
Di belahan negara lain, seorang pria sedang duduk bersandar disebuah kursi yang ada di apartemen nya. Penampilan nya sangat kusut, begitu jauh dari kata sempurna. Wajahnya yang mulai di tumbuhi jambang halus serta rambutnya yang mulai gondrong membuat pria itu semakin terlihat kacau.
Ia adalah Arkana Sudradjat, sudah hampir tiga bulan ia di kota DEN HAGG negara Belanda untuk menjalani pengobatannya. Tiga bulan itu pula, ia sama sekali tidak menghubungi istrinya. Bukan tidak rindu, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin lemah karena melihat airmata istrinya yang menetes saat melihat wajahnya.
Padahal, ia sama sekali tidak kekurangan apapun di Negara Asing itu. Ia datang dengan kebutuhan yang lebih dari cukup, tak tanggung-tanggung, ia membeli mobil bahkan sampai ke apartemen mewah yang ia tempati saat ini. Tapi, semua itu tidak ada artinya tanpa keberadaan Laras di sampingnya.
"Maafin aku, yank. Bukan aku gak kangen sama kamu, bukan aku gak ingat. Aku sengaja gak ngehubungin kamu, aku gak mau lemah setelah liat airmata kamu mengalir. Aku takut, aku gak mampu bertahan di tempat ini," ucap Arkan sembari memeluk foto istrinya yang sengaja ia bawa dari tanah air ke negara itu.
"Mas kangen banget, mas pengen cepet sembuh dan kumpul sama kamu lagi." Tampak, Arkan menyeka airmata nya. Pria 31 tahun itu menangis. Terpisah dengan orang yang begitu ia cintai dalam waktu yang tidak dapat di tentukan, sungguh membuat hatinya semakin sakit.
Di saat ia larut dalam kesedihannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan dari Dokter spesialis yang menangani dirinya.
"[Terapi pagi akan segera di mulai!]" ujar Dokter yang ada di seberang telpon. (Anggap aja pakai bahasa negara asing)
"[Ya, saya kesana sekarang!]" sahut Arkana, setelah itu ia mematikan sambungan telpon itu. Arkan meletakan foto istrinya dan segera bergegas pergi menuju tempat pengobatannya.
Pagi hari di Negara Belanda, yang artinya siang hari di Indonesia. Lima jam selisih antara Indonesia-Belanda.
Di satu sisi Arkan sudah memulai terapi nya di pagi hari itu. Di sisi lain, Laras masih begitu betah berada di dalam kamarnya.
"Ras, temenin aku ke supermarket dong!" pinta Hesti sembari menyembulkan kepalanya di pintu kamar Laras.
"Kapan?" tanya Laras dengan malas.
"Tar, nunggu aku lahiran!" cetus Hesti. "Ya sekarang lah!"
"Aku tuh males banget loh, Hes," kata Laras. "Kamu ajak mama aja deh!" wanita itu menatap Hesti dengan tatapan matanya yang sendu.
"Ya udah deh, aku gak jadi aja," kata Hesti lalu pergi dari hadapan kamar Laras.
Laras menjadi tidak enak hati pada Hesti. Ia pun bangkit dari ranjangnya dan pergi menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dan segera berganti pakaian.
__ADS_1
Di lantai bawah rumah itu, Hesti duduk di ruang tengah bersama Mama Rita.
"Gimana?" tanya Mama Rita pada Hesti.
"Gak mau dia, ma. Katanya suruh sama mama aja," jawab Hesti sembari menghembuskan napas kasar. "Dah lah, Hesti mau tidur siang aja." Hesti hendak bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar.
"Hes, ayok!" Laras menuruni anak tangga rumah itu dengan penampilan yang sudah rapi. Mama Rita tersenyum melihatnya, akhirnya menantunya itu mau keluar rumah.
"Duh, mau kemana anak mama?" tanya Mama Rita. Ia pura-pura tidak tahu, kemana anak menantunya itu akan pergi.
"Mau nemenin Hesti belanja, ma," kata Laras. "Mama mau nitip?" tanya Laras.
"Ya udah, sana berangkat," kata Mama Rita. "Gak deh, mama gak mau nitip apa-apa."
Hesti juga begitu senang, karena Laras mau keluar rumah meskipun terpaksa. Setidaknya, wanita itu mau melihat dunia luar.
Hesti dan Laras pun segera pergi. Mereka meminta Mang Udin mengantarkan mereka ke supermarket.
Hesti pun mengajak Laras berkeliling untuk memilih Barang-barang dan makanan yang di inginkan Hesti.
"Ras, ayo! Kamu pengen apa?" tawar Hesti pada sepupunya.
"Aku gak pengen apa-apa," kata Laras. "Aku cuman pengen Mas Arkan pulang." guman nya dengan sangat pelan.
"Hmmm! Kalau kamu jadi aku, pasti badan kamu udah gendut banget," kata Hesti.
"Kok bisa gitu?" tanya Laras.
"Kan kamu tau sendiri, kalau aku lagi sedih, kesal atau jengkel, aku pasti lampiaskan ke makanan gak kayak kamu. Sedih, malah kurungan terus! Bisa-bisa jadi cicak jemur kamu, udah kecil makin kecil, kurus malah makin kurus!" tunjuk Hesti, membuat Laras tersenyum kecut.
"Masih lama kah, Hes?" tanya Laras kemudian. Ia sudah tidak betah berapa di supermarket itu. Ia ingin cepat pulang.
__ADS_1
"Masih lah! Aku pengen minta temenin ke restoran nusantara dulu," kata Hesti. "Kali aja ada pindang patin kan?" Hesti mengusap perutnya di hadapan Laras. Agar Laras mau ikut dengan dirinya berkeliling.
Akhirnya, Laras pun menuruti semua keinginan Hesti. Hesti tersenyum puas. akhirnya Laras mau bergerak meskipun di bohongi dengan dalih keinginan bayi yang ia kandung.
"Ya udah, abis dari sini entar. Kita ke restoran nusantara," kata Laras. Ia terus mengikuti langkah ibu hamil yang ada di hadapannya itu.
"Horee!" sorak Hesti.
Maka, Hesti melanjutkan memilih dan mencari apa yang ia inginkan. Setelah merasa cukup, Hesti segera mengajak Laras menuju restoran nusantara.
Jarak Restoran nusantara dan Supermarket itu tidak lah jauh. Hanya memakan waktu beberapa menit saja.
Setelah sampai di restoran itu, Hesti segera mengajak Laras masuk. Dengan penuh semangat, Hesti pun memesan banyak menu makanan.
"Ras, ayo!" ajak Hesti pada Laras setelah hidangan yang ia pesan sudah tersaji.
Laras menggeleng pelan sembari berkata. "Aku tuh gak laper loh,"
"Ya udah deh, aku makan sendiri aja," ucap Hesti dengan wajah cemberut. "Tante nya gak mau nemenin sayang." Wanita hamil itu mengusap-usap perutnya, membuat Laras semakin tak enak hati. Maka, dengan terpaksa Laras meraih piring dan mengisinya dengan nasi.
"Heheheee.. Enak juga jadi bumil, meskipun terpaksa tapi tetep di turutin." batin Hesti terkekeh senang. Meskipun hanya sedikit, tapi ia sudah berhasil membuat Laras makan.
"Hes, abis ini kita pulang ya," kata Laras. "Aku takut, nanti kalau Mas Arkan pulang terus aku gak di rumah. Dia pasti kebingungan." Hesti menghentikan makan nya. Ia menatap wajah sepupi nya itu dalam-dalam.
"Ya allah! Sebesar itukah rasa cinta, sayang dan kerinduan Laras. Aku jadi gak tega liatnya, jadi ini alasan dia gak keluar rumah. Karena dia selalu mengharapkan kepulangan Arkan." batin Hesti.
"Hes, cepet!" ujar Laras.
"Ehh, iya. Abis ini kita langsung pulang, lagian aku udah kenyang," kata Hesti. "Kita pulang sekarang aja."
Akhirnya, setelah membayar semua makanan itu, Hesti segera mengajak Laras untuk pulang. Ia menjadi tidak enak telah membohongi Laras.
__ADS_1