
"Joe, bangun.. Aku mohon!" Teriak Maya, gadis itu menangis histeris. "Bertahan demi aku Joe, aku mohon."
Ambulance yang di hubungi pihak polisi akhirnya tiba. Joe pun segera di larikan ke rumah sakit, Maya yang yang mengiringi Joe terus menangis.
"Bertahan Joe, aku mohon.. Demi aku," kata Maya.
Sesampainya di rumah sakit, Joe segera di bawa ke UGD dan segera di tangani.
"Maaf, mbak gak boleh masuk!" Cegah perawat saat Maya hendak ikut masuk ke dalam ruangan UGD. "Silahkan mbak tunggu di luar."
"Tolong suster, izinkan saya menemani dia," Maya memohon dengan deraian airmata.
"Maaf, patuhi prosedur rumah sakit." Suster pun segera menutup pintu ruangan UGD itu.
"Ya tuhan, tolong selamat kan Joe. Maya bener-bener gak bisa tanpa dia, cuman dia yang perduli dan tulus sama Maya di dunia ini." Maya mondar mandir di hadapan ruangan itu. "Maya mohon ya tuhan."
Satu jam sudah Maya menunggu di depan ruangan rawat Joe, tetapi pintu itu belum juga terbuka. Maya sudah semakin gelisah.
Melihat dokter keluar dari UGD , Maya pun segera menghampiri dokter itu. "Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Maya dengan penuh rasa khawatir.
"Pasien kekurangan banyak darah, tapi kami sudah melakukan transfusi. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya saja, saat ini pasien masih belum sadarkan diri." jelas dokter itu.
"Lalu, apakah saya boleh masuk dan menemani dia, dokter?" tanya Maya.
"Boleh, tapi biarkan perawat memindahkannya ke ruang rawat inap lebih dulu."
Maya tersenyum lega saat mendengar kata yang keluar dari mulut dokter, bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan mengenai Joe.
"Joe, aku mohon bangun. Jangan bikin aku khawatir kayak gini," kata Maya sembari menggenggam dan mencium jemari Joe yang begitu terasa dingin. "Kamu kan udah janji, mau bawa aku ke kampung halaman kamu. Kalau kamu tidur kayak gini, gimana bisa bawa aku ke kampung?" Maya terus mengajak Joe berbicara. Seakan tak kenal lelah, ia terus berceloteh dan berharap bahwa Joe akan segera siuman.
__ADS_1
Karena lelah, Maya pun akhirnya tertidur di kursi dengan kepala yang bersandar di ranjang pasien Joe. Tangannya terus menggenggam jemari pemuda itu dengan begitu erat.
.
.
.
Satu minggu kemudian, di kediaman Arkan dan Laras. Pagi-pagi sekali Arkan pamit berangkat ke kantor.
"Sayang, mas ke kantor sebentar ya. Nanti jam setengah sembilan, mas balik dan temenin kamu," kata Arkan.
"Iya mas, lagi pula kan ada Mbok Nunung yang temenin Laras. Jadi mas gak usah khawatir sama Laras," ucap Laras sembari tersenyum manis kepada suaminya itu.
'Cup!' Laras mengecup pipi suaminya dengan lembut. "I LOVE YOU!"
"I LOVE YOU MORE MY WIFE!" balas Arkan.
"No! Jangan ngomong kayak gitu, kamu segalanya untuk mas. Jadi jangan pernah bilang kamu gak berguna, lagian kalau bukan karena mas, kamu gak akan sakit kayak gini," kata Arkan. "Jadi, yang harusnya minta maaf itu mas, bukan kamu."
"Udah ah, sana berangkat. Kata nya ada meeting pagi ini," kata Laras.
"Iya, ya udah mas berangkat dulu, ya. Kalau ada apa-apa cepat hubungin mas." Arkan pun segera bejalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mobil Arkan melaju, Laras terduduk di lantai ruang tamu itu sembari memegangi pinggangnya. "Ya allah, tolong Laras! Jangan buat perjuangan Laras sia-sia, izinkan Laras kasih anak buat Mas Arkan dan cucu buat papa dan mama," lirih Laras. "Bantu mami, sayang. Tolong mami." Laras berusaha bangkit dari duduknya dan pergi menuju dapur rumah itu dengan tangan yang merayap di tembok.
Keringat sudah membasahi wajah serta tubuhnya. "Mbok.." panggilnya dengan lirih pada Mbok Nunung yang sedang mencuci piring di dapur. "Mbok.."
Mbok Nunung segera menoleh ke arah sumber suara. "Ya allah, nduk!" pekik Mbok Nunung sembari menjatuh kan piring yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Tolong, mbok," ucap Laras dengan begitu lirih. Mbok Nunung segera membantu Laras berjalan dan duduk di kursi makan. "Ambil kan obat Laras, mbok." pinta Laras.
Buru-buru Mbok Nunung mengambil obat-obat Laras yang berjejer di lemari makan.
"Biar Laras, mbok. Laras bisa sendiri," kata Laras. Wanita hamil itu segera membuka dua tablet dan dua toples kecil obatnya, ia segera meneguk empat butir obat sekaligus. Setelah itu, ia membawa satu toples kecil obat yang tersisa menuju tempat pencucian piring.
"Nduk, mau ngapain?" tanya Mbok Nunung sembari membantu Laras berjalan. Laras hanya diam, ia berusaha untuk kuat.
"Aku gak boleh mati sebelum anakku lahir. Aku kuat, aku mampu!" Laras membuka tutup obat penggugur janin itu dan membuangnya ke dalam waterbass.
Mbok Nunung begitu terkejut melihatnya. "Nduk, apa yang kamu lakukan?"
"Gak ada satupun orang yang bisa bunuh bayi Laras," kata Laras dengan tangan yang gemetaran.
"Ya allah, nduk. Mereka melakukan semua ini karena mereka semua sayang sama kamu, mereka gak mau kehilangan kamu," kata Mbok Nunung. Wanita separuh baya itu menangis sedih melihat keadaan Laras.
"Laras!" pekik Arkan, pria itu kembali untuk mengambil berkas nya yang tertinggal. Tapi, alangkah terkejutnya dia saat melihat istrinya membuang obat penggugur kandungan itu ke dalam waterbass. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu buang? Jadi selama ini, kamu gak konsumsi obat ini!" Arkan merebut toples obat yang sudah kosong dari tangan Laras.
"Hahahaaa!" Laras tertawa sumbang, tawa yang membuat hati Mbok Nunung dan Arkan terasa di sayat-sayat, tawa yang terdengar begitu pilu. "Kalian gagal lagi kan, mas? Kalian bodoh."
"Kenapa kamu lakuin ini? Kenapa kamu bohongin kami semua?" Pekik Arkan sembari melempar toples kecil yang ada di tangannya.
"Terus kenapa kalian semua lakuin ini sama Laras? Kenapa kalian semua bohongin Laras, dan mau bunuh bayi Laras secara halus?" Laras membalikan semua pertanyaan itu kepada suaminya.
Mendengar pertanyaan istrinya, Arkan ikut menangis dan mendekap tubuh lemah istrinya yang berdiri di tempat pencucian piring itu. "Mas lakuin semua ini demi kebaikan kamu, bayi ini bisa merenggut nyawa kamu. Mas gak bisa," ucap Arkan dengan lirih.
Mbok Nunung segera pergi dari dekat Laras dan Arkan, Wanita separuh baya itu segera menghubungi Mama Rita dan memberi tahu kan semua yang terjadi.
"Laras ihklas, mas. Laras akan sangat bahagia kalau sebelum Laras meninggal, Laras bisa kasih mas anak. Anak sekaligus cucu yang selama ini kalian inginkan dan impikan," ucap Laras. "Tolong izinkan Laras mempertahankan janin ini, Laras pengen kasih mama dan papa cucu."
__ADS_1
Arkan menggeleng pelan, "Mas gak bisa, dari pada kehilangan kamu. Lebih baik kita gak punya anak, mas gak bisa tanpa kamu."