Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
BASRENG!


__ADS_3

Setelah Laras hamil, Arkan menjadi begitu posesif. Ia tidak membiarkan istrinya beraktivitas bebas seperti biasa.


"Yank, jangan kerjain itu!"


"Yank! Itu gak boleh,"


"Jangan makan itu!"


"Jangan kayak gini!"


Hingga membuat Laras pasrah pada suaminya itu.


"Ini itu, semuanya gak boleh! Terus boleh nya apa mas?" protes Laras dengan kesal.


"Boleh nya istirahat aja," kata Arkan. "Mas gak mau kamu kecapekan."


"Ya allah, mas. Laras tu pengen keluar rumah, pengen berjemur. Pengen kesana kemari kayak Hesti!" pekik Laras. Wanita itu merasa gila di kurung suaminya di dalam rumah, bahkan mau pergi keluar pun selalu di antar dan di awasi.


Melihat istrinya yang kesal dan hampir menangis, akhirnya Arkan berinisiatif mengajak istrinya itu ke kantor.


"Jangan nangis," ucap Arkan. "Ikut mas ke kantor, mau?" tawar pria itu.


"Mau," kata Laras. "Mas gendong ya!" pintanya dengan manja.


Arkan tersenyum, ia segera menggendong istrinya itu keluar rumah. Ia mengajak istrinya itu untuk pergi ke perusahaan.


Laras pun tersenyum senang, tampak wanita itu menyalakan ponselnya dan mengirim pesan pada Erland.


"Ngapain?" tanya Arkan pada istrinya yang tersenyum sembari menatap layar ponsel.


"Gak ngapa-ngapain," jawab Laras, ia segera mematikan ponsel nya itu dan menyimpan nya di dalam saku pakaian yang ia kenakan.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Arkan berhenti di parkiran perusahaan anak cabang SUDRAJAT GRUP.


Laras buru-buru turun dari mobil itu dan meninggalkan suaminya yang masih berada di dalam.


"Sayang, jangan lari-lari!" tegur Arkan pada istrinya yang seperti anak kecil. Wanita hamil itu tidak mendengarkan perkataan suaminya, ia terus berlari menemui Erland yang sudah menunggunya di pantry perusahaan itu.


Arkan yang mengambil barang-barang nya di dalam mobil itu, menjadi kehilangan jejak istrinya. "Kalian lihat istri saya?" tanya Arkan pada karyawan yang juga baru masuk ke dalam perusahaan itu.


"Tidak, Tuan!" jawab karyawan itu sembari menundukkan kepala mereka.

__ADS_1


"Ya sudah, sana pergi!" usir Arkan dengan nada datar. Buru-buru para karyawan itu menyingkir dari hadapan Arkan.


"Kemana dia?" guman Arkan sembari melangkah memasuki lift. Karena ia pikir, istrinya itu sudah lebih dulu menuju ruangannya.


Saat tiba di ruangannya, Arkan segera mencari keberadaan istrinya. Tapi ternyata, ruangan itu kosong. "Kemana dia?"


Arkan pun mengubungi staf dan beberapa karyawan yang lain.


"Kalian yang melihat keberadaan istri saya, antarkan kemari!" perintah Arkan.


Di satu sisi Arkan sedang kebingungan mencari keberadaan istrinya, di sisi lain Laras sedang tertawa cekikikan bersama Erland.


"Mas Arkan pasti lagi nyariin Laras," kata Laras.


"Sesekali, biarin aja," balas Erland. "Lagian, istri pengen apa-apa gak di turutin malah di marahin."


"Hehee.. Nanti kalau Mas Arkan marah, kakak belain Laras!"


"Sip, nanti kakak pawangin dia," kata Erland sembari mengacungkan jempolnya. Pria itu pun mengusap rambut Laras dengan gemas.


"Bodohnya aku!" Arkan menepuk jidat nya. "Kenapa gak ku cek dari tadi?" Arkan segera memutar rekaman video di laptopnya.


Saat sudah tiba di pantry itu, Arkan melangkah dengan begitu pelan. Ia mendengar suara tawa Istrinya dan Erland yang duduk dan bersembunyi di balik pembatas antara pantry dan pintu masuk ruangan itu.


"Ihihihik.. Pasti Mas Arkan kesel sekarang," kata Laras dan terkikik-kikik. "Huaahh.. Pedes kak."


Erland segera memberikan botol air mineral pada Laras. "Minum, nanti tersedak!"


"Oh! Kalian disini?" tiba-tiba saja, Arkan yang berdiri di belakang Erland dan Laras angkat bicara.


"Hah? Kok ada suara Mas Arkan?"


"Buang, cepet buang!" perintah Erland pada Laras.


"Sayang kak, dikit lagi!" ujar Laras.


"Apa itu yank?" Arkan segera merebut sesuatu yang ada di tangan Laras. "Apa ini, Er?" Arkan beralih pada Erland yang saling lirik dengan Laras.


"Itu BASRENG!" sahut Erland dan Laras bersamaan.


Arkan pun segera membuka dan menjilat makanan itu. Sesaat kemudian, mata Arkan melolot lebar seakan ingin keluar dari tempatnya.

__ADS_1


"Er, kok kamu kasih Laras makanan kayak gini sih? Ini tu pedes, gak baik buat dia! Makanan ini gak sehat!" Arkan melempar bungkus snack itu dengan kesal.


"Lah! Dia mulai, semua makanan di bilang gak sehat," guman Erland. Pria itu menatap lesu pada Arkan yang terlalu cemas berlebihan.


"Awas ya! Kalau sampai istriku sakit perut, tanggung jawab!" tunjuk Arkan. "Sini!" perintah Arkan pada istrinya.


"Gak mau! Laras mau sama Kak Erland dan Hesti aja, sama mas gak enak. Mas suka larang-larang Laras," kata Laras tak kalah ketus dan tegas dari suaminya.


"Yank, kamu kenapa jadi bandel kayak gini sih?" Arkan kembali berbicara lembut kepada istrinya.


"Mas tuh gak sayang sama Laras, kemaren Laras pengen makan di rumah Pak RT gak boleh, terus Laras pengen makan sate puyuh yang beli di pinggir jalan itu gak boleh. Semalam Laras minta basreng gak boleh!" pekik Laras.


Erland yang mendengar kekesalan Laras menjadi melongo. Ia tidak menyangka jika Arkan benar-benar posesif dan juga over protektif.


"Lagian kamu aneh yank, masa mau makan di rumah Pak RT. Kan malu, kesannya mas kayak gak kasih kamu makan," kata Arkan. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, ia begitu kesal dengan Erland yang malah menuruti keinginan istrinya.


"Namanya orang ngidam, Ar. Kan emang aneh-aneh," Erland angkat bicara. "Emang kamu mau, pas lahir anak mu ileran?"


"Mana ada anak baru lahir ileran? Jangan ngada-ngada, kalau anak ileran itu berarti mama nya aja yang jorok!" Arkan menatap jengkel pada Erland.


"Udah ah, Laras ngantuk," kata Laras tiba-tiba. Wanita hamil itu mendorong tubuh Arkan dan Erland yang menghalangi jalan serta langkahnya.


"Yank!" panggil Arkan pada istrinya itu.


"Kapok! Dia marah lagi, kasian deh lo!" cibir Erland sembari meninggalkan Arkan di pantry itu.


"Sialan!" maki Arkan. Tampak nya, Arkan sudah benar-benar kesal dan sudah dapat di pastikan, bahwa seluruh karyawan kantor akan kena imbasnya hari itu.


"Apa kalian lihat-lihat?!" bentak Arkan pada karyawan yang berada di area pantry itu.


"Tidak tuan!" sahut salah satu karyawan itu.


"Mau bubar atau saya tendang dari perusahaan ini?"


Buru-buru, semua karyawan kantor itu membubarkan diri mereka.


Di dalam kamar yang ada di ruangan kerja Arkan, Laras merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar itu.


"Mas Arkan kenapa sih? Kok Laras gak boleh makan apa-apa, tiap hari Laras cuman di kasih susu, roti, nasi, ayam, ikan, itu-itu mulu! Laras juga kan pengen makan sayur, sambel, minum es, jajan snack sama yang lainnya juga."


"Laras aduin sama Mama dan Papa aja deh!"

__ADS_1


__ADS_2