
Erland menarik tangan Laras keluar dari dalam kamar itu. Laras hanya diam dan menurut. Tapi, saat hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba saja Laras menghentikan langkahnya. Ia melepaskan tangan Erland yang menggenggam tangan kirinya.
Erland menghentikan langkahnya dan menatap Laras dengan intens.
"Laras gak bisa ikut kakak, Mas Arkan butuh Laras. Laras yakin, setelah ini dia akan semakin rapuh," kata Laras.
Erland menghela napas berat, sebegitu besarkah cinta Laras untuk suaminya.
"Maafin Laras, kak. Laras tetep mau disini, Laras bener-bener gak bisa ikut kakak." Laras mendongakkan wajahnya pada wajah Erland yang terus menatapnya.
Setelah itu, Laras segera berbalik arah dan berjalan pelan menuju kamar. Dimana Arkan dan Ramon tergeletak. Tampak, kedua pria itu sedang adu mulut.
"Kau memang bejat, Ramon!" cetus Arkan.
"Kau bodoh!" balas Ramon.
"Kau gila!" maki Arkan.
"Kau tidak berguna!" balas Ramon lagi.
Kedua pria itu berhenti setelah melihat Laras kembali.
"Mas," ucap Laras dengan lirih.
"Laras," balas Arkan. Pria itu menatap wajah istrinya yang terlihat kacau dan pacat. "Maafin aku yang benar-benar bodoh!"
Laras membantu suaminya bangkit dan menuntunnya ke atas ranjang. Laras meminta suaminya itu duduk. "Duduk, mas. Laras ambil obat sebentar," kata Laras sembari berjalan ke arah lemari. Ia mengambil kotak obat, guna untuk mengobati wajah suaminya itu.
Semua yang di lakukan Laras pada Arkan, tidak lepas dari pandangan mata Ramon yang masih betah meringkuk di lantai kamar itu.
"Sakit?" tanya Laras sembari membuka tutup obat merah. Ia mengoleskan obat merah itu pada sudut bibir Arkan yang terluka.
__ADS_1
"Sedikit," kata Arkan. "Maafin aku." lirih Arkan.
"Semua udah terjadi, mas. Laras juga gak apa-apa," kata Laras. Jika ia teringat Ramon menyentuhnya dan menciumnya dengan paksa sebelumnya, ia sangatlah jijik. Tapi, ia begitu beruntung Ramon belum sempat menyentuh area lain selain leher dan wajahnya.
Melihat Ramon yang masih berada di lantai kamar itu dengan pelipis yang terluka dan terus mengeluarkan darah. Laras merasa kasihan, ia bangkit dari tepian ranjang itu dengan membawa obat merah, kasa dan juga plester di tangannya.
"Sayang, kamu mau ngapain?" tanya Arkan, tapi Laras tidak menjawab. Laras duduk berjongkok di hadapan Ramon yang meringkuk.
Laras mengoleskan obat merah itu pada pelipis Ramon. Ia menutup luka yang ada di pelipis Ramon menggunakan kasa dan menempel plester.
"Dia baik, aku sungguh bodoh." batin Ramon.
Baik Ramon atapun Arkan, tidak ada yang berani bicara. Kedua pria itu terdiam, Arkan merasa begitu menyesal telah meninggalkan dan mengacuhkan istrinya beberapa hari terakhir. Begitu pula dengan Ramon, ia begitu menyesal telah menganggu bahkan melecehkan wanita yang menjadi obsesinya itu.
Wanita yang begitu tulus memperlakukan semua orang, tidak perduli bahwa dirinya telah di lukai dan di sakiti.
"Laras!" panggil Ramon setelah Laras bangkit dari hadapannya. Laras hanya menoleh pada Ramon. "Kamu polos atau bodoh sih? Kenapa kamu masih mau baik sama bajingan kayak aku?" Ramon beringsut dan lantai itu dan duduk bersandar pada tembok kamar.
Setelah Laras masuk dan menutup pintu kamar mandi. Ramon tertawa sumbang. "Hahahaa! Istrimu wanita yang aneh, mau bertahan sama laki-laki kayak kamu!" ledek Ramon sebelum ia bangkit dan pergi dari kamar itu.
Ramon segera pergi menuruni anak tangga. Saat ia hendak pergi keluar dari rumah itu, tiba-tiba suara Erland yang berasal dari arah sofa ruang tengah mengejutkannya.
"Pergilah sejauh mungkin, Ramon! Jangan sampai aku benar-benar melupakan bahwa dirimu adalah manusia. Jika sampai aku melupakan bahwa dirimu manusia, sudah ku pastikan, aku akan menghabisi dirimu!" tegas Erland. "Pergilah! Sebelum polisi datang!"
Maka, dengan secepat kilat. Ramon pergi meninggalkan rumah itu. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Apartemennya. Belum lagi ia sampai di apartemen nya, kecelakaan beruntun terjadi di jalan raya.
***
Keesokan harinya, Mama Rita dan Papa Han di kejutkan dengan kabar percobaan pelecehan Laras yang di sampaikan Erland.
"Bagaimana mungkin, Er?!" tanya Papa Han. Kepalanya terasa berdenyut-denyut setelah menerima kabar mengejutkan beberapa hari belakangan ini.
__ADS_1
"Er gak tau pa, dari mana Ramon tau semua itu. Tiba-tiba aja, tadi malam dia datang ke rumah Arkan dan menganggu Laras," jelas Erland.
"Terus sekarang gimana?" tanya Papa Han lagi.
"Alhamdulillah, Er datang tepat waktu. Jadi, Laras belum sempat di apa-apain sama Ramon," kata Laras.
"Sebenarnya ada apa sama Arkan sih, pa?" tanya Mama Rita yang sedari awal menyimak obrolan itu. Papa Han memang belum memberi tahu kabar mengejutkan tentang putranya itu kepada Mama Rita.
Bukannya menjawab, Papa Han malah masuk kedalam ruangan kerjanya dan mengambil sesuatu. Setelah itu, ia kembali dengan selembar kertas di tangannya. Pria separuh baya itu memberikan kertas yang ada di tangannya pada Mama Rita.
"Astagfirullah!" kejut Mama Rita sembari memegangi dadanya. "Ini gak mungkin, pa. Putra mama gak mungkin menderita penyakit ini." Mama Rita menangis. Sebagai seorang ibu, ia benar-benar adalah seorang ibu yang buruk untuk anaknya. Ia merasa gagal menjadi pelindung untuk Arkan.
"Pa, tolong antarkan mama ke rumah Arkan dan Laras!" pinta Mama Rita pada suaminya itu.
Papa Han mengangguk, mereka pun segera pergi menuju rumah Arkan. Sepanjang perjalanan, Mama Rita tak henti-hentinya menangis. Ia begitu menyesali perlakuan buruknya pada Laras yang begitu tulus mencintai, mengurus dan menutupi kekurangan putranya.
"Hiks! Mama harus minta maaf sama Laras, selama ini Mama benar-benar jahat sama dia!"
Setelah memakan waktu 27 menit perjalanan, akhirnya mobil Papa Han dan juga mobil Erland berhenti di depan rumah Arkan.
Erland segera membuka pintu rumah itu, dan mengajak Papa Han dan Mama Rita masuk. Sedangkan di dalam rumah itu, Laras sedang menyuapi suaminya makan.
"Ayo, mas. Dikit lagi," kata Laras sembari menyodorkan sendok pada suaminya.
"Udah yank, perih," ucap Arkan. Sudut bibirnya yang terluka menjadi bengkak dan membiru. Lebam itu adalah upah kebodohannya yang di berikan Erland.
"Arkan, Laras!" panggil Mama Rita pada anak dan menantunya yang sedang duduk di kursi meja dapur.
"Mama, Papa!" Arkan dan Laras bangkit bersamaan dari kursi mereka. Mereka berdua begitu terkejut dengan kehadiran Papa Han dan Mama Rita.
Mama Rita berjalan tergesa menghampiri Laras dan Arkan. Wanita separuh baya itu memeluk tubuh kedua anak itu. "Hiks, maafkan mama. Mama adalah ibu terburuk di dunia!" Mama Rita menangis sembari memeluk Arkan dan Laras.
__ADS_1