Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
GAK MAU PUNYA ADEK (RADIT)


__ADS_3

Erland terus menyuapi Laras, pria itu terus memaksa meskipun Laras sudah tidak mau lagi.


"Udah kak, Laras gak mau lagi!" tolak Laras sembari menutup mulutnya.


"Satu lagi, abis ini minum obatnya," bujuk Erland. "Biar kenyang, dan bayi yang ada di perut kamu juga ikut kenyang."


Akhirnya Laras menyuap kembali sendok yang di sodorkan Erland padanya.


"Pinter adek nya kakak!" Erland tersenyum. "Sekarang minum obatnya." Erland pun membuka tablet obat Laras.


"Laras bisa sendiri, kak," kata Laras. Buru-buru Laras membuka toples kecil yang berisikan obat penggugur kandungan itu dan dua toples obat lainnya. "Kak, Laras gak bisa minum obatnya sekaligus. Satu-satu ya."


"Iya, yang penting di minum biar cepet sembuh," ucap Erland.


Laras pun mulai menelan obat yang ada di tangannya satu persatu.


"Maafin kakak, tolong maafin kakak. Kalau kamu tau, pasti kamu kecewa banget." batin Erland.


"Duh, gimana caranya aku buang yang terakhir?" batin Laras. "Kak, tolong dong panggilan Mas Arkan, Laras pengen buang air."


Tanpa curiga, Erland segera berbalik dan memamggil Arkan. Melihat Erland yang berbalik, buru-buru Laras memasukan butir obat penggugur janin itu ke dalam saku celananya. "Alhamdulillah, satu obat udah lolos. Semoga besok-besok kita bisa lolosin obatnya dengan mudah, yang kuat ya sayang. Kita berjuang sama-sama." Laras mengusap perutnya dengan lembut.


"Ar, Laras pengen buang air," kata Erland pada Arkan yang bersandar di tembok luar ruangan rawat itu.


.

__ADS_1


.


.


Kini, Arkan sudah membawa Laras pulang. Tentunya, dengan saran dokter. Dokter Danang pun sudah mengatakan, jika ia akan memantau kesehatan Laras.


"Akhirnya, Laras bisa pulang," kata Laras dengan girang. Wanita itu tampak baik-baik saja, bahkan ia turun lebih dulu dari mobil suaminya.


"Sayang, diem disitu! Biar mas gendong," kata Arkan sembari keluar dari mobil dan bergegas mengejar istrinya dengan cepat menuju teras rumah mereka. "Sayang, tolong dengerin mas. Diem disitu, kamu tuh masih sakit loh!" tegur Arkan.


"Laras gak sakit, Laras sehat kok," kata Laras. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan suaminya, ia tidak ingin membuat semua orang cemas memikirkan kondisinya.


"Jangan ngeyel yank!" Arkan terus mengikuti langkah istrinya itu.


Kini, Arkan dan Laras sudah berada di dalam rumah. Arkan yang melihat istrinya itu hendak menaiki anak tangga, segera mencegahnya.


"Kenapa mas? Laras pengen ke kamar, Laras mau ganti baju," kata Laras.


"Gak bisa, kamar kita pindah ke bawah. Mas gak akan biarkan kamu ke capekan!" Arkan menggendong paksa tubuh istrinya dan membawa istrinya itu memasuki salah satu kamar yang ada di lantai bawah rumah itu.


"Mas, Laras bisa jalan sendiri," protes Laras pada suaminya itu.


"Mas tau, tapi mas gak bakal biarin kamu jalan," ucap Arkan.


"Mama sama papa gak ikut kesini?" tanya Laras tiba-tiba.

__ADS_1


"Nanti mereka nyusul," jawab Arkan.


***


Di kediaman Ramon dan Diana, kedua orang itu sedang bertengkar.


"Dengerin aku, aku bukannya gak mau punya anak lagi. Semua aku lakuin buat anak kita, buat Radit. Kita baru aja kumpul, aku pengen kasih kebahagian buat putra kita!" jelas Ramon. Baru beberapa bulan mereka berkumpul bersama, tapi Diana sudah sibuk ingin menambah anak dan memberi Radit adik. Sedangkan anak itu sendiri selalu menangis jika di ajak bercanda dan menyinggung masalah adik.


"Enggak, Radit gak mau punya adik. Pokoknya, ayah cuman ayah nya Radit sendiri!" itulah yang selalu di katakan oleh putra Ramon dan Diana.


"Sekarang Radit ngomong gak mau kak, nanti juga kalau udah punya adik. Dia bakalan ngerti," kata Diana.


"Diana! Kakak mohon, ngerti dikit. Kasian Radit kalau kamu kayak gini!" Tampaknya, Ramon yang dasarnya memang Arogant sudah mulai kesal dengan istrinya yang keras kepala.


"Udah lah, Dian capek! Dian ngerti kalau Kak Ram masih sama kayak dulu, Kak Ram emang gak pernah bener-bener mencintai Dian," kata Dian. Tampak, wanita itu menangis kesal pada Ramon yang begitu payah menurutnya.


Ia menambah momongan hanya semata-mata takut di tinggalkan Ramon. Diana begitu takut suaminya itu akan berubah seperti dulu lagi dan pergi meninggalkannya.


Diana segera meninggalkan Ramon di ruang tengah rumah itu. Ia segera pergi menuju kamar. Melihat perubahan sikap Diana yang menjadi pemaksa, Ramon hanya bisa menghela napas berat.


"Ayah, Radit gak mau punya adek," kata Radit. Anak itu mendekati ayahnya setelah melihat ibunya pergi.


"Radit kenapa sih? Kok gak mau punya adek? Hmmm!" Ramon mengakat putranya itu agar ikut duduk di sampingnya.


"Radit gak mau, nanti ayah gak sayang lagi sama Radit," jawab Radit. "Kata temen Radit di sekolah, kalau punya adek baru Ayah sama Ibu jadi gak sayang lagi. Sayang nya ayah sama ibu jadi di bagi sama adek nya."

__ADS_1


"Dengerin ayah, walaupun Radit punya adek. Ayah gak akan pernah ngurangin sayang ayah buat Radit, Radit kan jagoan ayah," kata Ramon. Pria itu mencoba membuat putranya mengerti.


Alasan Ramon belum ingin menambah momongan semata-mata memang karena putranya, yaitu Radit. Ia tidak ingin, putranya itu merasa kurang kasih sayang seperti dirinya yang sedari kecil sudah tidak di perduli kan ayah dan ibunya. Bahkan sampai di titipkan pada nenek nya.


__ADS_2