
Satu bulan kemudian, Arkan dan Laras benar-benar menunaikan rencana mereka untuk pergi ke Lampung.
Tak hanya mereka berdua saja, akan tetapi semua keluarga termasuk Ramon, Diana dan Asisten Kenzo. Jhonson pun ikut serta mendatangi tanah Lampung itu.
"Siap ya, gak ada lagi yang tinggal kan?" Papa Han bertanya pada semua orang.
"Ada yang ketinggalan, pa," kata Arkan.
"Apa lagi, Ar?" tanya Papa Han dengan begitu serius.
"Mahar nya Kak Jhon untuk ngelamar anak dari pesantren yang gak jauh dari tempat tinggal nya Laras dan Hesti di sana," kata Arkan.
"Arkan!" kesal Jhonson. Pria itu begitu kesal pada Arkan yang suka sekali menjahili dirinya.
"Tuan! Apa yang harus saya lalukan di sana? Kenapa saya harus ikut?" tanya Kenzo pada Ramon dan Diana.
"Siaap tahu, nanti di sana kamu dapat jodoh," kata Ramon.
"Oh!" sahut Kenzo dengan cuek.
Akhirnya, kedua mobil yang di supiri oleh Jhonson dan juga Kenzo segera melaju meninggalkan kediaman Arkan dan menembus jalanan kota.
Mereka berangkat pada pagi hari, dan pada siang harinya mereka semua tiba di tanah Lampung.
Saat tiba, mereka semua sudah di tunggu dan di sambut oleh Anita. Wanita yang dulunya bersikap tidak baik dan selalu berpenampilan terbuka. Kini terlihat begitu anggun dengan balutan gamis berwarna lavender dan juga pasmina dengan warna senada yang menutup kepalanya.
"Kak Anita!" panggil Laras lebih dulu.
__ADS_1
"Laras.." Anita mendekat dan memeluk tubuh adik sepupunya itu. "Kalian semua apa kabar?" tanya Anita.
"Kak Anita gak mau peluk aku juga?" Sungut Hesti yang kini bertubuh lebih berisi dari sebelumnya.
"Ya mau dong," kata Anita. "Adik kakak yang cerewet sekarang lebih gendutan, ya!" Anita pun beralih memeluk tubuh Hesti.
"Kalau Hesti gendut, itu tandanya makmur dan di kasih abang makan diamond setiap hari. Hahaha!" Hesti tertawa lebar. "Gimana keadaan ibu?" tanya Hesti kemudian.
"Alhamdulilah, udah jauh lebih baik. Dan sekarang ibu lagi menjalani tahap pemulihan," kata Anita.
Anita pun menyalami semua orang, termasuk Jhonson. "Jhonson!" Jhon menjabat tangan Anita yang tertutup lengan pakaiannya yang panjang.
"Anita.." balas Anita. Jhonson yang melihat wajah Anita menjadi tersenyum kecil.
"Pak Dokter!" tegur Arkan. "Jangan pandang-pandang, jadi zinah mata jatuhnya. Hahahaha!"
"Mas Ar, jangan godain Kak Jhon terus," kata Laras.
Karena Arkan terus meledeknya, Jhonson pun segera melepaskan tangan Anita yang di genggam nya.
Papa Han dan Mama Rita hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Arkan yang semakin hari semakin tengil pada Jhonson.
"Ayo semuanya, silahkan masuk," ajak Anita. Rumah yang dulunya di sita oleh Bank. Kini sudah kembali karena di tebus oleh Arkan. Akan tetapi, surat menyurat serta sertifikat rumah itu sudah sah menjadi milik Laras.
"Ken, kami masuk duluan. Nanti kamu keluarkan semua barang-barang kita dan bawa masuk ke dalam rumah, ya," kata Ramon pada Kenzo yang sibuk dengan ponselnya dan masih betah berada di dalam mobil.
"Ya Tuan!" timbal Kenzo. Sepertinya pria kaku itu begitu malas untuk turun dari mobil. Tapi karena terpaksa, ia pun dan mulai mengeluarkan barang-barang serta koper pakaian tuan dan nyoya nya.
__ADS_1
"Jadi asisten rangkap kalau begini jadinya," gerutu Kenzo.
Sedangkan di dalam rumah, Laras yang baru saja duduk kembali bangkit dan hendak keluar.
"Mau kemana, Ras?" tanya Mama Rita.
"Mau ambil susu dan dot Samudra di mobil, ma," kata Laras.
"Biar aku yang ambil," kata Anita dengan cepat. Gadis itu segera berjalan dan hendak keluar dari dalam rumah itu.
Saat sampai di depan pintu, tiba-tiba saja Anita menabrak Kenzo yang sibuk dengan dua koper Ramon dan Diana.
Brukk! Tak ayal lagi, Anita dan Kenzo sama-sama terpental dan terjatuh di lantai rumah itu.
"Astaga! Apakah anda tidak punya mata, nona?" cetus Kenzo pada Anita.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Anita.
"Menyesal sekali saya ikut ke tempat ini!" gerutu Kenzo sembari bangkit dari lantai teras rumah itu. Pria kaku itu kembali menarik dua koper tuannya.
Jhonson yang duduk di samping Papa Han, diam-diam memperhatikan Anita. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Entah suka atau tidak? Hanya dirinya dan juga perasaannya lah yang tahu!
"Galak banget," guman Anita sembari menatap Kenzo yang menyeret koper pakaian Ramon dan Diana memasuki rumah itu.
.
.
__ADS_1
.
SLOW UPDATE YA!