
Dengan perasaan lega, Tuti keluar dari ruangan Arkan.
"Ya allah, untung ada pawangnya yang baik banget," ucap Tuti. Wajah nya terlihat begitu semringah. Jika tidak ada Laras, sudah dapat ia pastikan bahwa dirinya akan di lempar keluar dari perusahaan itu.
"Gimana?" tanya teman yang satu devisi dengan Tuti.
"Alhamdulillah, ada Nona muda," kata Tuti. "Kalau bukan karena dia, mungkin aku udah beneran di pecat."
"Hebat banget Nona Larasati, bisa jadi pawang tuan muda yang arogant kayak gitu," kata teman Tuti.
"Pokoknya, aku bersyukur banget masih bisa ada di sini. Kalau sampe aku di pecat, ibu sama adik-adikku mau ku kasih makan apa?"
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut? Balik kerja!" tegur Erland dengan suara tegas nya. Ia datang bersama Hesti ke perusahaan itu.
"Ihihihiik! Rupanya abang galak juga," kata Hesti. Perempuan hamil berjalan di samping suaminya.
.
.
.
Di dalam ruangan kerja Arkan.
"Mas gak boleh kayak gitu lagi," kata Laras. "Laras gak suka, sesama manusia itu gak boleh kasar dan sombong. Karena kesombongan itu cuman milik tuhan!"
"Mereka tu kalau gak di gituin, ngelunjak!" timbal Arkan.
"Tapi kan liat dulu keadaan dan kesalahan mereka, mas. Dia tadi gak salah loh, orang mas yang jelas-jelas salah!" cetus Laras. Ia pergi meninggalkan suaminya dengan perasaan kesal menuju kedalam kamar yang ada di ruangan kerja suaminya itu.
"Sayang!" panggil Arkan. Laras yang sudah masuk ke dalam kamar, tidak menghiraukan panggilan suaminya. "Malah ngambek." Arkan berjalan menuju kamar itu dan hendak masuk, akan tetapi pintu iti di kunci dari dalam oleh istrinya.
"Sayang, buka dong pintunya," kata Arkan sembari mengetuk pintu kamar itu. "Ayolah yank, bukain pintunya!"
"Gak mau, Laras gak suka liat mas marah-marah sama karyawan kayak tadi!" teriak Laras dari dalam.
"Mas marah karena mereka salah, lagian mas kan bos nya. Jadi suka-suka mas lah mau ngapain mereka," kata Arkan. Pria itu masih bersikap sombong.
"Tuh kan! Mentang-mentang jadi bos, masih aja sombong!" pekik Laras.
__ADS_1
"Iya deh, mas gak sombong lagi. Tapi pintunya tolong di buka," kata Arkan.
"Sana kerja aja, Laras mau tidur!" teriak Laras. Setelah itu, Laras tidak lagi bersuara. Wanita itu tidak lagi menjawab perkataan suaminya.
"Sayang, please! Jangan ngambek,"
Erland dan Hesti memasuki ruangan kerja Arkan. Mereka saling pandang setelah melihat Arkan yang duduk di depan pintu kamar yang ada di dalam ruangan kerja itu.
"Ar, kamu ngapain?" tanya Hesti. "Kok udah kayak Bang Erland yang gak dapat jatah malam jum'at!"
"Sayang!" tegur Erland. Hesti pun terkekeh dibuat nya.
"Hes, coba suruh Laras buka pintunya," pinta Erland pada Hesti dengan wajah yang mulai kusut.
"Ras, buka dong. Ini aku, Hesti!" Hesti mengetuk pintu kamar.
"Mas Arkan suruh pergi dulu dari depan pintu, baru aku bukain," kata Laras.
"Noh! Denger sendiri kan apa kata Laras," ucap Hesti. "Sana minggir!" usirnya pada Arkan yang duduk di depan pintu kamar itu.
Arkan pun menyingkir dari depan pintu kamar, setelah Arkan minggir. Barulah Hesti mendekat. "Ras, ayo buka!"
"Astaga!" pekik Arkan.
"Udah lah, mending siap-siap sebentar lagi kita ada meeting," kata Erland. Ia tahu betul apa yang ingin di lalukan Hesti dan Laras di dalam kamar itu. Seperti apapun Arkan membujuk nya, kedua wanita itu tidak akan membukakan pintu.
Dengan perasaan dongkol, Arkan pun bangkit dari lantai itu dan membenarkan jas nya. Pria itu pun keluar dari ruangan kerjanya lebih dulu, ia meninggalkan Erland yang masih sibuk merapikan berkas-berkas yang ada di meja kerja Arkan itu.
.
.
.
Di bagian kota lain, tepatnya di bagian daerah pesisir lampung kota marang. Dua orang wanita berbeda usia sedang bertengkar dengan anak buah rentenir sekaligus juragan tanah.
Aksi tarik menarik antar kedua belah pihak pun terjadi. "Lepasin! Motor ini punya saya!" teriak salah satu dari dua wanita itu. Mereka berdua adalah Anita dan Bu Yanti. Ibu dan kakak dari Hesti dan juga saudara sepupu Laras.
"Hutang kalian sudah semakin menumpuk! Jadi motor ini harus kami bawa!" Beberapa orang berbadan kekar itu merebut paksa kunci motor yang ada pada Anita.
__ADS_1
"Tolong beri kami waktu," pinta Bu Yanti.
"Waktu lagi!" sudah berapa kali kalian meminta waktu, tapi sampai saat ini. Kalian belum juga bisa mencicilnya apa lagi melunasi!"
Beberapa anak buah Juragan Karto, menyita beberapa barang yang cukup berharga dari dalam rumah itu.
"Bu, motor Anita gak boleh di bawa!" teriak Anita dengan kesal.
Baru saja anak buah juragan Karto meninggalkan rumah Bu Yanti dan Anita. Tiba-tiba, datang lagi dua orang pria dengan stelan pakaian yang begitu rapi. Kedua pria itu adalah utusan dari pihak bank yang datang untuk menyita rumah yang sudah di gadaikan itu.
"Selamat siang, bu!" sapa salah satu pria itu.
"Selamat siang, pak!" balas Anita, sedangkan Bu Yanti hanya diam saja.
"Mohon maaf, rumah ini sepenuhnya telah menjadi milik pihak kami. Hari ini juga, kalian harus tinggalkan rumah ini!"
Anita begitu terkejut mendengarnya, sedangkan Bu Yanti tidak memberi respon apapun.
"Gak mungkin, pak. Orang ibu saya sudah lama membayar pinjaman di bank itu!" jelas Anita.
"Maaf, kami hanya menjalankan tugas. Untuk detail nya, anda bisa tanyakan semuanya kepada ibu anda," kata pihak bank itu sembari tersenyum.
"Bu, kenapa bisa kayak gini? Kemana semua uang itu? Bukankah Anita udah suruh ibu lunasi hutang kita yang ada di bank dan juga yang ada di juragan Karto?" tanya Anita. "Tapi kenapa kayak gini? Anak buah juragan Karto sudah menghabiskan isi rumah kita, dan sekarang pihak bank datang dan menyita rumah ini, ibu apakan uang itu?!" Anita mengguncangkan bahu Bu Yanti.
"Maafin ibu, ibu ketipu penjual perhiasan bodong," ucap Bu Yanti dengan lirih. "Semua uang itu habis di bawa kabur."
"Astaga, bu! Sekarang kita mau tinggal dimana coba?" pekik Anita. Gadis itu menangis kesal.
"Ibu gak tauk," kata Bu Yanti dengan airmata ketakutan nya.
Anita pun masuk kedalam rumah, gadis itu mengemasi semua barang-barang dirinya dan ibunya. Ia mengajak ibunya itu untuk pergi meninggalkan rumah itu.
Belum pula jauh melangkah, Bu Yanti terjatuh di tanah lalu hilang kesadaran.
"Bu, ibu kenapa? Bangun, bu!" pekik Anita. 'Tolong-tolong!" tediskngar dengan keras.
Para tetangga yang melihat kejadian iru, hanya diam saja. Mereka hanya menatap tanpa ada yang berniat untuk membantu.
"Hiks.. Ibu bangun!" Anita begitu panik dan langsung menangis.
__ADS_1