
Arkan dan Laras yang berada di dalam dekapan Mama Rina, hanya bisa diam. Mereka cukup terkejut dengan kedatangan dan aksi dari Mama Rita itu.
"Mama janji, setelah ini akan berlaku baik sama Laras. Tolong maafkan Mama, dan beri kesempatan," kata Mama Rina dengan tubuh yang terus bergetar.
"Arkan!" panggil Papa Han kepada putranya. Arkan menoleh kepada Papa nya itu.
Mama Rita melepaskan dekapannya. Ia membiarkan putranya itu berbicara dengan suaminya.
"Iya, pa?"
"Besok lusa, kamu akan papa kirim ke den hagg untuk melakukan pengobatan!" jelas Papa Han. Ia sudah menemukan dokter spesial terbaik di dunia, itu semua berkat kerja para anak buahnya yang memang dapat di andalkan.
Deg! Laras dan Arkan semakin di buat terkejut.
"Apa maksud papa?" tanya Arkan.
"Jangan pura-pura dan menutupinya lagi, papa sudah tau semuanya. Erland sudah menceritakan segalanya," kata Papa Han. Membuat Arkan melirik Erland yang berdiri sembari bersedekap dada di ambang pintu ruang tengah rumah itu.
Jujur saja, Arkan masih takut melihat wajah Erland. Pria itu bukan hanya asisten serta sahabatnya, tapi sudah seperti tukang pukul pilihan. Yang sekali pukul langsung membuat tersungkur.
"Mama dan papa sudah tau semuanya, tolong maafkan kami," kata Mama Rita.
"Laras, kemari!" panggil Papa Han pada anak menantunya itu.
"Iya, pa!" sahut Laras sembari berjalan mendekat.
"Terimakasih, karena kamu telah merawat, menemani, menyayangi, mencintai serta dengan tulus menutupi kekurangan putra papa," kata Papa Han. "Tapi, mulai dua hari kedepan. Papa akan memisahkan kalian!"
Mendengar kata memisahkan, airmata Laras luruh begitu saja. Hatinya terasa sakit, keluarga itu akan memisahkan dirinya dan Arkan. "Tapi kenapa? Apa Laras udah gak di butuhkan?" tanya Laras dengan lirih.
"Kalian gak akan bisa memisahkan Arkan dan Laras!" sahut Arkan cepat. Pria itu segera mendekati istrinya dan memeluk tubuh itu dengan erat.
"Dengarkan dulu! Jangan langsung memotong dan mengambil kesimpulan, papa belum selesai berbicara!" Papa Han geleng-geleng kepala melihat kedua anak itu. "Laras ingin Arkan sembuh, kan?" tanya Papa Han kemudian.
"Mau, pa," kata Laras.
"Kalau Laras ingin Arkan segera sembuh, maka biarkan Papa mengirimnya ke Belanda. Dia akan menjalani pengobatan nya di sana!" jelas Papa Han.
__ADS_1
"Tapi, pa-" belum lagi Arkan menyelesaikan perkataannya. Papa Han segera memotongnya.
"Gak ada tapi-tapian! Kalian harus ikhlas menerima perpisahan ini, papa lakukan semua ini buat kebaikan kalian kedepannya!" jelas Papa Han dan tidak dapat di bantah.
"Pa, apa Laras gak boleh ikut?" tawar Arkan. Ia tidak ingin berpisah dengan istrinya itu.
"Kalau dia ikut, kamu akan malas menjalani pengobatan kamu!" cetus Papa Han. "Tapi, kalau dia tinggal disini. Maka, kamu bisa fokus menjalani pengobatan dan berharap bisa cepat pulang untuk bertemu dia."
Erland yang berada di ambang pintu ruang tengah itu, menyunggingkan sedikit senyumnya. Ia senang, akhirnya Papa Han dapat memberi solusi yang baik untuk Arkan dan Laras.
"Gimana Laras! Kamu setuju?" tanya Papa Han kepada Laras yang diam mematung.
"Laras setuju, pa. Apa lagi, ini semua demi kebaikan Laras dan Mas Arkan," ucap Laras dengan lirih.
Setelah mendengar kata setuju dari bibir istrinya, maka Arkan terdiam. Ia tidak lagi berani protes!
.
.
.
Seperti saat ini, ia sedang di paksa melayani seorang pria separuh baya. Padahal, ia baru saja selesai melayani tamu lain.
"Om, kasih Maya waktu istirahat. Sebentar aja," pinta Maya dengan wajah memelas pada pria separuh baya itu.
"Nunggu kamu selesai istirahat, keburu hilang selera saya!" cetus pria separuh baya itu sembari membuang puntung rokok nya ke lantai kamar.
Pria separuh baya itu menjambak rambut Maya dan mendorong tubuh Maya ke atas ranjang dengan kasar.
"Auhhh! Sakit om, tolong lepas," rintih Maya sembari menahan rambutnya yang seakan ingin terlepas dari kulit kepalanya. "Ampun om!" Maya memohon dan mengiba kepada pria separuh baya itu.
Pria separuh baya itu terus mendesak Maya hingga membuat Maya pasrah dengan perlakuan liar pria itu.
Dengan paksa, pria separuh baya itu melepaskan tentop dan rok selutut yang dikenakan oleh Maya. Membuat Maya terbaring polos di atas ranjang.
Pria separuh baya itu meneguk ludah saat melihat tubuh polos Maya yang berisi. Bekas lebam dan luka di tubuh itu, tidak mengurangi kadar pesonanya.
__ADS_1
Dengan penuh napsu, pria itu menjamah tubuh Maya. Ia menyusuri setiap inci tubuh Maya menggunakan bibirnya. Maya hanya bisa memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya saat merasakan sakit dari kec*pan dan gigitan kecil yang di berikan pria itu.
Jika tadinya Maya selalu di perlakukan dengan lembut dan baik oleh para pria yang membooking nya dengan harga yang gak kaleng-kaleng. Kini, malah berbanding terbalik. Sehari, ia bisa melayani banyak pria dengan harga yang rendah, sudah seperti barang grosiran cuci gudang saja.
"Aucchhh! Pelan-pelan om, rasanya sakit banget," ucap Maya dengan lirih. Bagaimana tidak, pria separuh baya itu menggigit bagian bawahnya dengan begitu liar. Jika, di awal Maya selalu mend*sah nikmat saat menerima sentuhan seorang pria. Maka, kini ia akan menangis sedih meratapi hidup dan takdirnya yang begitu buruk.
Setengah jam kemudian, pria separuh baya itu sudah mencapai puncaknya. Ia melempar uang 100 ribuan beberapa lembar pada Maya, sebagai tips untuk perempuan itu. Lain dengan bayaran utamanya saat ini, uang itu akan selalu masuk kedalam rekening Mommy Jeny.
Setelah itu, pria separuh baya itu memakai pakaiannya dan meninggalkan Maya seorang diri.
Sepeninggalan pria itu, Maya menarik kain yang ada di sampingnya. Ia menutupi tubuhnya yang polos. Airmata nya mengalir deras.
"Ya tuhan, Maya gak kuat lagi," ucapnya. "Kalau ini hukuman atas dosa yang udah Maya perbuat, tolong ampuni Maya dan cabut saja nyawa Maya. Maya udah bener-bener gak sanggup." airmata itu terus mengalir seakan tak pernah mengering.
Maya menyeka airmata nya, setelah melihat gunting yang ada di atas nakas kamar itu. Gadis itu segera beringsut dan meraih gunting itu.
"Mungkin dengan begini, aku gak akan merasakan derita ini lagi!" Maya mengarahkan gunting itu pada urat nadi nya.
Bertepatan dengan itu, seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Maya.
"Nona!"
Maya terkejut dan menyembunyikan gunting itu di belakangnya.
"Nona, apa yang kamu lakukan? Jangan bertindak bodoh!" orang itu melihat barang yang di sembunyikan Maya di belakangnya dan merebutnya dengan paksa.
"Jangan, Jo! Biarin aku mati, aku udah gak sanggup lagi," kata Maya sembari menahan tangan Joe yang sudah memegang gunting itu.
"Kalau mau mati, gak begini caranya!" cegah Joe. Joe adalah pria muda partner ranjang Maya sebelumnya. Anak desa yang bekerja sebagai bodyguard Mommy Jeny dan khusus melayani Maya saja.
.
.
.
Mau Neng bikin meninggoy itu Maya, tapi kok kasian yak? Hahahaa!
__ADS_1