Suami-Ku CEO Impoten

Suami-Ku CEO Impoten
YA.. YA.. YEAHH SAMUDRA! YA SALAM!


__ADS_3

Tiga bulan kemudian. Di kediaman Laras dan Arkan, tampak kedua orang itu tengah asik menimang putra mereka. Kini bayi itu sudah tumbuh seperti bayi pada umumnya, SAMUDRA PUTRA ARKANA itulah namanya.


"Mi, udah boleh belum sih?" tanya Arkan pada istrinya itu. Membuat istrinya menoleh dan mencari tahu maksud dari pertanyaan suaminya.


"Apanya, Pi?" tanya balik Laras.


"Itu nya, kan Papi kan udah hampir setahun puasa. Boleh buka puasa gak sih?" Arkan berbisik di telinga Laras, membuat Laras mengulum senyum. "Udah boleh belum?" tanya Arkan lagi, pria itu tampak begitu serius.


"Lah, emang selama ini yang bilang gak boleh siapa?" tanya balik Laras lagi. "Perasaan gak ada yang larang deh, juga gak ada larangan." terang Laras.


"Gak ada yang bilang sih, tapi kan mas tu kan ga bisa liat kamu sakit," kata Arkan.


"Mami kira, papi malah gak HMMM lagi liat mami. Atau juga malah balik lagi jadi Suamiku CEO Impoten season2." Laras menatap suaminya itu sembari tersenyum lebar. "Lagian Laras juga heran, kok mas bisa sabar banget puasa sampe 7 bulan lamanya?"


"Amit-amit, Mi. Emang mami mau, punya suami impoten untuk kedua kali nya?" sungut Arkan. "Demi kamu, yank. Mas gak mau kamu sakit, mas takut kehilangan kamu. Lagi pula di kamar mandi masih banyak sabun, kan?"


Mendengar keterangan suaminya itu, Laras semakin tersenyum lebar. "Ya kalau garisnya emang udah di coret dari sana nya, kenapa enggak, pi? Berarti kan emang udah jalan takdir kita," kata Laras. Wanita itu menyentuh wajah suaminya dengan jemarinya yang halus. "Maafin Laras ya, gak bisa layanin mas dengan baik."


"Kamu bisa dengan sabar nunggu mas bertahun-tahun lamanya, yank. Kenapa mas gak bisa? Kita berdua di ciptakan Tuhan untuk saling melengkapi, untuk saling mengisi dan menyempurnakan satu sama lain." terang Arkan. Jemari Laras kini sudah menyentuh bibir suaminya yang terus berbicara.


"Laras bangga punya laki-laki kayak, mas," ucap Laras dengan lirih.


"Yank, boleh kiss?" izin Arkan, Laras pun hanya mengangguk pelan. Dengan cepat, Arkan menarik tenguk leher istrinya dan memagut bibirnya dengan lembut. Tak hanya itu, Arkan pun menyesap dan ******* bibir tipis istrinya itu dengan penuh gairah.


"Eummm.. Mas.." lenguh Laras saat suaminya itu melepaskan pagutan mereka. "Samudra nya, mas."


"Mas pindahin dulu ke tempatnya, abis itu mas buka puasa ya!" Arkan menyipitkan matanya. Membuat Laras semakin tersenyum lebar.


"Ya sayang," kata Laras. Arkan pun segera memindahkan Baby S yang terlelap ke dalam box nya.


Setelah memindahkan putranya, Arkan kembali ke atas ranjang dan mengungkung tubuh istrinya. "Bismillah ya, yank," kata Arkan. Lagi-lagi Laras hanya tersenyum dan mengangguk.


'Cup!' Arkan mencium kening istrinya dengan penuh cinta. Pria yang sudah lama berpuasa itu, mulai menciumi dan menyapu seluruh area wajah istrinya.

__ADS_1


"Ahhh.." terdengar des*h*n kecil dari bibir Laras. Membuat Arkan kian bersemangat, dengan segera Arkan membuka kancing piyama istrinya. Permainan Arkan pun berjalan ke area leher lalu ke dua bukit istrinya yang tidak di bungkus oleh bra, Arkan bermain dengan lembut. Bahkan pria itu meninggalkan banyak jejak cintanya di area leher dan bukit itu.


Setelah cukup puas, Arkan pun membuka pakaiannya sendiri. Tampak, benda milik nya itu sudah berdiri kokoh dan siap bertempur. "Yank, sekarang ya," kata Arkan. "Ini sakit gak?" Arkan meraba bekas 2 operasi sekaligus di tubuh istrinya itu.


"Enggak, mas. Gak sakit kok," jawab Laras dengan mata terpejam.


Mendengar jawaban istrinya, Arkan pun mulai menempelkan dan hendak memasukan miliknya ke dalam milik istrinya yang sudah basah.


Tapi, baru saja benda pusaka itu hendak menembus sarangnya. Baby S terbangun dan menangis.


"Oekk.. Oekk.." tangis nyaring itu terdengar.


"Ya.. Ya.. Yeahh.. Samudra.." Buru-buru Arkan bangkit dari tubuh istrinya itu dan kembali memakai piyama nya dengan asal. "Ya salam, cucunya Pak Handoko."


Arkan mencegah istrinya yang hendak bangkit dari ranjang itu. "Sini aja, yank. Biar mas aja. Kamu tunggu aja," kata Arkan. Setelah memakai piyama nya, Arkan segera turun dan menggendong Baby S.


Laras di buat heran dengan suaminya yang menuju ke arah pintu sembari menggendong Baby S. "Papi, Samudra nya mau di bawa kemana? Dingin loh!"


"Gangguin istirahatnya mama sama papa loh, mas. Gak enak," kata Laras.


"Ya udah, mas kasih ke Kak Jhon aja kalo gitu!" ujar Arkan.


"Jangan!" cegah Laras. "Titipin mama aja deh, sebentar."


Semua orang berkumpul di kediaman Arkan dan Laras. Termasuk Jhonson, pasca operasi Laras. Baik Papa Han dan juga Arkan, tidak mengizinkan Jhon kembali Ke Singapura. Mereka meminta Jhon mengambil alih tanggung jawab rumah sakit pimpinan Sudradjat yang ada di negara itu. Jadi, mau tidak mau, Jhon pun mengambil alih semua tanggung jawab itu, apalagi keadaan Papa Han memang sudah tidak muda lagi. Lagi pula, siapa yang akan mengurus dan mewarisi semua itu kalau bukan Arkan dan Jhonson sendiri?


Tok.. Tok.. Tok..


Arkan mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh Mama Rita dan Papa Han. "Ma.. Pa.." panggilnya.


"Kenapa?" tanya Mama Rita sembari membuka pintu kamar itu. "Ehhh.. Cucu Oma!" Mama Rita segera mengambil alih cucunya itu dari dekapan putranya.


"Mama sama papa, gak lagi coba bikin adek untuk Arkan, kan?" Arkan menatap wajah Mama nya.

__ADS_1


"Enggak," kata Mama Rita.


"Kalau gitu, Arkan titip ya! Arkan mau mijitin Laras sebentar, heheeee." bohong Arkan.


"Alesan aja!" cetus Mama Rita. "Kalau mau bohong, benerin dulu piyama kamu yang ke balik!" tunjuk Mama Rita.


"Ehhh.. Kebalik? Heheee!" Arkan begitu malu setelah menyadari piyama nya itu terbalik.


"Udah sana pergi!" usir Mama Rita. "Biar mama yang urus Samudra. Tapi hati-hati dan jaga-jaga Ar, jangan bikin Laras sakit." Mama Rita mengingatkan Arkan, bahwa kondisi Laras baru sembuh dan pulih. Apalagi, bukan hanya bekas operasi Cesar di tubuh itu. Tapi juga ada bekas operasi pencangkokan ginjal.


"Iya, ma. Heheee!" Arkan segera pergi dari hadapan kamar mama dan papa nya itu dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di kamar, Arkan segera kembali ke atas ranjang dan kembali membuka pakaiannya lalu melempar pakaian itu dengan asal.


"Eumm.." lenguh Laras saat suaminya itu kembali mengigit kecil di area-area sensitif nya.


"Uhh.. Mas udah beneran gak tahan, mas langsung aja ya," ucap Arkan dengan wajah memerah. Lagi-lagi, Laras hanya mengangguk. Sepertinya, wanita itu juga sudah sama tidak sabarnya dengan suaminya.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara pintu kamar Arkan dan Laras di ketuk. "Ar, dot sama susu nya Samudra mana? Gimana mama mau urus nya kalau dot, susu sama perlengkapan nya masih di sini?" Mama Rita menunggu di depan pintu kamar itu.


"Huaa.. Sakitnya jadi aku," rengek Arkan sembari menyambar handuk dan melilitkan ie pinggangnya. Buru-buru pria itu mengeluarkan dot, susu, termos mini dan juga pakaian putranya dari kamar itu tanpa menampakan tubuhnya ke luar.


"Ma, udah semua kan?" tanya Arkan dari dalam kamar.


"Iya, udah," kata Mama Rita. "Jangan lupa, pintunya di kunci!" goda Mama Rita.


"Ini juga dari tadi udah di kunci!" gerutu Arkan.


Brak! Pria itu kembali menutup pintu kamar itu dengan kasar dan tidak sabaran.


"Astaga anak nya Pak Handoko!" Mama Rita segera membawa barang-barang cucunya dan pergi dari kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2