kamar di rumah ini cuman ada dua?”


“Kamu tidur di ruang tengah,” kata Bu Rahayu.


“Ini lah yang Erland takutkan selama ini, ayah dan ibu selalu menolak kalau di ajak pindah!” gerutu Erland.


“Gitu aja repot, kau tidur aja di kamar, bang. Aku bisa tidur di lantai,” kata Hesti.


“Udah, gak usah bawel. Ayo!” Erland menarik tangan Hesti menuju kamarnya.


Maka, malam itu. Hesti menunggu kamar Erland dan Erland tidur di sofa yang ada di ruang tengah. Jika tidak ada ayah dan ibunya, sudah di pastikan Erland akan mengerjai Hesti habis-habisan.


.


.


.


“Laras Laras Laras! Kenapa nama itu tidak bisa pergi dari ingatanku?” seorang pria meyentuh dadanya sembari menatap langit-langit kamarnya.


“Sejak pertama melihatnya, aku langsung jatuh hati. Rasa ini berbeda dengan rasa yang pernah saat aku berdekatan ataupun bercumbu dengan perempuan lain,” kata pria itu. “Apakah ini cinta?”


Pria itu adalah Ramon, mengingat Laras membuat dirinya merasa gila. “Aku harus bisa memilikimu. Tidak perduli kau adalah milik Arkana Sudradjat,” ucap Ramon. “Kekasih Erland saja dapat aku miliki dalam waktu sekejap. Jadi, aku juga harus bisa merebut Laras dari Arkan.”


“Kalau begitu, besok aku akan datang ke kediaman Sudradjat. Aku harus bertemu dengan Laras, jika seperti ini terus, aku bisa gila karena memendam rindu!”

__ADS_1


Maka, Ramon sudah memutuskan, akan merebut Laras dari sisi Arkan. Dan ia berencana untuk datang ke kediaman Sudradjat agar dapat bertemu dengan Laras. Tanpa ia ketahui, bahwa Arkan dan Laras sudah tidak tinggal di rumah itu.


__ADS_2