
Dua bulan setelah kejadian di hotel itu, Ramon memutuskan hubungannya dengan Diana, setelah Diana mengandung dan meminta di nikahi.
“Kak, Dian hamil. Kakak nikahin Dian, ya,” kata Diana sembari menggenggam jemari Ramon.
“Hamil? Nikah? Hahaha!” Ramon tertawa. “Gak mungkin lah kita nikah sekarang, Papaku minta aku pindah ke London besok. Kalau kamu minta aku nikahin kamu, kamu harus nunggu aku 3 tahun lagi, setelah aku meluluskan study-ku!”
“Jadi, kakak gak mau tanggung jawab?!” Mata Diana mulai berkaca-kaca. Gadis itu ketakutan, kedua orangtuanya pasti akan sangat marah dan kecewa setelah mengetahui dirinya mengandung.
“Aish! Gimana aku jelasinnya, aku tuh bukan gak mau. Tapi tepatnya, gak bisa. Aku masih pengen nikmatin masa lajang aku, aku masih pengen lanjutin study aku dulu. Baru nikah,” kata Ramon.
“Terus, Diana harus gimana? Diana takut,” kata Diana dengan airmata yang terus menetes.
“Mendingan, kamu coba temuin Erland. Ajak dia balikan!” ujar Ramon.”Kali aja dia mau, iya kan?”
Dengan bodohnya, Diana datang ke kediaman orangtua Erland atas usulan Ramon.
“Tante, Om. Kak Erland nya ada?” tanya Diana pada kedua orangtua Erland.
“Gak ada, orangnya masih kerja. Mungkin, bentar lagi pulang,” kata Bu Rahayu.
Ibu Rahayu sudah mendengar semua cerita dari Erland. Bahwa, Erland sudah membatalkan pertunangan mereka. Karena Erland memergoki Diana berselingkuh bahkan melakukan hubungan terlarang dengan teman Erland sendiri.
“Om, tante, tolong bujuk Kak Erland agar gak batalin pertunangan kami,” kata Diana. Dengan tidak tahu malunya, Diana memohon kepada ayah dan ibu Erland.
“Kenapa harus ibu dan ayah yang membujuknya? Kami gak punya hak untuk menentukan, semua pilihan afa di tangan Erland,” kata Pak Budi. Ayah dari Erland.
“Diana mohon, bantu Diana,” ucap Diana. Ia terus memohon pada kedua orangtua Erland.
“Asalamualaikum, ibu, ayah!” Erland yang baru saja pulang, memberi salam dan masuk kedalam rumah.
“Waalaikum salam!” sahut Bu Rahayu dan Pak Budi bersamaan.
“Kak Erland!” melihat Erland yang datang. Diana segera menghampiri dan memeluk lelaki itu.
Dengan kasar, Erland melepaskan tangan Diana yang melingkar di tubuhnya. “Janhan sentuh aku!” tegas Erland.
“Kak, tolongin Dian. Dian hamil,” Diana menangis di hadapan Erland dan kedua orangtua nya.
__ADS_1
“Kenapa minta tolong sama aku? Bukankah di saat kamu tidur sama dia, kamu sama sekali gak mikirin aku kan?” Dengan perasaan getir, Erland menjauh dari Diana yang duduk bersimpuh di lantai rumah itu.
“Kak, Diana mohon,” kata Diana.
“Maaf! Aku bukan tempat persinggahan, Diana. Aku juga bukan tempat sampah!” tegas Erland. “Ibu, ayah! Tolong antarkan Diana ke pintu keluar rumah ini. Erland capek, pengen istirahat!” Erland pergi menuju kamarnya.
Sedangkan Diana, setelah Erland masuk kedalam kamarnya. Ia pun pergi meninggalkan rumah itu, ia menyeka airmata nya yang terus menetes. Rasa menyesal sangat membebani hatinya.
Erland yang menatap dan memandang kepergian Diana dari jendela kaca kamarnya tetap diam. Sebenarnya, ia merasa begitu kasihan. Tapi, untuk menikahi Diana sangatlah tidak mungkin. Ia tidak ingin mengakui dan bertanggung jawab atas dosa dan kesalahan orang lain.
Flashback off
“Sayang, kamu gak di apa-apain kan?” Arkan mendekati istrinya yang masih berada di balik punggung Erland
“Enggak apa-apa,” kata Laras. Perempuan itu mendekat pada suaminya. Arkan menarik Laras kedalam dekapannya.
“Besok, kalau mau tidur. Pindah ke kamar aja, kamarnya di kunci,” kata Arkan. “Mas takut banget, kamu kenapa-kenapa! Kalau sampe terjadi sesuatu sama kamu, mas gak maafin diri mas sendiri.”
“Laras gak di apa-apain kok tadi. Laras cuman kaget aja, pas bangun liat Kak Ramon ada didekat Laras.” Jelas Laras, ia tidak mengatakan semuanya pada Arkan dan Erland. Ia tidak ingin, terjadi keributan dan pertengkaran di antara ketiga pria itu.
.
.
.
“Di mana Diana sekarang? Apa kabar dia juga jani yang dia kandung saat itu? Pasti anak itu sekarang udah besar,” batin Erland. “Ckk! Kenapa aku jadi ingat perempuan itu? Ini semua pasti gara-gara kemunculan Ramon sialan itu!”
“Bang, kau kenapa?” tegur Hesti. Istri Erland segera naik ke atas ranjang dan membaringkan kepalanya di kaki Erland.
“Ehh! Busyett.. Nih istri gak pengertian betol, datang-datang main tidur aja,” kata Erland. Ia mencubit hidung Hesti.
“Bukan gak pengertian, Hesti cuman jaga-jaga aja. Siapa tau, abang lagi melamunkan perempuan lain!” cetus Hesti. Seakan ia bisa membaca pikiran suaminya. “Bisa rugi hati dan perasaan aku.”
“Emangnya kalau abang mikirin perempuan lain, kenapa?”
“Gak boleh bang, jangan berpikir nak nambah bini, kau! Ku putong ini kau punya burung puyuh!” Hesti mer*mas anak puyuh suaminya itu.
__ADS_1
“Auuuuu!” pekik Erland terdengar hingga terdengar sampai ruang depan. “Ampun!”
“Jangan macam-macam, bang!” cetus Hesti.
“Enggak, gak ada niat juga abang nak nambah istri,” kata Erland. “Punya satu aja udah HMMMM banget. Apa lagi kalau mau nambah, bisa-bisa mati abang!”
“HMMMM yang abang maksud ini apa?” tanya Hesti.
“Hmmm repot nya, yank. Apa lagi,” kata Erland. Ia menyebut istri dadakannya itu dengan sebutan sayang.
“Hah? Apa tadi, bang?”
“Sayang lah, apa lagi?” Erland menatap horor pada Hesti. “Kira-kira aja abang nak panggil sayang sama istri tetangga. Bengak pula!” Erland menoyor kepala istrinya itu.
“Abang kenapa sih, suka banget noyor-noyor kepala Hesti? Kita baru empat hari loh kawin, tapi abang udah berapa kali aja noyor-noyor kepala. Lama-lama geger otak pula aku!” sungut Hesti. “Sini, aku balas. Biar kita sama-sama geger otak!”
“Eh! Durhaka loh! Perlakuin suami kayak gitu!”
“Bang, Hesti mau tanya,” kata Hesti. “Itu, Laras kenal di mana sama Arkan?” tanya nya.
“Yang abang tau sih, Laras itu pernah ketabrak sama mobilnya Arkan. Terus Laras di bawa Arkan ke rumah sakit,” kata Erland.
“Oh, yang kata juragan Karto kecelakaan dan di kabarkan meninggal itu.” Hesti mengingat di mana masa dirinya menangisi Laras.
“Iya mungkin, dari sana juga mereka jadi deket terus jadian. Papa Han suruh Arkan bawa Laras kerumah, ehh sebulan abis itu, mereka dinikahin,” kata Erland.
“Gak nyangka aku, bang. Aku pikir, Laras udah ninggalin aku. Nangis kejer aku sehari semalam,” ucap Hesti tanpa malu.
“Gak kering apa airmata nya?” ledek Erland.
“Abang jangan ngeledek, Hesti nangis karena Hesti sayang sama Laras,” kata Hesti. “Kasian si Laras, dulu waktu masih kecil, ibunya meninggal. Pas dia kelas 3 SMA, ayah nya nyusul meninggal juga.” Tanpa diminta, Hesti yang bar-bar menceritakan semua tentang Laras pada Erland.
“Malang banget nasipnya Laras,” batin Erland. “Kalau aja Tia masih idup, pasti seumuran dia. Sikap Laras yang lembut dan perhatian, sama persis kayak Tia.” Erland kembali teringat pada adiknya yang sudah lama meninggal.
***
Sembari nunggu update, mampir ya di karya kakak online Neng yang ada di bawah ini! Di jamin gak kalah seru!
__ADS_1