
Beberapa hari kemudian, Laras kembali ikut ke kantor bersama Arkan.
“Mas, lama gak meeting nya?” tanya Laras sembari duduk di pangkuan suaminya.
“Enggak, paling setengah jam,” kata Arkan. Ia mencium pipi istrinya dari samping. “Mau ikut ke ruang metting?” tawar Arkan.
“Enggak ah! Di sini aja, nanti kalau Laras jenuh. Laras tidur,” kata Laras.
Akhirnya, Laras pun turun dari pangkuan Arkan. Ia beralih pada sofa yang ada di ruangan itu.
“Mas tinggal dulu, ya! Kamu mau ngapain aja terserah, di sini bebas dan gak ada yang bisa ganggu kamu,” kata Arkan. Pria itu segera keluar dengan menenteng laptopnya.
Sepeninggalan Arkan, Laras terus bermain ponsel. Hingga lama-lama, ia menjadi mengantuk dan tertidur di sofa panjang itu.
Di lantai bawah perusahaan itu, Ramon datang kembali seperti perkataan beberapa hari yang lalu.
“Eh, bapak datang lagi,” kata resepsionis yang menyapa Ramon dua hari yang lalu.
“Saya udah janji sama Arkan, mau ketemu hari ini,” kata Ramon. Ia mengetahui bahwa Arkan ke kantor hari ini, bahkan bersama dengan Laras. Karena sedari awal, ia memang sudah menunggu.
“Kalau udah janji, bapak naik aja ke lantai paling atas. Dimana ruangan Tuan Arkan berada!”
Dengan gaya cold nya, Ramon memasuki lift dan menekan nomer lantai yang paling atas.
Sesampainya di lantas atas, tanpa bertanya dan tanpa izin, ia masuk kedalam ruangan Arkan.
“Kebetulan, Arkan gak ada.” Batin Ramon sembari melirik Laras yang tertidur di atas sofa panjang itu.
Ramon mendekati Laras dan duduk di tepian sofa itu. Ia menyentuh lembut pipi dan bibir Laras dengan lembut.
Laras menggeliat kecil, tampak wanita itu merubah posisinya.
Di ruang metteng, Arkan memerintah Erland untuk mengambil berkas yang tertinggal di atas meja kerjanya.
“Er, tolong ambil map biru yang ada di atas meja kerjaku!”
“Sip!”
Erland pun segera keluar dari ruang metting itu, dan menuju ke ruangan kerja Arkan.
“Arkan selalu beruntung di dalam setiap hal, dia beruntung memiliki dua orangtua yang begitu mencintai dan menyayangi dia. Sekarang malah dapat istri secantik Laras!” Ramon terus menyentuh bahkan mengusap wajah Laras.
Merasa ada pergerakan, Laras pun terjaga. Perlahan matanya terbuka. “Udah selesai metting nya, mas?” tanya Laras sembari memegang pergelangan tangan yang berada di wajahnya.
“Mas, sejak kapan kamu pakek gelang?” mata Laras semakin terbuka lebar. Ia heran, sejak kapan suaminya itu memakai gelang. Bukankah, suaminya hanya memakai satu jam tangan saja?.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Laras setelah melihat wajah Ramon yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Aakkhhh! Ngapain kamu di sini?” pekik Laras. Ia segera bangkit dari sofa itu. Dan menjauh dari hadapan Ramon.
“Kenapa sih? Kamu kok takut banget sama aku!” Ramon mendekati Laras dan meraih tangan wanita itu.
“Kak Ramon, jangan pegang-pegang!” Laras mencoba melepaskan tangan Ramon yang memegang pergelangan tangannya dengan erat.
“Ayolah, Ras. Kamu kenapa nolak aku? Aku lebih baik dari Arkan, loh!” Ramon begitu percaya diri. “Secara materi, mungkin Arkan lebih kaya. Tapi, untuk penampilan dan servise ranjang, aku cukup oke!”
“Kak Ramon gila! Kalau Kak Ramon butuh perempuan, Kak Ramon cari aja perempuan lain!” Laras terus mencoba menarik tangannya. Tapi, Ramon malah menarik tubuh Laras kedalam pelukannya.
“Lepasin! Mas Arkan!” teriak Laras.
“Teriak aja, ruangan ini kedap suara. Mereka lagi metting, jadi gak akan denger teriakan kamu,” kata Ramon sembari tersenyum smirk. “Kalo kamu mau nerima aku, aku mau kok backstreet sama kamu. Kita hubungan tanpa sepengetahuan Arkan!”
Tampaknya, Ramon adalah pria tampan yang gila. Etikanya begitu tidak terjaga. Dengan terang-terangan, ia menawarkan perselingkuhan kepada istri dari temannya sendiri.
“Kak Ramon gila!” pekik Laras.
“Aku memang gila, sejak pertama liat kamu di acara pernikahan itu. Aku memang udah gila!” Ramon berusaha untuk mencium wajah Laras.
Tiba-tiba saja. Seseorang menarik tubuh Ramon dan memukul wajahnya.
Buk! Bogem mentah mendarat di wajah Ramon.
Melihat Erland yang datang, Laras segera berlari dan memeluk tubuh pria itu. “Kakak!” sebut Laras.
“Hahaha!” Ramon tertawa mengejek. “Lu siapa? Dari dulu sampe sekarang gak pernah berubah. Lu selalu ngatur kehidupan Arkan, sadar bro! Lu itu cuman kacung, selamanya tetap kacung!” tunjuk Ramon.
“Jangan-jangan, Lu gak izinin gue deket sama bini nya Arkan. Karena lu punya hubungan sama dia!” tunjuk Ramon.
“Tutup mulutmu! Aku bukan dirimu dan Laras bukanlah Diana yang mudah kau perdaya!” tunjuk Erland dengan geram pada Ramon. “Dari pada menganggu istri orang, lebih baik kau cari Diana. Apakah dia dan darah dagingmu masih hidup, atau malah sebaliknya!”
“Ada apa ini?” Arkan kembali ke ruangannya setelah mendapatkan laporan dari seorang staf yang kebetulan lewat dan mendengar keributan di dalam ruangan Arkan.
“Panggil security! Atau aku sendiri yang akan menyeret bajingan ini keluar dari tempat ini!” tunjuk Erland. Ia meninggikan suaranya, membuat Arkan begitu terkejut.
“Gak perlu repot, aku bisa keluar sendiri!” Ramon keluar dari ruangan itu seperti orang yang tidak berdosa.
Kenapa Erland begitu tidak menyukai Ramon? Begini masalalu nya!
Flashback on
Saat masih kuliah, Erland sudah di tempatkan Papa Han di sisi Arkan untuk mengelola perusahaan anak cabang SUDRADJAT GRUP.
__ADS_1
Saat itu, Arkan dan Erland sedang bertugas di kota sebelah. Karena temu client penting itu di adakan di aula hotel.
“Ar, duluan aja, ya! Aku mau balik ke hotel sebentar,” kata Erland pada Arkan saat itu.
“Oke, jangan lama-lama. Gak enak kita biarin client nunggu lama!”
Maka, Erland pun kembali ke kamar hotelnya dan Arkan. Belum lagi sampai, ia malah melihat dua orang yang ia kenal berpelukan mesra menuju salah satu kamar hotel. Sesekali, kedua orang itu bercumbu mesra sembari terus melangkah menuju kamar hotel yang mereka pesan.
Deg! Dada Erland bergemuruh, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Dengan langkah berat, Erland menuju di mana kamar hotel yang di masuki kedua orang itu. Ia memutar handle pintu kamar itu dan ternyata tidak terkunci. Ia masuk ke dalam kamar, dan di dalam kamar itu, ia melihat kekasihnya dan temannya sudah sama-sama polos.
“Diana!” sebut Erland.
Perempuan yang bernama Diana itu terperanjat kaget. Ia segera menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal.
“Ramon!” sebut Erland pula.
“Aku gak nyangka, kalian berdua bisa serendah ini,” kata Erland sembari tersenyum kecut.
“Aku berjuang demi kamu, Diana! Tapi kenapa? Kamu malah berhubungan sama temanku sendiri!” Erland berjalan mendekati kedua orang itu.
Dengan paksa, Erland melepaskan cincin yang terpasang di jari manisnya. Ia melemparkan cincin itu ke wajah Diana.
“Sampai disini! Kita udahan!” Erland membalikan tubuhnya dan hendak keluar dari dalam kamar itu. Tetapi, Diana menahan langkahnya.
“Aku kayak gini, semua salah kamu! Kamu ajak aku tunangan, tapi kamu gak pernah perhatiin aku! Kamu gantung aku, kamu selalu sibuk sama diri kamu sendiri!” teriak Diana. Tampak, gadis menangis dengan keras.
“Aku sibuk selama ini demi kamu! Kamu minta mobil dan rumah kan? Aku udah usaha, aku udah pinta Arkan buat urus surat-surat pembelian apartemen untuk kamu,” kata Erland. “Tapi sekarang, semua itu sia-sia! Aku bersyukur, akhirnya aku tau penghianatan ini sebelum hubungan kita semakin jauh!” setelah berbicara seperti itu, Erland pergi meninggalkan dua orang itu di dalam kamar hotel.
“Kamu jahat!” teriak Diana.
“Udah, jangan di pikirin. Ada aku disini, aku bakal perhatiin kamu terus,” bujuk Ramon pada Diana. Ia mencium kening Diana dengan lembut. Setelah itu, ia memeluk tubuh Diana.
“Akhirnya, hubungan mereka berakhir.” Batin Ramon. Ia tersenyum puas dengan semua yang terjadi.
“RUSAK LU! ANAK KORBAN BROKEN HOME!”
Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Erland dan membuat Ramon mendendam kebencian pada Erland.
.
.
.
Sembari nunggu update, yuk mampir ke karya Mak online Neng yang ada dibawah ini!
__ADS_1