
"Auuhhh.. Sakit mas, perut Laras sakit banget," rintih Laras. Laras yang di bopong Arkan turun dari atas gedung rumah sakit itu terus merintih kesakitan. Tangan nya mencengkram punggung Arkan dengan begitu keras.
"Mas mohon kamu harus bertahan sayang," ucap Arkan.
Setelah sampai di IGD Arkan membaringkan tubuh istrinya ke atas ranjang dengan perlahan.
Dokter Danang pun segera memeriksa keadaan Laras. Setelah memeriksa keadaan Laras, Dokter Danang hanya bisa geleng-geleng kepala. "Nona Laras mengalami kontraksi!"
"Ko-ko-kontraksi? Artinya istri saya mau melahirkan kan Dokter?" tanya Arkan dengan dada yang naik turun.
"Mas.. Punggung Laras sakit," rintih Laras, wanita itu tidak bisa diam di atas ranjang tempatnya berbaring.
"Yang kuat sayang, kamu pasti bisa," ucap Arkan di telinga istrinya.
Karena tak kuasa menahan sakit di sekujur tubuhnya, Laras pun mengamuk. Wanita itu bangkit dari ranjangnya dan membanting barang-barang yang dapat ia raih dan sentuh.
"Ya tuhan.. Akkkhhhh.. Apa dosaku?!" pekik nya.
Arkan berusaha untuk menenangkan istrinya, ia mendekap tubuh istrinya dengan paksa. "Minggir mas! Jangan sentuh Laras." usir Laras pada suaminya.
"Sayang, istigfar. Jangan kayak gini!"
"Aucchhhh.. Ya tuhan!" pekik Laras.
Melihat keadaan Laras yang sudah tidak terkendali, Dokter Danang segera mengambil tindakan. Dokter itu memberi Laras suntikan penenang.
"Tolong maafkan saya," kata Dokter Danang sebelum ia menyuntikan obat pada pergelangan tangan Laras yang di tahan oleh Arkan.
__ADS_1
Perlahan, tubuh Laras melemah. "Istigfar sayang," bisik Arkan di telinga istrinya dengan begitu lirih.
"Astagfirullah.. Astagfirullah.. Astagfirullah hal'azim ya allah."
Setelah Laras tidak sadarkan diri, Arkan segera bertanya pada Dokter Danang. "Dokter, bagaimana keadaan istri saya dan bayi kami? Apa gak akan terjadi apa-apa sama bayi nya?"
"Berdo'a lah, semoga tidak terjadi apa-apa pada keduanya," kata Dokter Danang. Pria itu menepuk pelan pundak Arkan dan pergi dari ruangan itu. Dokter Danang pergi menemui Erland, Papa Han dan Mama Rita yang menyaksikan semua penderitaan Laras dari kaca transparan ruangan itu.
"Tuan, saya ingin bicara serius," kata Dokter Danang pada Papa Han. "Bisa ikut ke ruangan saya?" Dokter Danang menatap wajah Papa Han dengan intens.
Papa Han pun menatap Mama Rita yang ada di sampingnya. Mama Rita pun hanya mengangguk kan kepalanya.
Papa Han segera mengikuti Dokter Danang yang berjalan menuju ke arah ruangannya. Sesampainya di ruangan Dokter Danang, Papa Han duduk di kursi tepat di hadapan Dokter itu.
"Tuan, saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting," ucap Dokter Danang dengan serius.
"Begini Tuan, untuk mengoperasi Nona Larasati. Saya sudah menyerahkan semua tanggung jawab ini kepada Dokter Jhonson, perkiraan kami, Nona Larasati akan melahirkan dua bulan lagi. Tapi ternyata takdir berkata lain," kata Dokter Danang dengan wajah takut. Sebenarnya, sejak awal Dokter Danang memang begitu sungkan dan takut berbicara pada pemilik rumah sakit tempatnya bertugas.
"Lalu? Kenapa tidak kamu saja yang mengoperasi putri saya?" Papa Han mulai berbicara dingin pada Dokter Danang. Pria itu tidak ingin mendengar kata tidak sanggup dari bibir Dokter Danang.
"Saya dan para perawat rumah sakit ini tidak sanggup, tuan. Kami takut membuat kesalahan. Lagi pula, Nona Larasi tidak akan hanya melakukan operasi Cesar saja," kata Dokter Danang. "Dokter Jhonson lah yang ahli dalam bidang ini." jelas Dokter Danang.
"Kalau begitu, hubungi Dokter Jhonson. Pinta dia kembali ke tanah air malam ini juga!" perintah Papa Han. "Kalau dia tidak mau dan tidak bisa. Aku akan mencabut izin prakternya , dan akan aku pastikan dia tidak akan mendapatkan tempat dimana pun lagi!" ancam Papa Han.
Dokter Danang hanya bisa mengangguk sembari meneguk ludahnya dengan susah payah. Yang ia takutkan selama ini, akhirnya terjadi juga. Papa Han yang bersikap ramah dan penyabar akhirnya keluar tanduk dan berubah menjadi iblis yang menyeramkan.
"Saya akan menghubungi Dokter Jhonson sekarang juga!" Dokter Danang segera mrnguhungi Dokter Jhonson tepat di harapan Papa Han.
__ADS_1
"[Hallo Dokter Jhonson!]" sebut Dokter Danang.
"[Hallo, ada apa Dan?]" Terdengar suara dari seberang telpon.
"[Segera lah pergi ke bandara dan kembali ke tanah air, malam ini juga!]" Dokter Danang berbicara di sambungan telpon itu sembari melirik Papa Han yang ada di sampingnya.
Papa Han sudah tidak sabaran, pria separuh baya iti segera merebut ponsel Dokter Danang.
"[Hari sudah begitu larut disini, mungkin aku baru bisa kembali besok pagi,]"
"[Tidak ada tawar menawar, ini adalah perintah yang harus kau patuhi jika tidak ingin karier mu hancur besok pagi!]"
"[Papa!]" sebut Jhonson yang ada di seberang telpon. Dokter itu begitu terkejut setelah mendengar suara ayah angkatnya yang sudah mengurus serta membiayai hidupnya selama ini.
"[Kembali lah malam ini! Kami membutuhkan bantuan mu!]"
"[Iya pa, Jhonson akan kembali malam ini juga. Jhonson pastikan besok pagi-pagi sekali, Jhonson akam tiba di sana.]"
"Mati lah aku," guman Dokter Jhonson yang ada di negara sebrang.
"Ini ponselmu!" Papa Han memberikan ponsel itu kembali pada Dokter Danang.
Setelah itu, Papa Han keluar dari ruangan Dokter Danang. Pria separuh baya itu kembali menghampiri Istrinya dan juga Erland serta yang lainnya.
"Bagaimana, pa?" tanya Mama Rita.
"Laras akan segera menjalani operasi Cesar besok. Kita hanya perlu menunggu Jhonson pulang," kata Papa Han.
__ADS_1
"Jhonson?" tanya Erland. "Dia yang akan menangani Laras?" Erland tersenyum kecil. Ia begitu berharap, Jhonson bisa menyembuhkan Laras. "Semoga tuhan memberikan mukjizat nya melalui Jhonson." batin Erland.