Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
MAKAN AJA! ADA KAKAK DISINI!


__ADS_3

Di dalam ruangan bersalin, Hesti terus-terusan merintih sembari memegangi kerah piyama suaminya.


"Uhhh.. Bang," rintih Hesti.


"Sabar ya, bu. Udah bukaan delapan, sebentar lagi bukaan sembilan," kata Dokter yang menanganani Hesti.


"Bang, Hesti mau buang pup," ucap Hesti dengan pelan.


"Pup di sini aja yank," kata Erland. "Gak apa-apa."


"Gak bisa bang, Hesti mau pup di toilet!" bentak Hesti.


"Tuh bu, Hesti. Udah bukaan sembilan, bentar lagi bayi nya keluar," kata Dokter.


"Saya mau mau buang air, dokter!" Hesti menggeretakan gigi-gigi nya. "Bang, Hesti haus!" Erland segera memberi istrinya itu air minum.


"Iya bu, saya tahu. Nanti kalau rasa mau buang air itu udah gak bisa ibu tahan lagi, ibu mengejan yang kuat. Jangan di tahan, ya!"


"Ini dokter aneh banget," kata Hesti pada suaminya. "Bang, ayo dong. Hesti pengen buang air ini!" pinta Hesti pada suaminya dengan begitu memohon.


"Yank, kamu itu bukan mau buang air. Tapi mau lahiran, perut kamu mules karena anak kita lagi cari jalan keluar," ucap Erland dengan pelan sembari mencium pipi istrinya dan mengusap keringat yang terus keluar di pori-pori wajah istrinya.


"Ahhhh.. Bang, sakit banget! Hesti mau buang air,"


"Ayo, bu! Kepalanya udah keliatan, kalau mulas nya datang lagi mengejan yang kuat dan jangan di tahan di tenggorokan."


"Akkkhhhhh.. Abang!" pekik Hesti sembari mencekik suaminya.


"Akkkhhhh.." Pekik Erland pula.


"Oekk.. Oekk.. Oekk.." terdengar sudah suara bayi yang baru di lahirkan oleh Hesti.


"Alhamdulillah ya allah!" Erland dan Hesti sama-sama mengucap syukur.


"Alhamdulillah, bayinya cewek, sehat dan gak kurang suatu apapun," kata Dokter. "Suster, siapkan air hangatnya!" pinta dokter pada suster pendamping nya.


"Bang, bayi nya cewek. Pasti cantik kali macam Hesti, iya kan?" Hesti menatap suaminya itu dengan senyuman mengembang dan wajahnya yang pucat.


"Iya sayang, pasti cantik banget." Erland menciumi wajah istrinya bertubi-tubi. Ia begitu mengucap syukur pada Tuhan.


Setelah dokter membersikan bayi yang baru lahir itu, dokter memerikan bayi itu pada Erland untuk segera di adzani.


"Ini bayi nya, pak. Silahkan di adzani, setelah itu baru kita lakukan IMD!"


Erland segera mengadzani putrinya itu, setelah selesai. Ia memberikan putrinya itu lagi kepada dokter, dokter pun segera mendekati Hesti.


"Ayo, bu. Di buka kancing baju nya," kata dokter pada Hesti. Hesti segera membuka kancing piyama tidur yang ia kenakan.

__ADS_1


"Hah? Kok bayinya di gituin?" tanya Erland.


"Kita lakukan IMD, pak," kata Dokter.


"Apa IMD?" tanya Erland.


"IMD itu Inisiasi Menyusui Dini. Dimana bayi di letakan di atas dada ibu paling lambat satu jam, agar bayi bisa mencari sumber makanannya!" jelas dokter. Erland pun mengangguk paham.


"Ya udah, terusin dokter!"


Tak lama kemudian, terdengar suara Bu Rahayu dan Pak Rahman. Mereka adalah orangtua dari Erland.


Erland yang mendengar suara kedua orangtua nya, segera keluar dari ruangan bersalin itu.


"Ibu, ayah!" panggil Erland.


"Erland, bagaimana keadaan Hesti? Gimana cucu ibu?"


"Alhamdulillah, bu, yah. Hesti udah lahiran, bayinya cewek," kata Erland dengan senyum mengembang.


"Alhamdulillah, akhirnya kita punya cucu. Kita jadi nenek dan kakek, yah," kata Bu Rahayu dengan perasaan yang begitu bahagia.


"Iya bu, ayo kita jengukin sekarang. Ayah udah gak sabar lagi!" Pak Rahman segera masuk lebih dulu ke dalam ruangan bersalin itu.


Bu Rahayu dan Pak Rahman segera mengambil alih cucu mereka dari Hesti. Kedua orangtua itu begitu terlihat bahagia.


"Bang, temenin Hesti. Abang jangan jauh-jauh," kata Hesti. Wanita itu meminta suaminya mendorong brankar nya menuju ruang rawat.


"Iya, abang temenin terus," kata Erland.


Bu Rahayu dan Pak Rahman tersenyum melihat ke posesifan Hesti pada Erland. Mereka pun mengikuti langkah dokter dan Erland yang mendorong brankar Hesti menuju ruang rawat inap.


.


.


.


Saat pagi hari, Laras yang di buntuti Arkan berjalan memasuki rumah sakit. Laras sudah tidak sabar ingin melihat keadaan sepupunya dan juga bayi yang baru saja di lahirkan.


"Sayang, pelan-pelan!" tegur Arkan. Pria itu berjalan dengan tegap mengikuti langkah istrinya yang tergesa-gesa.


"Laras pengen liat bayi nya Hesti dan Kak Erland!" jelas Laras. "Auhhh!" Laras menabrak bahu seorang perawat yang mendorong kereta yang berisikan sarapan pasien rumah sakit itu.


"Makanya kalau punya kuping, di pakek!" Arkan menghela napas berat. Ia pun membopong tubuh istrinya itu karena khawatir istrinya itu akan terjatuh untuk yang kedua kalinya.


"Maaf mas," ucap Laras dengan lirih. Tampaknya, Laras mulai kebal dengan perkataan suaminya yang kerap kali pedas.

__ADS_1


"Mas yang minta maaf, karena akhir-akhir ini sering kali marahin kamu," kata Arkan. Pria itu mencium bibir istrinya dengan singkat, tidak perduli ia berada dimana. Ada orang lain atau tidak.


"Laras gak pernah marah, Laras tau mas marahin Laras karena Laras emang salah," kata Laras dengan begitu pelan. Wajah wanita itu tampak pucat.


"Assalamualaikum.." Laras menyembul kan kepalanya di pintu ruang rawat Hesti.


"Waalaikum salam, sini masuk sayang," kata Bu Rahayu pada Laras.


"Heheee!" Laras terkekeh sembari melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


"Lahiran jam berapa, Hes?" tanya Laras pada Hesti. Ia lebih dulu mendekati Kakak sepupunya yang terbaring di ranjang pasien.


"Sekitar jam 11," kata Hesti. "Kamu kok pucet banget?" tanya Hesti sembari menyentuh wajah Laras.


"Enggak ah, perasaan kamu aja," kata Laras. "Karena kita udah lama gak ketemu kalik!"


"Nih yank!" Erland memberikan jeruk yang sudah ia kupas pada Hesti.


'Gluk!' Laras menelan ludah melihatnya. Erland tersenyum, ia pun mengambil jeruk dan mengupasnya untuk Laras.


"Nih!" Erland memberikan jeruk itu pada Laras. Laras melirik suaminya tapi suaminya itu malah menatap ke sembarang arah dan pura-pura tidak melihat istrinya.


Melihat suaminya yang tidak mengizinkan, Laras pun menggeleng pelan pada Erland sembari tersenyum kecut.


"Aaaaaa!" Erland membuka paksa mulut Laras dan memasukan potongan jeruk itu ke dalam mulut wanita yang ia anggap adik kandungnya.


"Makan aja, gak apa-apa. Ada kakak di sini," kata Erland. Ia mengusap-usap kepala Laras dengan gemas.


Arkan melotot tajam pada Erland, tapi Erland ikut-ikutan pura-pura tidak melihat seperti Arkan sebelumnya. Jujur saja, sebenarnya Erland begitu kesal pada Arkan yang selalu mengekang Laras.


"Bu, boleh gak Laras gendong bayi nya?" pinta Laras. Bu Rahayu tersenyum dan segera memberikan bayi itu pada Laras.


Cukup lama Laras menggendong bayi itu, setelah itu ia mengembalikan bayi itu kepada Bu Rahayu.


"Kalau udah, ayo pulang! Bentar lagi jam nya kamu tidur siang," kata Arkan. Laras mengangguk dan mengikuti langkah suaminya.


"Arkan pamit pulang, yah, bu," pamit Arkan pada Bu Rahayu dan Pak Rahman.


Erland yang melihat Laras mengikuti langkah Arkan dengan wajah tertunduk, segera mengikuti langkah itu.


Belum lagi jauh melangkah, Laras sudah berhenti sembari memegangi pinggul dan beralih ke kepalanya.


"Auchhh.." rintih Laras. Tanpa di sadari oleh Arkan, tubuh Laras terhuyung. Beruntungnya, Erland yang posisi tidak begitu jauh segera berlari dan menangkap tubuh itu.


"Laras!" pekik Erland, membuat Arkan begitu terkejut.


"Sayang!" Arkan berbalik, ia begitu panik melihat istrinya yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Bajingan!" pekik Erland. "Jika sampai terjadi sesuatu sama adikku, aku tuntut kamu!" Dengan dada bergemuruh, Erland membopong tubuh Laras dan membawa wanita itu menemui dokter.


__ADS_2