
"Sayang, tolongin aku. Jangan diem aja," kata Arkan. Pria itu merengek pada istrinya, tapi istrinya itu hanya menatapnya tanpa expresi.
"Er, tanggung jawab. Ini semua kan ide kamu, biar surprise!" teriak Arkan pada Erland yang di tahan oleh Hesti.
"Aku cuman kasih ide, yang menjalankan rencananya kan mereka semua!" tunjuk Erland pada seluruh anak buah Papa Han yang berdiri di sudut-sudut hotel.
"Ampun ma, pa, tolong lepasin. Arkan pengen peluk Laras," ucap Arkan dengan wajah memelas kepada Papa Han dan Mama Rita.
Papa Han dan Mama Rita saling pandang. Mereka melirik wajah Laras dan Arkan bergantian. Wajah dan tubuh kedua anak itu sama-sama terlihat kurus dari sebelumnya.
"Ajaklah istrimu istirahat," kata Papa Han. "Kasian dia, selama hampir empat bulan kau tinggalkan. Dia jarang makan, kerjanya hanya menangis dan memandangi gambar mu!"
Arkan yang sudah di lepaskan oleh Mama Rita dan Papa Han segera menghampiri istrinya yang sedari tadi hanya diam.
Di peluknya tubuh Laras dengan erat. Laras yang sedari tadi hanya diam, akhirnya menangis. Ia menangis terisak di dalam dekapan suaminya.
"Jahat kamu, mas. Kamu gak kasih aku kabar dan pulang juga gak kasih tau aku," kata Laras. Airmata itu terus menetes, rasa sesak di dadanya beberapa bulan terakhir ini, akhirnya bisa ia keluarkan.
"Arkan, ajak lah istrimu istirahat," kata Papa Han. Akhirnya, Arkan pun menggendong tubuh istrinya di hadapan semua orang.
Setelah Arkan pergi dari aula hotel itu bersama Laras. Terdengar suara Erland yang berteriak-teriak.
"Auchhh! Ampun, ma, pa. Erland kapok," pekik Erland yang di pukuli, bahkan di jewer oleh Papa Han dan Mama Rita.
"Untung Papa gak punya penyakit jantung. Kalau punya, udah masuk lubang kubur papa hari ini!" Papa Han memukul bokong Erland, seperti mak-mak yang memukul anaknya karena main dan tak ingat pulang.
"Aduh, ampun.. Janji gak akan ngulangin lagi," kata Erland.
.
__ADS_1
.
.
Di dalam kamar hotel yang ditempati Arkan bersama Laras.
"Jangan nangis lagi, mas janji gak akan ninggalin kamu lagi. Mas bakal disini terus, temenin kamu," ucap Arkan pelan sembari mengusap airmata istrinya.
"Mas jahat, mas gak kasih Laras kabar sama sekali. Mas gak sayang sama Laras," kata Laras. Dadanya terasa begitu sesak.
"Dengerin mas, mas sengaja lakuin itu. Mas gak mau lemah, mas pengen sembuh," ucap Arkan lagi. "Mas juga begitu rindu, mas kangen sama kamu. Setiap malam mas selalu mikirin kamu, jauh dari kamu sangat-sangat menyiksa. Tapi, mas tahan semua itu, demi apa? Demi kamu demi masa depan kita!"
"Tapi kan, seenggaknya mas bisa kasih aku kabar sebulan sekali," kata Laras.
"Iya mas minta maaf," kata Arkan. "Sekarang diem, jangan nangis lagi. Kita istirahat."
"Dari tadi Laras pengen berenti nangis, tapi gak bisa." Laras menatap wajah suaminya dengan dada yang kempang kempis.
"Iya," timbal Laras. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Arkan.
Lama Arkan mendekap tubuh istrinya di dalam pelukannya. Tanpa sadar istrinya itu terlelap begitu saja.
"Kasian kamu yank, kamu pasti kurang istirahat dan kurang tidur selama aku tinggalin," ucap Arkan pelan. Ia pun membenarkan posisi tidur istrinya. Arkan membaringkan tubuh istrinya dengan perlahan. Di cium dengan lembut kening istrinya itu.
Setelah puas memandangi wajah istrinya, Arkan ikut membaringkan tubuhnya di sisi kiri Laras. Ia melingkarkan tangannya di perut istrinya yang sudah terlelap lebih dulu itu. Dan tak lama kemudian, Arkan ikut terlelap.
***
Di kediaman Ramon. Pria itu dan Diana sudah melangsungkan pernikahan, pernikahan sederhana yang hanya mendatangkan penghulu dan juga beberapa orang saksi saja.
__ADS_1
Ramon sudah mengatakan pada Diana, bahwa ia akan mengadakan pesta. Akan tetapi Diana menolak, wanita itu ingin di nikahi tanpa adanya pesta. Ia lebih suka di nikahi dengan sederhana. Yang penting sah dan bisa berkumpul dengan cara yang halal, tidak seperti kesalahan yang pernah mereka lakukan di masa lalu.
"Makasih ya, kamu udah mau maafin dan nerima aku yang gak sempurna ini," kata Ramon sembari mengusap rambut Diana.
"Lupain yang udah lalu kak, kita tatap masa depan sama-sama," kata Diana. "Sekarang aku bersyukur banget. Akhirnya Radit bisa sekolah kayak temen-temen nya."
"Dia pasti malu banget ya, selama ini gak sama kayak temen-temen nya. Temennya punya ayah, sedangkan dia gak punya," ucap Ramon dengan lirih. Ia begitu menyesal atas semua dosa-dosanya yang telah lalu.
"Udah lah kak, lupain aja," kata Diana. Ia yang berbaring di paha suaminya segera memeluk pinggang pria itu dengan erat. "Lagian sekarang kita udah sama-sama, Radit udah punya orangtua yang lengkap."
Ramon tersenyum. Ia menatap wajah Diana yang terlihat begitu lesu. Wajah wanita yang hampir 7 tahun terakhir ini menanggung beban kesulitan dan kepedihan sendiri.
Sedangkan dirinya, selama ini selalu bersenang-senang dengan banyak wanita tanpa pernah terpikir sedikit pun bagaimana kabar dan keadaan Diana serta anak yang ia tinggalkan di dalam kandungan Diana saat itu.
***
Pagi-pagi sekali, Laras terbangun dari tidurnya. Wanita itu mengerjapkan matanya perlahan, ia tersenyum senang karena saat terbangun sosok yang ia lihat pertama kali adalah suaminya. Suami yang begitu ia cintai dan begitu ia rindukan beberapa bulan terakhir.
Cup! Ia mencium pipi suaminya yang di tumbuhi jambang halus itu dengan lembut. Arkan yang merasakan ada pergerakan, menjadi terjaga.
"Sayang, kamu udah bangun?" Arkan mengerjapkan matanya. Ia membalas senyuman istrinya. "Mau apa? Hmm?" Arkan mencubit dagu istrinya, ia menjadi gemas pada Laras yang terus menatapnya.
"Mas sekarang kurus," kata Laras dengan pelan.
"Gak sadar diri kamu, yank. Kamu juga kurus banget," balas Arkan pada istrinya. Ia pun menarik tubuh istrinya itu. "Sayang, kita coba ya." bisik Arkan di telinga Laras.
"Aku gak mau, Mas!" tolak Laras sembari beringsut dari atas tubuh suaminya.
Arkan menatap wajah istrinya. "Kenapa yank? Bukannya selama ini kamu?" Arkan menghela napas dengan pelan. Ia bingung harus berbicara bagaimana pada Laras.
__ADS_1
"Maafin aku, mas. Tapi aku gak mau disini, aku mau di rumah kita. Di tempat kita," kata Laras. Ia tidak berniat untuk menolak suaminya, akan tetapi ia ingin melakukan penyatuan itu di rumah mereka sendiri. Bukan di hotel seperti yang di inginkan suaminya saat ini.
Wajah Arkan yang tadinya masam, kini tersenyum kembali. "Ya udah, kita pulang pagi ini juga," kata Arkan dengan semangat. Pria itu segera turun dari atas ranjang yang berukuran king size itu dan menuju kamar mandi.