Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
MAMA MENYESAL PUNYA PUTRA SEPERTI KAMU!


__ADS_3

"Keluarga pasien!" panggil Dokter yang menangani Laras.


"Saya su-" perkataan Arkan terpotong lantaran Erland lebih dulu mendekat dan menyahuti pekataan dokter.


"Saya kakak nya, Dokter Danang!" sahut Erland. Arkan terdiam, pria itu hanya menatap istrinya yang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang pasien.


"Bisa ikut saya ke ruangan, ada hal penting yang ingin saya bicarakan."


Erland berjalan lebih dulu mengikuti langkah Dokter Danang.


"Bagaimana keadaan adik saya, Dokter?" tanya Erland dengan wajah yang begitu khawatir.


"Mohon maaf sebelumnya, dengan berat hati saya menyampaikan berita ini," Dokter Danang menjeda perkataannya. Terlihat, dokter muda itu menghela napas berat sebelum melanjutkan perkataannya. "Adik anda, mengalami gagal ginjal."


"Gak mungkin, dokter pasti bercanda, dokter pasti salah!" Arkan menatap wajah Dokter Danang dengan tatapan tak percaya.


"Saya berharap prediksi saya salah, tapi itu lah kenyataannya. Pasien kekurangan cairan dan juga terlalu banyak mengonsumsi gula, hingga membuat ginjal nya tak dapat lagi menampung racun dalam tubuhnya." jelas Dokter Danang. "Kerusakan pada ginjal kanan nya sudah terlalu parah, dan harus secepatnya melakukan operasi pencangkokan ginjal!"


"Tapi adik saya sedang mengandung dokter!" Erland kembali angkat bicara.


Dokter Danang hanya menggeleng sembari memejamkan matanya. Tampak, dokter itu begitu pusing dan terlihat jelas dari raut wajah nya bahwa dia begitu panik.


Erland yang melihat Arkan berdiri di sampingnya, menjadi tersulut emosi.


Buk! Erland memukul perut Arkan dengan begitu keras, membuat Arkan terkejut dan jatuh tersungkur di lantai ruangan Dokter Danang.


"Ku bunuh kamu!" pekik Erland. Pria itu mengangkat Arkan agar bangkit dari lantai itu. Ia menyeret tubuh Arkan keluar ruangan.


Buk! Erland kembali memukul perut Arkan, bahkan bukan hanya perut akan tetapi juga wajah Arkan.


"Kamu gak berguna! Ini yang kamu bilang menjaga Laras, mencintai dan melindungi dia! Ini yang kamu bilang terbaik buat dia! Kamu udah menyakiti dia, kamu bikin dia meregang nyawa!" teriak Erland dengan keras. Bu Rahayu dan Pak Rahman begitu terkejut termasuk Hesti.


"Kalau sampai Laras gak bisa di sembuhkan, aku bakal tuntut kamu! Aku gak perduli siapa kamu, meskipun kamu putra tunggal SUDRADJAT. Aku pastikan, kamu bakal terima semua akibatnya!" Pekik Erland. Sepertinya pria itu benar-benar sudah hilang akal, ia sangat muak melihat tampang dan wajah Arkan.


"Erland, Arkan, ada apa ini?" Papa Han dan Mama Rita yang baru saja tiba, menjadi begitu terkejut saat melihat Arkan di pukuli oleh Erland. Bahkan, Arkan yang di pukuli hanya diam dan tak berkutik.

__ADS_1


"Erland, ada apa ini?" Papa Han meraih bahu Erland. Dengan perlahan. tubuh Erland melemah, ia turun dari atas tubuh Arkan yang ia duduki.


"Pa, Laras," Erland menangis sembari mendekap tubuh Papa Han.


Begitu juga dengan Arkan, tampak pria bodoh, angkuh dan posesif itu berjalan ngesot menuju posisi Mama Rita. Ia meraih kaki Mama Rita dan memeluknya. "Ma, tolongin Arkan. Tolong sembuhin Laras," ucap Arkan dengan airmata berlinang dan wajah yang penuh lebam dan juga darah.


"Ada apa ini? Kenapa dengan Laras, apa yang terjadi?" tanya Papa Han. Pria itu kebingungan melihat putra kandung dan juga putra angkatnya itu sama-sama bersimpuh dan menangis.


"Ada apa ini, Er? Kenapa kalian bertengkar, gak malu sama pasien lain?" Bu Rahayu dan Pak Rahman mendekat pada Erland, Arkan, Mama Rita dan Papa Han.


"Laras menderita gagal ginjal, pa," kata Erland. Pria itu semakin terisak.


"Apa?" pekik ke empat orang separuh baya itu.


"Dokter bilang, dia kurang cairan dan juga terlalu banyak mengonsumsi gula," ucap Erland.


Mendengar perkataan Erland, Mama Rita menghempaskan tangan putranya yang mendekap kaki nya. Ia menatap benci pada putranya itu. "Ini, ini yang kamu mau kan, Ar? Ini kan?" teriak Mama Rita, ia tak kalah histerisnya dari Erland. "Menyesal mama punya putra yang berhati batu kayak kamu!" Tak hanya menghempaskan tangan Arkan. Mama Rita juga mendorong tubuh putranya itu dari hadapannya hingga kembali terhempas ke lantai.


Setelah itu, semua orang meninggalkan Arkan sendirian di tempat itu. Arkan hanya bisa menangis dan menyesali semua perlakuannya yang keliru, rasa cinta dan kasih sayangnya malah membuat istrinya tersiksa dan menderita.


"Ma, pa.. Arkan mohon tolongin Arkan!" pekik Arkan.


Mama Rita dan Papa Han serta Erland dan di ikuti Pak Rahman juga Bu Rahayu segera masuk ke dalam ruangan rawat Laras. Tampak, wanita itu masih belum sadarkan diri.


"Ya allah, anakku," ucap Mama Rita sembari menyentuh dan meraih telapak tangan anak menantunya itu. Anak menantu yang dulu begitu ia benci, kini ia sayangi lebih dari anak nya sendiri. "Bangun nak, kamu adalah wanita yang kuat."


"Er, lebih baik kamu temani Hesti dulu. Biarkan kami menemani Laras disini," kata Pak Rahman, dengan berat hati Erland segera melangkah keluar dari ruangan itu. Ia menatap tidak suka pada Arkan yang berdiri di ambang pintu ruangan itu.


Di dalam ruangan rawat Hesti, Erland duduk termenung bahkan di ajak Hesti berbicara pun, ia seakan tidak mendengar.


"Bang, gimana keadaan Laras? Dia kenapa?" tanya Hesti.


"Ya tuhan.. Kenapa kebahagian dan penderitaan ini datang bersamaan. Aku bingung harus bagaimana? Di satu sisi aku begitu bahagia dengan kehadiran putriku, dan disisi lain hatiku begitu terasa sakit melihat penderitaan yang di alami dan di rasakan adik-ku Larasati." batin Erland. Ia begitu perduli dan menyayangi Laras, ia menganggap bahwa Laras sengaja di kirimkan tuhan sebagai pengganti sosok adiknya yang selalu ia rindukan.


"Bang, Hesti tanya. Jawab dong!" Hesti melepar suaminya yang duduk di sofa ruangan rawat itu dengan buah apel yang sudah ia gigit sedikit.

__ADS_1


"Apa yank?" tanya Erland. Pria itu begitu terkejut.


"Laras kenapa?" tanya Hesti.


Erland bangkit dan mendekati istrinya itu. Ia menceritakan penyakit yang di derita oleh Laras.


"Apa? Gagal ginjal? Gak mungkin bang, dokter pasti salah!" Air muka Hesti yang tadinya cerah, kini berubah mendung. Bahkan cairan bening menetes begitu saja dari kelopak matanya. "Adikku kuat, dia gak mungkin gagak ginjal. Laras itu hebat, jadi dokter pasti salah." Hesti segera beringsut dari ranjang nya dan hendak keluar dari ruangan itu.


"Sayang mau kemana? Kamu gak boleh kemana-mana! Kamu baru aja abis lahiran," kata Erland.


"Aku mau tengok in Laras, aku mau lihat kondisi dia," ucap Hesti.


"Jangan, kalau dia sadar dan lihat semua orang ada di sana. Dia pasti bakalan curiga kalau dia sakit, kasian dia. Buat sementara ini, jangan biarkan dia tau kalau dia sakit."


Mendengar semua penjelasan Erland, Hesti pun terdiam. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Laras.


Di dalam ruangan rawat Laras, tampak wanita itu mengerjapkan matanya perlahan. "Mas.." panggilnya.


"Sayang, kamu udah bangun? Ini Mama dan Papa," kata Mama Rita.


"Mas Ar.." panggil Laras lagi. "Laras mau sama Mas Ar, ma."


Papa Han dan Mama Rita saling melempar pandang.


"Panggilin Mas Arkan!" pinta Laras pada kedua mertuanya.


Arkan yang sedari awal berdiri di ambang pintu ruangan itu, segera menerobos masuk. Ia menghampiri istrinya, tak perduli dengan tatapan marah mama dan papa nya.


"Sayang!" sebut Arkan.


"Mas, Laras kenapa? Ayo kita pulang," ucap Laras dengan pelan. "Loh, muka mas kenapa?" Tanya Laras, wanita itu kaget setelah melihat pelipis dan sudut bibir suaminya berdarah dan juga wajah yang penuh lebam.


.


.

__ADS_1


.


STOP Bully! Yang gak suka sama jalan ceritanya. Bisa langsung tinggalkan tanpa komentar yang bikin author down dan malas lanjut nulis!


__ADS_2