Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
OPERASI SELESAI!


__ADS_3

Siang harinya, Operasi pencangkokan ginjal pada Laras sudah di laksanakan. Akan tetapi, baik Laras dan juga Ramon, sama-sama belum sadarkan diri.


"Gimana, Kak? Gimana keadaan Laras dan Ramon?" tanya Arkan dengan tidak sabaran pada Jhonson yang baru saja keluar dari ruangan operasi sambil membuka sarung tangan yang melekat pada tangannya.


"Untuk Ramon, mungkin gak lama lagi. Dia bakalan sadar, tapi buat istri kamu, aku masih gak tau kapan di bakalan bangun. Mungkin nanti, besok, lusa, atau bisa jadi lebih lama lagi," jelas Jhonson pada adik angkat nya itu. "Yang pasti, kami sudah melakukan yang terbaik." Jhonson menepuk pelan pundak Arkan.


"Berdo'a sama Tuhan, semoga istrimu segera di beri kesadaran!" ujar Jhonson lagi sembari pergi menjauh.


Di ujung ruangan itu, terlihat Diana sedang marah-marah pada Kenzo. Lantaran, Kenzo melarangnya untuk mendekat pada keluarga Arkan dan menemui Ramon.


Karena sebelum Ramon di bawa untuk pengambilan ginjalnya, Ramon berpesan pada Kenzo. Untuk tidak membiarkan Diana mendekat sebelum keadaan Ramon membaik.


"Ken, tolong cegah Diana masuk dan menemui keluarga Arkan. Aku takut keadaan semakin kacau, awalnya aku pikir Laras hanya butuh donor darah saja. Tapi tenyata, dirinya juga membutuhkan donor ginjal," kata Ramon pada Kenzo. "Nanti, jika keadaanku sudah jauh lebih baik, aku pasti akan menjelaskan semuanya pada Diana dan membawanya untuk menemui Laras."


"Ken, dimana suamiku? Jangan bilang dia memiliki wanita lain?" Diana menatap Kenzo dengan sorot mata nya yang tajam. "Beri tahu aku, dimana dia, Ken!" pinta Diana.


"Maaf, Nona. Tapi Tuan Ramon sudah pergi dari sini," kata Kenzo berbohong. "Semula dia memang berada disini. Akan tetapi, dia segera pergi dari sini setelah menerima telpon dari seseorang."


"Lalu, kenapa kamu ada di sini?" Diana memegangi jas bagian depan yang di kenakan oleh Kenzo.


"Saya sengaja menunggu di sini, karena Nona dan Tuan muda Radit. Agar Nona dan tuan muda tidak ke bingungan!" jelas Kenzo. Pria kaku itu begitu piawai memainkan perannya yang di berikan oleh Ramon.


"Jangan bohongi aku, Ken. Aku tahu dia punya perempuan lain!" tuduh Diana. "Ternyata dia masih sama, dia masih seorang casanova."

__ADS_1


"Terserah Nona mau berbicara seperti apa! Yang pasti, Tuan Ramon sudah berubah dan tidak seperti yang nona tuduhkan!" tegas Kenzo. "Nona pikirkan saja sendiri! Jika dia memang masih seperti dulu, untuk apa Tuan Ramon membawa anda dan Tuan Muda Radit pulang ke rumah nya!" Terang Kenzo.


Masuk akal, itulah yang di pikirkan Diana. Jika memang suaminya itu berselingkuh, untuk apa suaminya itu membawa serta dirinya dan juga putranya pulang dan tinggal bersama. Bahkan, hampir setahun terakhir ini Ramon selalu membawa dirinya dan Radit pergi bersama. Baik dinner bersama client ataupun jalan-jalan dan liburan biasa.


"Iya juga, kalau dia selingkuh buat buat apa dia bawa aku dan Radit tinggal sama dia. Bukannya kalau gak ada kami, dia bisa bebas bercinta sama siapapun," guman Diana dengan pelan. Tapi, masih dapat di dengar oleh Kenzo. "Ken, siapa Laras yang di sebutkan Kak Ramon pagi tadi?" tanya Diana pada Kenzo. Suaranya yang tadi bernada tinggi, kini sudah jauh lebih pelan dan terkontrol.


"Saya tidak tahu, Nona. Tuan Ramon tidak pernah memberi tahu saya ataupun bercerita, saya juga belum pernah melihat sosok wanita yang bernama Laras itu!" jelas Kenzo dengan jujur. Memang, Kenzo benar-benar tidak mengenal Laras. Bahkan di saat Ramon masuk ke dalam ruangan rawat Laras, Kenzo pun tidak di izinkan ikut masuk ke dalam ruangan itu.


"Masa sih? Tapi kan kamu asisten nya," kata Diana dengan tatapan menyelidik.


"Sungguh! Saya hanya seorang asisten, untuk masalah pribadi Tuan Ramon, biarlah menjadi privasi nya," kata Kenzo. "Bahkan, saya saja baru mengetahui bahwa Tuan Ramon sudah memiliki anak dari anda. Padahal, saya sudah sering melihat Nona di cafe itu. Makanya, saya cukup syok dan terkejut saat Tuan Ramon mengenal anda!" jelas Kenzo.


"Jadi, Kak Ramon memang tertutup dengan masalah pribadi dan juga wanita-wanita nya?" Diana semakin menatap Kenzo dengan intens.


Nyeri! Itulah yang di rasakan Diana setiap kali ia menyebut kata kekasih dan wanita-wanita suaminya. Yang artinya tidak hanya 1-2 orang saja, entah berapa nanyak Wanita yang sudah menghangatkan ranjang suaminya itu. Tapi, Diana mencoba melupakan dan menganggap semua nya adalah bagian takdir hidupnya. Yang terpenting baginya saat ini adalah, Radit sudah memiliki status yang jelas. Dirinya sendiri pun bisa memiliki Ramon meskipun tidak utuh. Ia masih belum tahu, apakah Romon benar-benar mencintai dirinya atau hanya kasihan saja pada putranya.


"Aku mau pulang, Ken," kata Diana.


"Biar saya yang antar!"


"Kami bisa pulang naik taxi," kata Diana. Wanita itu menolak di antar oleh Kenzo.


"Maaf, Tuan Ramon berpesan kepada saya. Bahwa saya harus menjaga Nona dan juga Tuan muda."

__ADS_1


Kenzo berjalan lebih dulu menyusuri koridor rumah sakit itu, Diana yang menuntun Radit pun segera mengikuti langkah Kenzo yang berjalan cepat dengan langkah lebar nya.


"Ken, tunggu!"


Melihat istri tuan nya yang kesulitan mengejar langkahnya, Kenzo pun memperlambat jalan nya.


"Bu, ayah kemana sih? Kok kita ikut Paman Ken?" tanya Radit.


"Ayah kerja, nanti kalau udah pulang kerja. Ayah pasti main sama Radit lagi, ayah bakal temenin Radit belajar menghitung lagi," kata Diana.


.


.


.


Saat ini, Arkan berada di dalam ruangan bayi. Ia dapat masuk dan melihat bayinya yang berjenis kel*mn laki-laki itu setelah mendapat kan izin dari dokter dan juga perawat.


"Sayang.. Anak papi," lirih Arkan. Ia menempelkan telapak tangannya pada kaca incubator. Di tatap nya bayi mungil itu dengan perasaan haru, bayi yang terlahir prematur dari rahim istrinya. Bayi yang selama ini ingin ia dan keluarga singkirkan, akhirnya berhasil bertahan dan di lahirkan.


"Yang kuat, Papi janji papi akan buat kamu menjadi pria yang hebat," ucap Arkan sembari menyeka airmata nya. "Papi sayang sama kamu, maafkan papi yang selalu menyakiti kamu selama berada di dalam kandungan mami. Sungguh, papi gak bermaksud kayak gitu." Begitu betah Arkan berada di ruangan bayi itu. Pria itu terus berbicara pada bayi yang terlahir prematur dengan ukuran yang begitu kecil dari bayi pada umumnya.


"Semoga, setelah ini mami mu bisa segera sadar dan sehat. Mami pasti akan sangat bahagia setelah melihat kamu baby, anak yang selama ini dia tunggu-tunggu kelahirannya," kata Arkan dengan begitu pelan.

__ADS_1


__ADS_2