Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
ISTRIKU WANITA YANG SEMPURNA!


__ADS_3

Erland berlari meninggalkan meja makan itu dengan wajah yang berubah pucat. Ia pergi menuju wastafel.


“Ya ampun, abang!” keluh Hesti. “Kumat lagi, Om Han sama yang,lainnya baru aja mau makan.” Dengan malas, Hesti bangkit dari duduknya. Ia menyusul suaminya yang sudah berjongkok di depan wastafel.


“Gak bisa di tahan apa? Liat tuh, bang! Mereka baru aja mau makan,” kata Hesti.


“Aku beneran gak tahan, Hes,” jawab Erland.


Mendengar Hesti yang marah-marah, Laras ikut bangkit dari duduknya. Ia hendak pergi menyusul Erland dan Hesti.


“Mau ngapain, yank?” tegur Arkan.


“Mau liat Kak Erland, kasian dia. Soalnya, Hesti orangnya gak sabaran,” kata Laras. “Kalian makan duluan aja, ya!” Laras melangkah menuju tempat Erland dan Hesti berada.


“Hes, Kak Erland kenapa?” tanya Laras saat ia sudah mendekat.


“Muntah melulu, sampe capek aku,” kata Hesti. “Nih, kamu bantuin aku, ya. Aku laper!” Hesti memberikan minyak angin pada Laras.


“Kamu udah bawak Kak Erland ke dokter?” tanya Laras.


“Udah, kata dokter dia kena sindrom hamil,” kata Hesti.


“Kamu hamil?” Laras tersenyum lebar sembari memeluk tubuh sepupunya itu. Ia ikut bahagia mendengar kabar kehamilan Hesti.


“Iya,” kata Hesti. “Sekarang, kamu tungguin Abang dulu, ya. Aku laper banget.”


“Ya udah, sana. Biar aku yang urus Kak Erland,” ucap Laras sembari melepaskan pelukannya pada Hesti.


Hesti segera menuju ke meja makan, sedangkan Laras membantu mengurus Erland yang terus muntah-muntah di Wastafel.


“Kak, yang sabar ya,” kata Laras. “Hesti orangnya emang gak sabaran.” Tangan halus Laras terua memijat tengkuk leher Erland dengan pelan.


Nyaman, itulah yang di rasakan Erland saat ini. Sudah hampir dua minggu ia tersiksa seperti itu, jarang makan bahkan istirahat.


“Makasih ya, dek. Kamu emang baik dan penuh perhatian sama semua orang,” kata Erland sembari membasuh mulutnya.


“Udah mendingan?” tanya Laras.


“Udah,” jawab Erland.


“Kakak udah makan?” tanya Laras lagi dan Erland menggeleng. “Laras ambilin makan, ya?” tawar Laras.


“Enggak, Kakak gak pengen makan nasi,” kata Erland. Ia bersikap sedikit manja pada Laras. Setiap melihat tubuh Laras yang mungil dan berwajah imut itu, ia selalu mengingat mendiang adiknya. Tak ada niat buruk sedikit pun di hatinya, ia tulus menyayangi Laras seperti adik sendiri. Begitu pula dengan Laras, ia sudah menganggap Erland seperti kakaknya sendiri.


“Ada yang kakak pengen?”

__ADS_1


“Boleh gak sih? Minta bikinin perkedel jagung sama sambel kecap?” pinta Erland dengan pelan sembari menatap wajah Laras.


“Boleh lah, kenapa gak boleh?” Laras membantu Erland duduk di kursi yang tidak jauh dari meja kompor. “Kakak tunggu, ya! Laras bikinin bentar.”


Arkan yang memperhatikan Istrinya dan Erland hanya tersenyum kecil. Ia juga tidak berpikiran jelek pada Laras dan Erland. Karena ia tahu betul, masa lalu yang pernah di alami oleh Erland. Bahkan, saat kehilangan adiknya, Erland sempat depresi.


“Nyari apa, Ras?” tanya Bu Rahayu pada Laras yang membuka kulkas dan juga lemari makanan.


“Tepung sama jagung, bu,” kata Laras dengan suara lemah lembut nya itu.


“Tepung ada di lemari bawah!” tunjuk Bu Rahayu.


“Iya,” kata Laras. Laras pun segera membuat bumbu tepung itu, tak lupa ia juga mengambil dua jantung jagung muda di dalam kulkas. Laras menyerut dan menghaluskan jagung itu.


Sekitar 20 menit kemudian, sepiring perkedel jagung itu sudah matang. Tak lupa, Laras juga membuatkan sambal kecap yang di inginkan oleh Erland.


“Wangi banget,” kata Erland.


“Kakak makan, biar perutnya terisi,” ucap Laras. Ia mengajak Erland kembali ke meja makan.


Di meja makan itu, ternyata Arkan belum makan. Ia masih setia menunggu Laras.


“Mas, kamu kok gak ikut makan?”


“Sengaja, nunggu kamu,” kata Arkan.


“Erland sakit, mbak?” tanya Mama Rita pada Bu Rahayu.


“Enggak, dia lagi ngidam,” kata Bu Rahayu sembari tersenyum bahagia. Arkan yang baru saja hendak menyendok makanan yang ada di piring nya, segera melirik Laras. Laras membalas lirikan suaminya itu dengan senyuman.


Erland makan perkedel jagung buatan Laras dengan sangat lahap. “Bang, kalau kamu suka masakan Laras. Nanti kita bawa dia pindah aja kesini, biar bisa bantuin aku,” kata Hesti sembari tersenyum. Erland hanya diam sembari memakan perkedel itu.


“Baru dua bulan nikah, udah hamil aja,” kata Mama Rita dengan tiba-tiba. “Apa kabar menantu ku, yang udah setahun lebih tapi belum juga ada tanda-tanda hamil.” Cetus Mama Rita sembari melirik Laras.


“Mungkin belum rezeky Laras dan Mas Arkan, ma,” kata Laras.


“Iya, betul. Rezeki kan udah di atur sama tuhan,” ucap Bu Rahayu. “Mungkin sekarang belum, siapa tahu bulan depan.”


“Mungkin Laras itu mandul, mbak,” kata Mama Rita. “Lagian , aku udah beberapa kali mergokin dia ke dokter!”


“Mama!” tegur Papa Han.


“Apa sih, papa! Mama itu bicara fakta!” Mama Rita membalas teguran suaminya.


Arkan meletakan sendok dan garpu yang ada di tangannya, tampak pria itu sudah mulai emosi. Laras terus memperhatikan gerak gerik suaminya. Di pegang nya tangan Arkan, Arkan memandang wajah istrinya yang terus tersenyum. Laras menggeleng pelan membuat Arkan mengurungkan niatnya.

__ADS_1


“Kalau saya jadi Arkan, udah saya tinggalin cari perempuan lain! Buat apa punya istri yang gak bisa kasih anak.”


Brak!


Semua orang dibuat terkejut, termasuk Laras. Arkan yang kesal, menggebrak meja.


“Mas!” panggil Laras pada suaminya itu.


“Jangan pernah hina istriku!” tunjuk Arkan. Papa Han begitu terkejut melihat raut wajah putranya. Seumur hidup, ini adalah kali pertamanya ia melihat Arkan seperti itu.


“Arkan, mama bicara kenyataan!” Mama Rita masih berani bicara. Sedangkan yang lainnya sudah bungkam. Tak ada yang berani berbicara termasuk Papa Han sendiri.


“Tutup mulut mu! Istriku tidak mandul, istriku adalah wanita yang sempurna!” tegas Arkan. “Harusnya, sebagai seorang ibu, anda lebih memamahi kondisi putra anda sendiri!” tunjuk Arkan.


“Mas, udah!” pekik Laras. Airmata wanita itu menetes begitu saja. “Jangan di terusin, ayo kita pulang aja!” Laras mendekap suaminya yang begitu marah pada Mama Rita.


“Kamu diam!” bentak Arkan pada istrinya. “Biar! Biar mereka tau semuanya, biar mereka gak rendahin kamu terus.”


“Aku gak apa-apa, aku gak apa-apa, mas. Ayo kita pulang aja,” Laras semakin menangis. Membuat emosi Arkan seketika meredam. Ia tidak tega melihat keadaan istrinya itu.


“Ya udah, kita pulang sekarang!” Arkan menarik istrinya keluar dari rumah itu.


Papa Han dan yang lainnya segera mengejar Arkan. Kecuali Mama Rita, wanita setengah paruh baya itu terdiam. Perasaannya menjadi tidak karuan. “Ada apa dengan Arkan? Apa yang sudah terjadi pada putraku, sebenarnya?” batin Mama Rita.


Di luar rumah itu, semua mengejar langkah Arkan dan Laras yang cepat.


“Arkan, tunggu papa, nak!” panggil Papa Han.


“Ar, tunggu!” teriak Erland.


“Laras!” panggil Papa Han. Pria setengah paruh baya itu menyambar pergelangan tangan Laras.


“Papa,” ucap Laras sembari menghentikan langkahnya. “Maafin Laras yang gak bisa jadi menantu yang baik buat papa dan mama.”


“Kamu baik, sungguh baik dan sangat-sangat baik. Mama mu lah yang keliru!” Papa Han memeluk anak menantunya itu. “Tolong, maafkan semua ucapan kasar mama-mu selama ini.”


“Gak ada yang perlu di maafkan, pa. Laras gak pernah marah atau pun memendam rasa benci sama mama. Laras sayang sama mama, kayak Laras sayang sama papa,”


.


.


.


Sabar yak! Gak lama lagi kok.

__ADS_1


Sembari nunggu update, tengok karya yang satunya aja😁



__ADS_2