
Pukul 08:47 pagi, Laras baru keluar dari kamar. Wanita itu pergi menuju dapur dengan penampilannya yang masih acak-acakan.
"Mi, ayo mandi dulu," kata Arkan pada istrinya.
"Ihhh.. Papi berisik banget, mami tu pengen makan bukan pengen mandi," sungut Laras. Tampaknya, wanita itu masih kesal dengan suaminya yang tak pernah menepati janji.
"Ini udah siang loh, malu sama yang lainnya," kata Arkan lagi.
"Malu apa? Malu sama ini?" Laras menyingkap kerah piyama tidurnya dan terlihat jejak vampire yang di tinggalkan Arkan di tubuhnya. "Biarin aja, lagian semua orang juga tau kalau papi mesum!" kesal Laras.
"Huaaa.. Jangan buka kartu yank, mas kan jadi lebih percaya diri lagi buat mesum nya," ucap Arkan sembari mengedipkan sebelah mata nya di meja dapur itu.
"Pergi sana!" usir Laras dengan perasaan dongkol.
"Hehehee.." Arkan terkekeh. "Mas suapin ya, abis itu balik ke kamar biar pijitin dan mandiin pake air hangat." tawar Arkan dengan sungguh-sungguh.
"Gak mau, Laras bisa mandi sendiri," kata Laras. Wanita itu bangkit dari duduknya dan membuka lemari makan. Ia mengeluarkan seluruh isi lemari makanan itu dan mengisi piring nya dengan nasi serta lauk pauk yang banyak.
"Banyak banget, yank? Tumben?" Heran Arkan.
"Di jadiin kuda semalaman, butuh asupan yang banyak biar tenaga cepat pulih!" cetus Laras.
Ramon yang duduk di sudut dapur itu hanya bisa tersenyum kecil. Rupanya, Laras yang selalu berbicara lembut, bisa marah dan merajuk juga seperti itu.
"Ya udah, mas balik ke kamar aja deh. Tidur lagi sama Samudra," kata Arkan sembari meninggalkan istrinya yang benar-benar merajuk itu.
Arkan pun meninggalkan Laras di meja makan rumah itu. Laras yang kepedasan, akhirnya tersedak dan terbatuk-batuk. Membuat Ramon yang duduk di pojokan dapur itu terkejut dan segera mendekatinya lalu memberi wanita itu segelas air.
"Ngapa? Kenapa?" Ramon berbicara dengan keras.
"Uhuk.. Uhuk.. Gak kenapa-kenapa kak, cuman pedas terus keselek," kata Laras.
Papa Han, Mama Rita dan yang lainnya segera berlari mendekat setelah mendengar suara Ramon yang keras.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ada apa?"
"Gak apa-apa. Cuman keselek," jawab Laras dan Ramon bersamaan.
"Hahaha.. Panik gak?" Ramon tertawa.
"Ya panik lah, masa enggak!" sahut Laras. "Hahahaa!" Kekesalan wanita itu pada suaminya seketika hilang setelah melihat keterkejutan dan kepanikan semua orang.
Semua orang hanya menatap Laras dan Ramon dengan tatapan horor, termasuk Kenzo yang kaku seperti kayu jati.
"Tolong! Kalau berteriak di kondisi kan, jangan membuat orang terkejut dan panik!" Kenzo berbicara datar pada Laras dan Ramon.
"Aku gak teriak, Kak Romon aja yang terlalu syok," kata Laras.
"Itu reaksi dan aksi spontan! Karena khawatir!" Ramon mengacak-acak rambut Laras yang memang acak-acakan.
"Ada apa sih?" Arkan yang mendengar keributan di area dapur itu, segera keluar sembari menggendong putranya dan menghampiri semua orang.
"Nah! Mas Ar tu, pa. Yang udah bikin Laras tersedak dan Kak Ramon teriak-teriak!" tunjuk Laras pada suaminya.
"Kalian kenapa?" Arkan segera berbalik arah dan kembali masuk ke dalam kamar sembari meyengir kuda.
.
.
.
Dua hari kemudian, Acara syukuran Arkan dan Laras, serta Erland dan juga Hesti sudah di langsung kan. Mereka benar-benar mengumpulkan anak yatim di kediaman mereka itu.
"Makasih ya, om minta do'anya semoga dedek Samudra dan dedek Hanidya selalu di beri Tuhan kesehatan." Arkan mengusap kepala anak yatim yang menyalaminya bergantian.
Senyum yang ditampak kan para anak yatim itu, membuat perasaan Arkan dan Laras begitu bahagia. Begitu pula dengan Hesti dan Erland.
Tak lama kemudian, acara berbagi itu akhirnya selesai juga.
__ADS_1
"Alhamdulilah.. Semuanya berjalan dengan lancar," Papa Han mengucap syukur.
"Iya, pa. Laras lega, akhirnya niat Mas Arkan dan Laras udah kesampaian," kata Laras.
"Dan akhirnya, kisah kita berakhir sampai di sini," kata Arkan pula. "Semoga, setelah ini Tuhan selalu melimpahkan rezeki,rahmat serta berkah nya untuk kita semua."
"Amin!"
"Siapa tadi yang bilang kisah kita berakhir di sini?" Jhonson mendekat dan ikut berbicara.
"Tolong jangan katakan kisah ini di hentikan di sini, karena saya belum menemukan jodoh!" Tiba-tiba saja, Kenzo yang seperti kayu jati itu mendekat.
"Jodoh kalian para ZOMBLO gak di sini, tapi bakalan di ulas di kisah baru," kata Mama Rita sembari tersenyum kecil.
"Gak di sini pun gak apa-apa, yang penting kisah kami tetap di lanjutkan," balas Jhonson pada Mama nya itu.
"Ngebet banget pengen kawin nya!" sahut Ramon.
"Gimana gak ngebet, lama-lama nganggur bisa KARATAN batang-nya!" sungut Jhonson.
"Hahahahaaa!" semua orang tertawa terbahak setelah mendengar perkataan Jhonson yang begitu sewot.
TAMAT*
Laras: Kisahku adalah sebuah pelajaran, yang mengajarkan aku apa itu arti kesabaran dan juga perjuangan. Di sini aku memahami, bahwa kita hidup dalam ketetapan Allah. DIA-lah yang menetapkan, dan kita yang menjalankan.
Kini aku mengerti dan semakin yakin, bahwa Tuhan tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuan umatnya itu sendiri.
Arkan: Dulu, aku tidak pernah percaya akan namanya ke ajaiban Tuhan. Tapi kini, setelah melewati beberapa fase tersulit. Aku begitu percaya, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Tuhan maha adil, maha benar, maha mengetahui dan juga maha penguasa.
Author: Terimakasih untuk para readers yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya ini dari awal bab, hingga akhir. Jangan pernah bosan untuk mendukung Neng, ya!
Neng juga mau bilang, bahwa Neng punya yang baru. Yang berminat untuk mampir, klik profil Neng dan pilih karya dengan judul 'GAIRAH ISTRI SIMPANAN'
Yang nunggu kisah Jhon, Anita & Kenzo, Mungkin akan Neng Rilish di awal bulan, ya!
__ADS_1